New York: Dolar Amerika Serikat (AS) berbalik melemah pada perdagangan Rabu waktu setempat setelah risalah rapat Federal Reserve (The Fed) dinilai bernada lebih dovish dibandingkan ekspektasi pasar.
Pelemahan tersebut terjadi meski permintaan terhadap dolar sebagai aset aman meningkat akibat memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Mengutip Investing.com, Kamis, 9 Juli 2026, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama turun 0,1 persen menjadi 100,99.
Risalah rapat Federal Reserve periode 16-17 Juni menunjukkan para pembuat kebijakan masih menghadapi ketidakpastian tinggi terkait prospek suku bunga.
Dalam dokumen tersebut, para pejabat menilai inflasi masih bertahan di level tinggi, antara lain dipengaruhi kenaikan harga akibat gangguan pasokan energi yang berasal dari konflik di Timur Tengah. Sejumlah peserta rapat bahkan mendukung kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Namun, mayoritas peserta juga menilai terdapat kemungkinan inflasi kembali bergerak menuju target 2 persen tanpa tambahan pengetatan kebijakan.
"Namun, sebagian besar peserta juga menunjuk pada skenario di mana, dalam konteks kondisi pasar tenaga kerja yang stabil, inflasi akan tetap tinggi karena permintaan yang kuat terkait AI, konflik di Timur Tengah, atau dampak tarif," demikian isi risalah rapat Federal Reserve.
Dalam skenario tersebut, hampir semua peserta menunjukkan beberapa penguatan kebijakan kemungkinan diperlukan untuk mengembalikan inflasi ke dua persen.
Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi umumnya mendukung penguatan dolar AS karena meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar.
Baca Juga :
Rupiah Ditutup ke Rp18.014/USD Rabu Sore(Dolar AS. Foto: Freepik)
Dolar Selandia Baru menguat, Yen Jepang melemah
Di pasar mata uang lainnya, dolar Selandia Baru menguat 0,4 persen menjadi USD0,5699 setelah bank sentral negara tersebut menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, sesuai ekspektasi pasar.
Otoritas moneter juga mengisyaratkan pengetatan kebijakan lanjutan masih mungkin dilakukan untuk membawa inflasi kembali ke target. Sementara itu, dolar Australia naik tipis ke USD0,6930.
Di sisi lain, yen Jepang melemah terhadap dolar AS. Pasangan USD/JPY naik 0,4 persen ke level 162,62, mempertahankan yen di kisaran yang dinilai rawan memicu intervensi otoritas Jepang.
Anggota Dewan Bank of Japan Toichiro Asada menegaskan masih diperlukan bukti yang lebih kuat mengenai inflasi yang didorong oleh permintaan domestik sebelum mendukung kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi normalisasi kebijakan moneter Jepang akan berlangsung secara bertahap.




