Pemerintah akhirnya meluncurkan bahan bakar B50 di Rest Area KM57, Karawang pada Kamis (9/7). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, membeberkan salah satu keunggulan signifikan dari bahan bakar berbasis minyak kelapa sawit tersebut.
Bahlil mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil pemantauan teknis, karakteristik B50 justru berpotensi lebih bersahabat terhadap komponen mesin kendaraan jika dibandingkan dengan pendahulunya, B40. Salah satu indikator utamanya terlihat pada masa pakai filter bahan bakar (fuel filter).
"Kalau B40 filter-nya diganti pada ukuran 10 ribu–20 ribu kilometer, kalau B50 ada yang 40 ribu kilometer belum diganti filter-nya," ujar Bahlil di sela-sela acara peluncuran di Karawang, Kamis (9/7/2026).
Lebih lanjut, kata Bahlil, B50 sudah dites selama enam bulan di berbagai jenis kendaraan, mulai dari lokomotif, kendaraan komersial dan penumpang, serta mesin kapal. "Dari kendaraan Asia hingga Eropa sudah dites menggunakan B50," katanya.
Pernyataan ini menepis kekhawatiran sebagian pelaku industri dan masyarakat mengenai dampak tingginya persentase campuran biodiesel terhadap performa mesin.
Namun, temuan yang disampaikan Bahlil menunjukkan adanya peningkatan kualitas formula atau teknologi adaptasi pada B50. Dengan masa pakai filter yang mampu menembus angka 40 ribu kilometer, efisiensi biaya perawatan kendaraan bagi konsumen, khususnya armada logistik dan transportasi berat, bisa ditekan secara signifikan.





