Bangli, Bali (ANTARA) - Panglipuran Festival Ke-13 Tahun 2026 menegaskan komitmennya sebagai ajang promosi pariwisata regeneratif yang menempatkan pelestarian adat, budaya, dan lingkungan sebagai fondasi utama pengembangan destinasi wisata.
Melalui tema "Harmoni Bumi Panglipuran: Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan, dan Regeneratif", festival ini diharapkan mampu memperkuat posisi Desa Wisata Panglipuran, Kabupaten Bangli, Bali, sebagai contoh pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat.
Bendesa Adat Panglipuran Wayan Budiarta saat pembukaan Panglipuran Festival, Kamis, mengatakan konsep pariwisata yang berkembang di Panglipuran sejak awal tidak dibangun semata-mata untuk memenuhi kebutuhan wisatawan, melainkan lahir dari komitmen masyarakat dalam menjaga adat, budaya, dan lingkungan yang diwariskan leluhur berdasarkan filosofi Tri Hita Karana.
Menurutnya, masyarakat Desa Adat Panglipuran secara konsisten mempertahankan tata ruang tradisional, rumah adat, hutan bambu, serta awig-awig (hukum adat) sebagai pedoman kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai tersebut menjadi kekuatan utama yang kemudian menarik perhatian wisatawan tanpa mengubah identitas desa.
Ia menjelaskan titik balik perkembangan Panglipuran terjadi pada 1993 ketika pemerintah menetapkan desa tersebut sebagai objek wisata.
Namun, sejak awal masyarakat sepakat bahwa pariwisata harus mengikuti nilai-nilai adat yang telah ada, bukan sebaliknya.
Konsep pengelolaan kemudian berkembang menjadi community based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat.
Baca juga: Desa Panglipuran ditetapkan sebagai Desa Pemajuan Kebudayaan
Baca juga: Wisatawan domestik dominasi kunjungan di Desa Wisata Penglipuran
Sejak 2012, warga Panglipuran tidak lagi menjadi objek wisata, melainkan pelaku utama yang menyediakan homestay, atraksi budaya, hingga layanan pemandu wisata.
"Pengunjung datang untuk merasakan kehidupan masyarakat yang sesungguhnya. Panglipuran bukan sekadar objek wisata, tetapi living museum yang tetap hidup dengan adat, ritual, dan budaya yang terus berjalan setiap hari," ujarnya.
Komitmen tersebut mengantarkan Panglipuran meraih berbagai penghargaan, mulai dari Kalpataru, Indonesia Sustainable Tourism Award, masuk dalam daftar Top 100 Sustainable Destination, hingga dinobatkan sebagai salah satu Desa Wisata Terbaik Dunia oleh UN Tourism pada 2023.
Budiarta menegaskan seluruh penghargaan tersebut bukan tujuan akhir, melainkan motivasi untuk terus menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan.
Pada penyelenggaraan Panglipuran Festival 2026, panitia mengusung konsep 4S, yakni Something to Do, Something to See, Something to Buy, dan Something to Learn. Konsep ini dirancang agar wisatawan tidak hanya menikmati atraksi, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar mengenai budaya dan kehidupan masyarakat Panglipuran.
Festival menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari parade budaya, pertunjukan seni, perlombaan tradisional, pameran UMKM, hingga lomba gebogan yang melibatkan desa-desa Bebanuan sebagai bentuk pelestarian hubungan historis masyarakat adat Bali.
Ia menjelaskan selain menjadi media promosi pariwisata, festival juga bertujuan melestarikan seni, adat, budaya, dan lingkungan, meningkatkan kompetensi pelaku pariwisata, serta menjadi ungkapan syukur masyarakat atas berkah yang diperoleh melalui pengelolaan desa wisata.
Melalui Panglipuran Festival 2026, Desa Wisata Panglipuran ingin memperkenalkan konsep pariwisata regeneratif yang tidak hanya menjaga keberlanjutan destinasi, tetapi juga mampu memulihkan lingkungan, memperkuat budaya lokal, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sebagai pelaku utama pariwisata.
Baca juga: Desa Wisata Penglipuran beri pengalaman turis sehari jadi orang Bali
Baca juga: Kemenbud: Desa Penglipuran Bali jadi contoh pelestarian budaya lokal
Melalui tema "Harmoni Bumi Panglipuran: Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan, dan Regeneratif", festival ini diharapkan mampu memperkuat posisi Desa Wisata Panglipuran, Kabupaten Bangli, Bali, sebagai contoh pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat.
Bendesa Adat Panglipuran Wayan Budiarta saat pembukaan Panglipuran Festival, Kamis, mengatakan konsep pariwisata yang berkembang di Panglipuran sejak awal tidak dibangun semata-mata untuk memenuhi kebutuhan wisatawan, melainkan lahir dari komitmen masyarakat dalam menjaga adat, budaya, dan lingkungan yang diwariskan leluhur berdasarkan filosofi Tri Hita Karana.
Menurutnya, masyarakat Desa Adat Panglipuran secara konsisten mempertahankan tata ruang tradisional, rumah adat, hutan bambu, serta awig-awig (hukum adat) sebagai pedoman kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai tersebut menjadi kekuatan utama yang kemudian menarik perhatian wisatawan tanpa mengubah identitas desa.
Ia menjelaskan titik balik perkembangan Panglipuran terjadi pada 1993 ketika pemerintah menetapkan desa tersebut sebagai objek wisata.
Namun, sejak awal masyarakat sepakat bahwa pariwisata harus mengikuti nilai-nilai adat yang telah ada, bukan sebaliknya.
Konsep pengelolaan kemudian berkembang menjadi community based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat.
Baca juga: Desa Panglipuran ditetapkan sebagai Desa Pemajuan Kebudayaan
Baca juga: Wisatawan domestik dominasi kunjungan di Desa Wisata Penglipuran
Sejak 2012, warga Panglipuran tidak lagi menjadi objek wisata, melainkan pelaku utama yang menyediakan homestay, atraksi budaya, hingga layanan pemandu wisata.
"Pengunjung datang untuk merasakan kehidupan masyarakat yang sesungguhnya. Panglipuran bukan sekadar objek wisata, tetapi living museum yang tetap hidup dengan adat, ritual, dan budaya yang terus berjalan setiap hari," ujarnya.
Komitmen tersebut mengantarkan Panglipuran meraih berbagai penghargaan, mulai dari Kalpataru, Indonesia Sustainable Tourism Award, masuk dalam daftar Top 100 Sustainable Destination, hingga dinobatkan sebagai salah satu Desa Wisata Terbaik Dunia oleh UN Tourism pada 2023.
Budiarta menegaskan seluruh penghargaan tersebut bukan tujuan akhir, melainkan motivasi untuk terus menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan.
Pada penyelenggaraan Panglipuran Festival 2026, panitia mengusung konsep 4S, yakni Something to Do, Something to See, Something to Buy, dan Something to Learn. Konsep ini dirancang agar wisatawan tidak hanya menikmati atraksi, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar mengenai budaya dan kehidupan masyarakat Panglipuran.
Festival menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari parade budaya, pertunjukan seni, perlombaan tradisional, pameran UMKM, hingga lomba gebogan yang melibatkan desa-desa Bebanuan sebagai bentuk pelestarian hubungan historis masyarakat adat Bali.
Ia menjelaskan selain menjadi media promosi pariwisata, festival juga bertujuan melestarikan seni, adat, budaya, dan lingkungan, meningkatkan kompetensi pelaku pariwisata, serta menjadi ungkapan syukur masyarakat atas berkah yang diperoleh melalui pengelolaan desa wisata.
Melalui Panglipuran Festival 2026, Desa Wisata Panglipuran ingin memperkenalkan konsep pariwisata regeneratif yang tidak hanya menjaga keberlanjutan destinasi, tetapi juga mampu memulihkan lingkungan, memperkuat budaya lokal, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sebagai pelaku utama pariwisata.
Baca juga: Desa Wisata Penglipuran beri pengalaman turis sehari jadi orang Bali
Baca juga: Kemenbud: Desa Penglipuran Bali jadi contoh pelestarian budaya lokal





