Pikukuh dan Sunda Wiwitan dalam Harmoni Kehidupan Budaya Masyarakat Baduy Dalam

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Suku Baduy Dalam dikenal sebagai masyarakat adat yang berpijak pada pikukuh sebagai penjaga harmoni kehidupan selama berabad-abad, alih-alih mengikuti laju modernisasi. Masyarakat yang tinggal tidak jauh dari Ibu Kota ini, hidup tanpa listrik, teknologi, bahkan alas kaki di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten. Hal ini tidak sekadar didasarkan pada pilihan hidup. tetapi merupakan wujud ketaatan terhadap adat yang berakar pada Kepercayaan Sunda Wiwitan.

Masyarakat Baduy Dalam menganggap adat dan kepercayaan sebagai satu-kesatuan yang saling terkait. Keduanya bersumber pada keyakinan bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam, menghormati leluhur, dan menjaga keseimbangan ciptaan Sang Pencipta, Sang Hyang Kersa. Keyakinan ini kemudian dijadikan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Pikukuh dan Sunda Wiwitan di Masyarakat Baduy Dalam

Pikukuh mengatur masyarakat Baduy pada hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari cara berpakaian, membangun rumah, bertani, hingga cara memperlakukan alam. Melalui pikukuh, masyarakat diajarkan untuk hidup sederhana, jujur, tidak serakah, serta menghindari segala tingkah laku yang dapat merusak keseimbangan alam.

Bagi masyarakat Baduy, mematuhi pikukuh bukan sekadar taat pada aturan adat, melainkan sebagai bentuk penghormatan pada leluhur yang telah mewariskan tata kehidupan masyarakat Baduy. Selain itu, kepatuhan pada adat juga merupakan bentuk pengabdian kepada Sang Hyang Kersa sebab Pikukuh pada dasarnya bersumber dari kepercayaan Sunda Wiwitan yang dianut oleh Masyarakat Baduy.

Masyarakat Baduy Dalam tidak menganggap Sunda Wiwitan sebagai kepercayaan lokal semata, melainkan sebagai sebuah agama yang kerap mereka sebut sebagai ‘Slam Sunda Wiwitan. Melalui kepercayaan ini, masyarakat mempercayai Nabi Adam sebagai Nenek Moyang mereka serta Gusti Alloh sebagai Sang Pencipta. Kepercayaan ini sangat kental dalam darah masyarakat Baduy Dalam yang terbagi dalam tiga wilayah, yaitu Kampung Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik.

Sunda Wiwitan tidak mengenal tempat peribadatan sebagaimana agama-agama lain yang diakui oleh Negara. Namun, dalam kosmologi Sunda Wiwitan terdapat kawasan yang dianggap suci, yaitu Sasaka Domas atau Arca Domas yang dipercaya sebagai pusat spiritual masyarakat Baduy Dalam. Kawasan ini hanya dapat dikunjungi oleh pemimpin adat yang disebut Pu’un pada waktu-waktu tertentu untuk melaksanakan ritual.

Bagi masyarakat Baduy Dalam, alam tidak sekadar dipandang sebagai ruang hidup, tetapi juga memiliki dimensi spiritual. Setiap bentang alam, yang tidak terbatas pada gunung, hutan, atau sungai dipercaya memiliki kesucian yang harus dijaga. Dengan demikian. perusakan alam bukanlah pelanggaran terhadap lingkungan semata, tetapi juga pelanggaran terhadap nilai spiritual yang telah diwariskan leluhur.

Wisata Berbasis Adat, Saba Budaya Baduy

Saba Budaya merupakan ruang jumpa antara masyarakat adat dan dunia luar. Bagi masyarakat Baduy, menerima tamu bukan berarti membuka jalan bagi lunturnya budaya, tetapi memperkenalkan nilai-nilai yang mereka percaya kepada siapapun yang datang. Interaksi antara masyarakat Baduy dengan wisatawan pun terjalin dalam batas yang ditetapkan oleh adat.

Masyarakat Baduy tidak menyesuaikan adat demi pariwisata, melainkan menjadikan adat sebagai landasan dalam setiap aktivitas wisata. Hal ini tidak terbatas pada mewajibkan pengunjung untuk menghormati peraturan yang berlaku dengan menjaga kebersihan atau tidak merusak alam, tetapi juga memberi batasan pada wisatawan asing untuk tidak menginjakkan kaki di wilayah Baduy Dalam.

Meskipun setiap orang yang berkewarganegaraan Indonesia dipersilakan untuk memasuki wilayah Baduy Dalam, terdapat beberapa kawasan yang tidak boleh diakses wisatawan selain Sasaka Domas.

Pembatasan tersebut dilakukan atas dasar penghormatan pada kesucian ruang adat sekaligus sebagai bentuk menjaga keseimbangan alam yang diyakini sebagai amanah leluhur.

Dengan demikian, Saba Budaya bukan sekadar aktivitas wisata, tetapi merupakan cerminan masyarakat Baduy dalam membangun hubungan dengan dunia luar. Mereka membuka pintu bagi pengunjung yang dianggap sebagai saudara jauh untuk mempelajari kehidupan adat sembari memastikan bahwa setiap langkah yang diambil tidak menggeser harmoni antara manusia, alam, dan kepercayaan yang telah dijaga selama berabad-abad.

Nilai-nilai yang bersumber dari Sunda Wiwitan, kepatuhan terhadap Pikukuh, serta penghormatan terhadap alam tetapi menjadi pedoman utama dalam kehidupan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polda Belum Tetapkan Tersangka Meski Sita Emas 74 KG dan Valas Miliaran
• 19 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
UIN Datokarama Palu Berkolaborasi dengan Kemenag Percepat Penerbitan Visa bagi 21 Calon Mahasiswa Asing
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Respons Komisi III DPR Usai Febrie Mundur dari Jampidsus, Bersih-Bersih Awasi Korupsi Batu Bara
• 2 jam laludisway.id
thumb
5.300 Perusahaan Jepang Bangkrut, Rekor Tertinggi
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
PNM Dorong Produktivitas Karyawan Melalui Kegiatan Sportivitas
• 30 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.