VIVA – Mantan juara dua divisi UFC, Conor McGregor, mengklaim telah menjatuhkan lebih banyak rekan latihannya selama persiapan menuju UFC 329 dibandingkan kamp latihan mana pun sepanjang kariernya.
Muncul sebuah keraguan akan kemampuannya, lantaran sudah lebih dari enam tahun sejak para penggemar terakhir kali melihat McGregor meraih kemenangan KO di dalam Octagon.
Kemenangan atas Donald Cerrone dalam waktu 40 detik pada UFC 246 pada 2020 menjadi satu-satunya kemenangan McGregor di UFC sejak dirinya menyandang status juara dua divisi pada 2016.
- Instagram/thenotoriousmma
Kini, petarung asal Irlandia itu bertekad mengakhiri tren negatif tersebut saat menghadapi Max Holloway pada laga utama UFC 329 yang digelar Sabtu (11/7) waktu setempat.
Conor McGregor mengaku telah kembali menemukan performa terbaiknya selama menjalani pemusatan latihan. Bahkan, menurutnya, sejumlah rekan latihannya menjadi korban keganasannya di gym.
Ajang International Fight Week yang berlangsung pada 11 Juli akan menjadi pertarungan pertama McGregor setelah lima tahun absen dari kompetisi.
"The Notorious" terakhir kali bertanding pada 2021 ketika mengalami patah kaki saat menghadapi Dustin Poirier. Sekembalinya ke Octagon, ia langsung dihadapkan pada lawan tangguh, Max Holloway.
Banyak pihak meragukan peluang McGregor karena minimnya rekaman latihan yang memperlihatkan kondisi terkininya. Namun, dalam wawancara bersama Smash Cast, mantan juara UFC dua divisi itu mengungkapkan perkembangan yang terjadi selama kamp pelatihan.
"Max adalah seorang petarung kickboxing. Tidak sulit menemukan lawan yang cocok secara gaya bertarung untuk Max, jadi saya memiliki beberapa rekan latihan yang hebat," kata McGregor.
"Saya telah melalui beberapa pertarungan sulit di balik layar. Saya sangat merahasiakan latihan saya. Saya belum mengunggah klip apa pun."
Meski demikian, McGregor mengaku sangat puas dengan hasil latihannya.
"Tapi saya akui ini, saya telah menjatuhkan lebih banyak orang di kamp ini daripada yang pernah saya jatuhkan sebelumnya," tambahnya.
Ia menyadari pernyataannya mungkin terdengar keras, tetapi menurutnya itulah tuntutan menjadi seorang juara.
"Anda mungkin berpikir, 'Ini agak kejam.' Inilah permainannya. Anda harus sekejam itu. Jika Anda tidak sekejam itu, maka Anda tidak akan menjadi juara dunia dua kali."





