Emiten penyedia alat kesehatan PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscribe) hingga 709 kali dalam penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia, Kamis (9/7).
Direktur Utama PRDL, Cristina Sandjaja mengatakan, tingginya minat investor tidak terlepas dari valuasi saham yang dinilai menarik serta fundamental perusahaan yang kuat.
"Kami sangat-sangat mengapresiasi animo dari para investor Indonesia," kata Cristina seusai seremoni IPO PRDL di BEI, Kamis (10/7).
Setelah resmi melantai di bursa, PRDL menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba dua digit pada tahun ini. Perseroan berencana meluncurkan sejumlah produk diagnostik baru yang belum tersedia di pasar kesehatan Indonesia mulai semester kedua 2026.
Cristina menuturkan, perusahaan optimistis dapat mempertahankan laju pertumbuhan di atas 20% seperti yang dicapai pada tahun lalu. Keyakinan itu muncul sembari tetap mencermati tantangan kondisi ekonomi dan makro domestik.
Dia menyampaikan, lebih dari 60% pelanggan PRDL berasal dari sektor pemerintah. Saat ini perusahaan telah memasok kebutuhan diagnostik ke lebih dari 7.000 puskesmas, rumah sakit dan laboratorium di berbagai daerah.
Untuk menopang pertumbuhan, perseroan akan mempertahankan kualitas layanan kepada pelanggan, memperluas jaringan distribusi, serta menghadirkan produk-produk baru.
PRDL saat ini memiliki sekitar 70 distributor yang menjangkau lebih dari 300 kabupaten kota di Indonesia. Namun, masih terdapat sekitar 200 daerah yang belum terlayani secara optimal. Karena itu, perusahaan berencana memperluas cakupan distribusi ke wilayah-wilayah tersebut guna memperbesar pangsa pasar.
Dari dana hasil IPO, sekitar 62% akan digunakan untuk melunasi utang yang sebelumnya dipakai untuk membiayai pembangunan fasilitas produksi baru. Fasilitas tersebut telah mulai beroperasi sejak April 2025.
Adapun belanja modal (capex) ke depan akan difokuskan untuk pembelian mesin-mesin penunjang produksi, sementara kebutuhan operasional akan diarahkan untuk pengadaan bahan baku guna mendukung peluncuran produk baru.
Potensi Payout Dividen Mirip PRDATerkait kebijakan dividen, Cristina mengatakan perseroan akan berkaca pada sister holding, PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) yang dikenal memiliki tingkat imbal hasil dividen yang relatif tinggi.
Menurut dia, manajemen memiliki aspirasi untuk membagikan dividen dengan rasio yang tidak jauh berbeda dengan PRDA. Kendati demikian, realisasi kebijakan tersebut akan bergantung pada kinerja penjualan dan profitabilitas perusahaan setelah IPO. “Semoga, harapan kami seperti itu,” kata dia.
Pada Tahun Buku 2025, PRDA menetapkan dividen sebesar Rp 144,75 miliar atau Rp 162,683 per saham dengan estimasi dividend yield sekitar 6,53%.
Sementara itu, dalam prospektus IPO disebutkan perseroan berkomitmen untuk membagikan dividen setiap tahun dengan rasio sebanyak-banyaknya 20% dari laba bersih setelah penyisihan untuk cadangan wajib yang dimulai dari Tahun Buku 2026 dengan tidak mengabaikan tingkat kesehatan perseroan
“Seluruh saham biasa atas nama yang telah ditempatkan dan disetor penuh, termasuk saham biasa atas nama yang ditawarkan dalam penawaran umum perdana saham ini, mempunya hak yang saham dan sederajat termasuk hak atas pembagian dividen,” tulis manajemen PRDL dalam prospektus IPO, dikutip pada Kamis (18/6).




