Jakarta: Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) meluncurkan Program GARUDA di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tujuannya meningkatkan pemberdayaan berbasis potensi lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Program ini menekankan bahwa pengentasan kemiskinan tidak cukup melalui bantuan sosial, tetapi harus diperkuat dengan pemberdayaan yang mampu meningkatkan keterampilan, membuka peluang usaha, dan menciptakan sumber pendapatan yang berkelanjutan," kata Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Kemenko PM, Abdul Haris, melalui keterangan tertulis, Kamis, 9 Juli 2026.
Abdul Haris juga mengajak seluruh pihak mempercepat penurunan kemiskinan melalui lima langkah utama. Yakni, memperkuat kualitas data, memastikan ketepatan sasaran intervensi, mengurangi beban pengeluaran masyarakat, meningkatkan pendapatan melalui pendidikan dan pemberdayaan ekonomi, serta membangun kolaborasi lintas sektor.
Baca Juga :
Menko Muhaimin Ajak PTN Kolaborasi Wujudkan Kemandirian Pangan"Hanya dengan sinergi yang kuat, kita dapat mempercepat penurunan kemiskinan sekaligus memastikan tidak ada lagi anak Nusa Tenggara Timur yang kehilangan masa depannya karena kemiskinan," ungkap Abdul Haris.
Selain sinergi, Abdul Haris mengingatkan indikator kemiskinan harus menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan. Sehingga, anggaran benar-benar memberikan dampak bagi kesejahteraan masyarakat.
Dia menjelaskan, NTT menjadi salah satu provinsi prioritas karena jumlah penduduk miskin terbesar kelima di Indonesia. Dari 3.442 desa di NTT, sebanyak 876 desa merupakan desa prioritas kemiskinan dengan tingkat kemiskinan di atas 20 persen, terutama di Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan Kabupaten Sumba Barat Daya.
Kemenko PM meresmikan Program GARUDA di NTT. Foto: Istimewa.
Sementara itu, Kota Kupang, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Alor ditetapkan sebagai daerah barometer pencapaian target kemiskinan ekstrem nol persen pada 2026.
Selain itu, Abdul Haris menyampaikan pengentasan kemiskinan juga dilakukan melalui pendidikan, salah satunya melalui Program Indonesia Pintar (PIP). Menurut dia, PIP di NTT telah menjangkau 475.975 siswa.
Namun, masih terdapat puluhan ribu siswa yang belum menerima manfaat program tersebut. Pemerintah menegaskan pentingnya menekan angka putus sekolah dan mengoptimalkan Program Sekolah Rakyat. Sebab, hal itu sebagai upaya memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
"Pendidikan adalah instrumen paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Anak yang bersekolah hari ini adalah keluarga yang keluar dari kemiskinan esok hari," ujar Abdul Haris.



