Penerapan sistem Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM - AAS) mulai memberikan dampak nyata bagi efisiensi modal tani di Kabupaten Merauke. Para petani di Kampung Waninggap Kai Papua Selatan menyambut baik kehadiran inovasi budidaya modern tersebut.
Penggunaan alat sederhana seperti drum seeder mampu memangkas ongkos penanaman benih padi secara signifikan di lapangan. Biaya operasional yang semula mencapai Rp3 juta per hektare kini terpangkas drastis menjadi hanya Rp600 ribu.
Optimisme terhadap PM AAS juga datang dari petani yang mulai menerapkan metode tersebut. Abdul Rohim, petani asal Kampung Candarajaya, Distrik Kurik, mengatakan metode tanam menggunakan drum seeder atau paralon membuat proses tanam jauh lebih efisien dibandingkan metode tanam pindah yang selama ini digunakan.
"Kalau sebelumnya biaya tanam sekitar Rp3 juta per hektare, sekarang cukup sekitar Rp600 ribu. Jadi bisa menghemat sekitar Rp2,4 juta per hektare. Dari pertumbuhannya juga kelihatan lebih sehat dan anakannya lebih banyak," ujar Abdul Rohim dalam keterangan pers Kementan, Kamis (9/7/2026).
Sementara itu, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengungkapkan inovasi penanaman benih langsung ini dinilai jauh lebih menguntungkan ketimbang metode tanam pindah konvensional. Penurunan biaya produksi ini berjalan beriringan dengan jaminan pertumbuhan tunas padi yang terlihat jauh lebih seragam.
"Itu produksinya bisa naik dua kali lipat. PM AAS itu kombinasi antara metode Amerika, metode Indonesia, dan metode China. Itu kami teliti langsung. Produksinya bisa 12 ton atau katakanlah 10 ton per hektare," kata Mentan Amran.
Langkah efisiensi modal produksi ini menjadi bagian integral dari strategi besar kementerian memperkuat ketahanan pangan. Penurunan pengeluaran harian sawah diharapkan mampu mendongkrak ketahanan finansial keluarga petani di Papua.
Sebelumnya, berdasarkan analisis usaha tani, keuntungan bersih petani konvensional semula hanya bertengger di kisaran Rp20,79 juta per musim tanam. Namun melalui metode modern ini, keuntungan bersih yang diraup bisa meroket hingga mencapai Rp65,43 juta.
"Dulu biaya sekitar Rp13 juta, sekarang menjadi Rp15 juta, naik hanya sekitar Rp2 juta. Tetapi pendapatan bersih petani yang sebelumnya sekitar Rp5 juta per bulan meningkat menjadi Rp16,3 juta per bulan. Naik tiga kali lipat. Ini yang kita kejar," ujar Mentan Amran.
Akselerasi swasembada pangan nasional ditegaskan tidak hanya fokus mengejar peningkatan tonase produksi gabah semata. Pemerintah berkomitmen memastikan para pelaku usaha tani memperoleh margin keuntungan yang jauh lebih besar.
Baca Juga: Naik 3 Kali Lipat! Sistem PM-AAS Ubah Pendapatan Petani Konvensional Jadi Rp65,43 Juta
Baca Juga: Amran Borong Jagung Lokal Rp5.500/Kg untuk Amunisi Cadangan Pakan
"Hari ini kami kumpulkan kepala dinas, direktur wilayah, dan PPL se-Indonesia. Tujuannya adalah melakukan akselerasi intensifikasi melalui pertanian modern. Yang kita kejar adalah kesejahteraan petani. Pertanian modern harus bertransformasi menjadi pertanian yang menjadikan petani sejahtera," katanya.
Lebih lanjut, Amran mengungkapkan metode PM-AAS telah melalui uji coba selama dua tahun di lahan seluas sekitar 1.600 hektare di berbagai sentra produksi padi. Hasilnya menunjukkan produktivitas mencapai 9 hingga 12 ton gabah per hektare, jauh di atas rata-rata produktivitas nasional yang saat ini sekitar 5,5 ton per hektare.
"Metode PM-AAS ini sudah kita uji coba di 1.600 hektare. Produksinya ada yang 10 ton, bahkan mencapai 12 ton. Minimal 9 ton per hektare. Sekarang kita dorong diterapkan di daerah-daerah irigasi agar produktivitas meningkat signifikan," ujarnya.





