Bangun Pusat Data AI, Lima Raksasa Teknologi AS Tambah Utang hingga USD 350 M

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Lima raksasa teknologi Amerika Serikat (AS) menggandakan beban utangnya dalam lima tahun terakhir demi membangun infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Tak tanggung-tanggung, Alphabet, Amazon, Meta Platforms, Microsoft, dan Oracle secara kolektif menambah utang hingga USD 350 miliar atau sekitar Rp 6.322 kuadriliun (kurs Rp 18.065) dalam lima tahun terakhir.

Dilansir dari Bloomberg, dana itu dipakai untuk membangun pusat data (data center) AI yang diyakini bakal menjadi sumber pertumbuhan pendapatan baru di masa depan.

Meski investor masih mendukung ekspansi AI, mulai muncul kekhawatiran mengenai besarnya kebutuhan pendanaan perusahaan-perusahaan tersebut.

Penerbitan obligasi senilai USD 25 miliar oleh Amazon pekan ini dilaporkan mendapat respons yang lebih dingin dibandingkan biasanya. Kondisi itu dinilai menjadi sinyal bahwa pasar mulai mempertanyakan seberapa besar investasi AI masih dapat terus dibiayai.

Sepanjang 2025, beban bunga gabungan lima perusahaan tersebut telah melampaui USD 10 miliar (Rp 180 triliun) atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2019.

Namun, bagi sebagian perusahaan, biaya itu masih relatif kecil dibandingkan kemampuan menghasilkan kas. Alphabet, misalnya, membukukan arus kas bebas sebesar USD 64 miliar hingga akhir kuartal I 2026.

Di sisi lain, kondisi keuangan sejumlah perusahaan mulai menunjukkan tekanan. Arus kas bebas Amazon berubah negatif pada kuartal yang berakhir 31 Maret.

Sementara itu, S&P Global Ratings menurunkan peringkat utang Oracle ke level investment grade terendah setelah menilai belanja AI perusahaan terus meningkat.

Analis DA Davidson Gil Luria mengatakan, model bisnis perusahaan perangkat lunak kini berubah drastis akibat besarnya kebutuhan investasi infrastruktur AI.

"Karakter bisnis perusahaan-perusahaan ini berubah sangat drastis dan terjadi secara tiba-tiba. Itulah sebabnya arus kas mereka saat ini sangat tertekan," ujarnya dikutip dari Bloomberg, Sabtu (11/7).

Meski demikian, para petinggi perusahaan teknologi tetap optimistis investasi tersebut akan menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang.

CEO Amazon, Andy Jassy, mengatakan perusahaan memiliki keyakinan tinggi investasi ini bisa dimonetisasi, karena sebagian besar kapasitas baru Amazon Web Services telah mendapatkan komitmen dari pelanggan.

Sementara itu CEO Meta, Mark Zuckerberg, menilai permintaan terhadap kapasitas komputasi AI masih jauh melampaui pasokan.

"Hal utama yang membuat kami sangat yakin adalah bahwa terus membangun infrastruktur ini akan menjadi investasi yang baik," kata Zuckerberg.

Namun, optimisme perusahaan belum sepenuhnya diikuti investor. Sepanjang tahun ini, hanya saham Alphabet yang mampu mengungguli indeks S&P 500. Sebaliknya, saham Microsoft dan Oracle telah terkoreksi lebih dari 20%.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Debut RANS di Bursa, Saham Melonjak 34% hingga Sokongan Pebisnis Nasional
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Rudi Margono Ditunjuk Jadi Plt Jampidsus Usai Febrie Adriansyah Mundur
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Konstitusi NKRI: Pusat Wajib Melindungi PPPK Pemda
• 10 jam lalukompas.com
thumb
KPK Bongkar Kode "Padakno Karo Bapak", Bupati Sukoharjo Lanjutkan Tradisi Setoran Suami
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Bintang Mitra (BMSR) Restrukturisasi 59,11 Persen Kepemilikan, Pengendali Tak Berubah
• 13 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.