HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Aroma anyaman rotan, kilau kain songket, ukiran kayu khas berbagai daerah serta kulinernya menyambut setiap pengunjung yang melangkah ke area pameran.
Pameran Kriya dan Wastra ini dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46, Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) di Trans Studio Mall (TSM) Makassar, Jumat, 10 Juli.
Pameran ini menghadirkan puluhan stan dari berbagai provinsi dan kabupaten di Indonesia yang membawa identitas budaya daerah masing-masing.
Di tengah ramainya pengunjung, setiap stan menawarkan pengalaman berbeda. Bukan sekadar berbelanja, masyarakat diajak mengenal cerita di balik setiap karya kerajinan tangan yang dibuat oleh para perajin lokal.
Mulai dari kain tradisional, tas anyaman, aksesori, hingga dekorasi rumah berbahan alami menjadi daya tarik utama.
Salah satu stan yang ramai dikunjungi adalah Dekranasda Provinsi Sumatera Selatan. Dominasi kain songket dengan motif khas Palembang langsung mencuri perhatian.
Berbagai produk turunannya seperti tas, dompet, selendang, hingga aksesori menjadi incaran pengunjung yang ingin membawa pulang buah tangan khas daerah tersebut.
Perwakilan Penjaga Tenant Dekranasda Sumatera Selatan, Iwan Setiawan, mengatakan pihaknya sengaja membawa produk unggulan yang merepresentasikan kekayaan wastra daerah.
Menurutnya, pameran nasional seperti HUT Dekranas menjadi kesempatan memperkenalkan karya UMKM kepada pasar yang lebih luas.
“Pengunjung di Makassar cukup antusias. Banyak yang tertarik dengan songket dan produk turunannya karena kualitasnya bagus dan motifnya khas Sumatera Selatan,” ujarnya.
Tak jauh dari sana, stan Dekranasda Kabupaten Minahasa tampil berbeda. Ornamen burung hantu, kelelawar, hingga kerajinan berbahan serat alam menghiasi bagian depan stan. Nuansa khas Sulawesi Utara terasa kuat melalui berbagai produk kriya yang dipamerkan.
Perwakilan Penjaga Tenant Dekranasda Minahasa, Fenny, menjelaskan seluruh produk yang dipamerkan merupakan hasil karya perajin lokal.
Bahan bakunya berasal dari alam sekitar dan diolah menjadi produk bernilai ekonomi tanpa meninggalkan identitas budaya Minahasa.
“Kami ingin memperlihatkan bahwa kerajinan Minahasa tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mencerminkan kekayaan budaya dan potensi sumber daya lokal. Respons pengunjung cukup baik karena banyak yang penasaran dengan produk-produk kami,” katanya.
Pameran ini menunjukkan bahwa kriya dan wastra bukan sekadar produk kerajinan, melainkan bagian dari identitas budaya yang terus berkembang mengikuti kebutuhan pasar.
Banyak produk yang kini hadir dengan desain lebih modern sehingga mampu menjangkau konsumen dari berbagai kalangan tanpa meninggalkan unsur tradisionalnya.
Di tengah tantangan persaingan produk industri massal, pameran seperti HUT Dekranas menjadi ruang penting bagi UMKM untuk memperluas pasar sekaligus memperkuat eksistensi kerajinan Nusantara.
Interaksi langsung antara perajin dan pengunjung juga membuka peluang lahirnya kerja sama bisnis baru.
Melalui keberagaman stan yang ditampilkan, HUT ke-46 Dekranas di Makassar tidak hanya menjadi ajang promosi produk daerah, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan budaya Indonesia.
Dari Sumatera hingga Papua, setiap karya membawa cerita tentang tradisi, kreativitas, dan semangat para perajin yang terus menjaga warisan bangsa agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. (wis)





