Beirut (ANTARA) - Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem mengatakan bahwa kelompok tersebut akan tetap "berada di lapangan" untuk menghadapi Israel, dan menolak perjanjian kerangka kerja yang ditengahi AS antara Lebanon dan Israel.
Dalam pernyataan yang disiarkan melalui saluran televisi milik Hizbullah, Al-Manar, Rabu, Qassem menyebutkan Hizbullah telah menggagalkan berbagai upaya yang ingin melenyapkan apa yang disebut kelompok itu sebagai "perlawanan", dan bahwa Israel "tidak akan mendapatkan stabilitas hingga pembebasan tercapai".
Menyebut kesepakatan kerangka kerja itu sebagai "tidak sah" dan "tidak konstitusional", Qassem mengatakan bahwa negosiasi tersebut melanggar prinsip-prinsip konstitusional dan hukum Lebanon.
Dia mengatakan kesepakatan itu "tidak akan berhasil" dan otoritas Lebanon tidak akan mampu mengimplementasikan ketentuan apa pun di dalamnya.
Pada 26 Juni, Lebanon dan Israel menandatangani kesepakatan kerangka kerja yang dimediasi oleh AS di Washington dengan tujuan mengakhiri permusuhan di sepanjang perbatasan.
Dalam pernyataan yang disiarkan melalui saluran televisi milik Hizbullah, Al-Manar, Rabu, Qassem menyebutkan Hizbullah telah menggagalkan berbagai upaya yang ingin melenyapkan apa yang disebut kelompok itu sebagai "perlawanan", dan bahwa Israel "tidak akan mendapatkan stabilitas hingga pembebasan tercapai".
Menyebut kesepakatan kerangka kerja itu sebagai "tidak sah" dan "tidak konstitusional", Qassem mengatakan bahwa negosiasi tersebut melanggar prinsip-prinsip konstitusional dan hukum Lebanon.
Dia mengatakan kesepakatan itu "tidak akan berhasil" dan otoritas Lebanon tidak akan mampu mengimplementasikan ketentuan apa pun di dalamnya.
Pada 26 Juni, Lebanon dan Israel menandatangani kesepakatan kerangka kerja yang dimediasi oleh AS di Washington dengan tujuan mengakhiri permusuhan di sepanjang perbatasan.





