jakarta.jpnn.com - Pemuda Katolik dan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) mengecam aksi kekerasan yang terjadi di Papua.
Di antaranya ialah pembakaran pesawat misionaris AMA PK-RCY serta penembakan terhadap pilot Nicholas F Goselin, Pendeta Elianus Agimbau, dan ibu hamil Melkiana Duwitau.
BACA JUGA: GAMKI Dukung Pengesahan UU Polri, Perkuat Transformasi Lembaga dan Pelayanan Masyarakat
Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Stefanus Asat Gusma mengatakan tindakan kekerasan terhadap pelayanan kemanusiaan merupakan pelanggaran serius dan tidak bisa dibenarkan dalam keadaan apa pun.
"Kami berduka bersama gereja Katolik di tanah Papua atas gugurnya seorang pilot yang datang bukan untuk berperang, melainkan untuk melayani masyarakat di wilayah-wilayah terpencil,” kata Stefanus Asat Gusma, Kamis (9/7).
BACA JUGA: DPP GAMKI Minta Bupati Bantul Jamin Keamanan Ibadah Jemaah GMS Bantul
Stefanus Asat Gusma menjelaskan pembakaran pesawat misionaris dan pembunuhan terhadap pilotnya bukan hanya menyerang aset gereja.
“Namun, juga melukai harapan masyarakat yang selama ini bergantung pada pelayanan kemanusiaan tersebut," ujar Gusma.
BACA JUGA: Ketum GAMKI: Polri di Bawah Presiden Sesuai Semangat Reformasi
Sementara itu, Ketua Umum DPP GAMKI Sahat Martin Philip Sinurat mengatakan setiap nyawa manusia memiliki martabat yang harus dihormati dan tidak boleh direnggut.
"Kami mengecam segala bentuk kekerasan terhadap siapa pun, baik warga sipil, tokoh agama, tenaga kemanusiaan, aparat negara, maupun kelompok masyarakat lainnya,” kata Martin Philip Sinurat.
Martin Philip Sinurat menjelaskan tidak ada perjuangan yang memperoleh legitimasi moral ketika dibangun di atas pembunuhan dan teror. “Papua membutuhkan ruang dialog, keadilan, dan rekonsiliasi, bukan lingkaran kekerasan yang terus memakan korban," tegas Sahat.
GAMKI mendesak semua pihak menghentikan segala bentuk kekerasan, menjunjung tinggi martabat manusia, melindungi pelayanan kemanusiaan dan keagamaan, dan mengutamakan keselamatan masyarakat, terkhusus ribuan warga sipil yang mengungsi.
"Kami mendorong dilakukannya dialog damai yang melibatkan gereja, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat sipil. Papua membutuhkan keadilan dan perdamaian, bukan kekerasan yang terus berulang," kata Sahat.
Sementara itu, Ketua Gugus Tugas Papua PP Pemuda Katolik Melkior Sitokdana menyatakan rangkaian tragedi tersebut harus menjadi panggilan moral bagi seluruh bangsa Indonesia untuk menempatkan keselamatan manusia sebagai prioritas utama.
Melkior juga mendorong pemerintah mengambil langkah konkret untuk memperkuat pelayanan kemanusiaan di Papua.
"Kami mendorong pemerintah memperkuat kapasitas putra-putri orang asli Papua agar makin banyak mengambil peran sebagai pilot, tenaga kesehatan, guru, dan profesi pelayanan publik lainnya di wilayah-wilayah terpencil,” ujar Melkior Sitokdana. (jos/jpnn)
Redaktur & Reporter : Ragil




