Psikolog: Macet, Cuaca Panas, dan Tekanan Ekonomi Bisa Picu Amuk di Jalan

kompas.com
9 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Psikolog Novita Tandry menilai kemacetan, cuaca panas, hingga tekanan ekonomi dapat menjadi faktor yang memicu seseorang kehilangan kendali emosi dan bertindak agresif di jalan.

Pernyataan itu disampaikan Novita menanggapi dua kasus yang belakangan viral di Jakarta, yakni penganiayaan terhadap seorang pemotor di Jagakarsa, Jakarta Selatan, dan aksi pengemudi taksi online yang merusak mobil pengendara lain di kawasan Sunter, Jakarta Utara.

"Kalau memang alasannya stres dan hanya mencari pelampiasan, menurut saya penyebabnya bisa karena kelelahan mental," kata Novita kepada Kompas.com, melalui telepon, Jumat (10/7/2026).

Baca juga: Bang Jago Jagakarsa Berakhir di Tahanan: Aniaya Pemotor, Positif Sabu, dan Minta Maaf

Novita mengatakan, masyarakat saat ini hidup di tengah berbagai tekanan yang datang secara bersamaan.

Mulai dari cuaca yang semakin panas, sulitnya memperoleh pekerjaan, tuntutan pekerjaan dengan tenggat waktu yang ketat, hingga persoalan keluarga.

Belum lagi, masyarakat setiap hari juga dihadapkan pada pemberitaan mengenai kasus-kasus besar, termasuk korupsi dengan nilai fantastis.

"Bayangkan, setiap hari kita membaca berita tentang uang ratusan miliar, emas puluhan kilogram. Sementara kita bekerja dengan cara yang halal, melihat orang-orang di jalan harus berpanas-panasan mencari nafkah. Itu bisa memicu kelelahan mental," ujar Novita.

Ia menilai tekanan yang terus menumpuk tersebut lambat laun dapat berubah menjadi kelelahan mental kronis yang membuat seseorang lebih mudah tersulut emosi.

"Orang merasa sudah tidak punya kemampuan mengubah keadaan. Panas, sangat membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, lalu merasa kemacetan merampas waktunya. Akhirnya muncul rasa tidak berdaya," kata Novita.

Baca juga: Senyum-senyum Ditangkap, Bang Jago Pemukul Pemotor Jagakarsa Positif Narkoba

Meski demikian, Novita menegaskan bahwa faktor tersebut tidak bisa dijadikan pembenaran atas tindakan kekerasan di jalan.

Ia mencontohkan kasus pemotor yang diduga menganiaya pengendara lain di Jagakarsa. Berdasarkan video yang beredar, Novita menilai tindakan pelaku bukan semata dipicu stres.

"Kalau yang pertama, saya melihat dari video yang beredar, itu bukan semata-mata karena stres. Dia memang ingin melampiaskan kemarahannya," ujar dia.

Sementara dalam kasus pengemudi taksi online yang merusak mobil di Sunter, Novita melihat adanya indikasi motif lain.

"Kalau yang kedua, menurut saya ada unsur kriminal juga. Ada dugaan ingin memalak," ucapnya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
Emosi perlu disalurkan secara sehat

Novita mengatakan, seseorang yang tidak memiliki mekanisme untuk mengelola emosi cenderung melampiaskan kemarahannya secara negatif.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Baleg DPR Nilai Satu Data Indonesia Berpotensi Hemat Anggaran Negara hingga Ratusan Triliun Rupiah
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Manny Pacquiao Bikin Pengakuan Mengejutkan, Petinju Terbaik Saat Ini Ternyata Bukan Oleksandr Usyk
• 1 jam laluviva.co.id
thumb
Hakim Ungkap Kode Suap BC1 hingga BC4: Merujuk ke Dirjen Bea Cukai dkk
• 14 jam lalukompas.com
thumb
Viral Ojol di Kemayoran Diduga Cabuli Anak di Bawah Umur, Polisi Amankan Pelaku
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Sampah dari Pernikahan Taylor Swift Dijual Mahal, Penggemar Berebut Membeli
• 25 menit lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.