Mengutip laman Ariana News, para peserta terpilih akan tinggal di habitat buatan untuk merasakan langsung tantangan isolasi seperti astronaut asli. Selama karantina, tim ilmuwan akan terus memantau kondisi fisik dan psikologis seluruh kru secara ketat.
Persiapan matang ini sangat diperlukan karena penerbangan antariksa berdurasi panjang menyimpan risiko kesehatan yang besar. Berada di lingkungan hampa udara terbukti bisa mengganggu fungsi tubuh akibat hilangnya gaya gravitasi.
Salah satu ancaman yang paling diwaspadai oleh para peneliti saat ini adalah perubahan drastis pada otak. Berikut beberapa efek nyata yang terjadi pada otak akibat pengaruh lingkungan ekstrem di luar angkasa. Cairan Tubuh Naik dan Posisi Otak Bergeser Mengutip laman ScienceDirect, ketiadaan gravitasi membuat cairan tubuh yang biasanya di area kaki langsung mengalir naik dan menumpuk di kepala. Dampaknya, posisi otak sedikit bergeser ke atas dan rongga pelindung di dalam otak atau ventrikel mengalami pembengkakan.
Rongga tersebut bisa membesar hingga 25 persen dan membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk sembuh setelah pulang ke Bumi. Selain itu, perpindahan cairan ini juga sempat mengganggu sistem pembuangan kotoran di dalam otak astronaut. Gangguan Pembuluh Darah dan Risiko Penyumbatan Kondisi luar angkasa juga bisa merusak sistem pembuluh darah di bagian kepala serta leher para astronaut. Riset mencatat adanya kasus penyumbatan darah atau trombosis serta aliran darah yang mandek atau berbalik arah secara tidak wajar.
Masalah ini terjadi karena darah di area kepala sulit mengalir turun akibat hilangnya daya tarik bumi. Gangguan sirkulasi darah tersebut juga diduga menjadi alasan utama mengapa suhu kepala astronaut meningkat saat berolahraga. Dampak pada Indra dan Keseimbangan Tubuh Kondisi tanpa gravitasi turut mengganggu cara kerja otak dalam mengatur sistem keseimbangan tubuh di ruang angkasa. Karena sinyal telinga bagian dalam menjadi tidak akurat, otak terpaksa beralih mengandalkan indra penglihatan serta sentuhan.
Efek limbung, pusing, mudah jatuh, hingga gangguan fokus mata akan langsung terasa begitu astronaut kembali ke Bumi. Proses pemulihan total biasanya memakan waktu sekitar dua minggu melalui bantuan latihan terapi fisik secara rutin. Ancaman Radiasi Kosmik bagi Otak Tantangan terbesar untuk misi jarak jauh adalah bahaya paparan radiasi kosmik yang membawa partikel bertenaga tinggi. Radiasi ini tidak bisa ditangkal sepenuhnya dan berpotensi menembus tubuh astronaut secara terus-menerus selama misi berlangsung.
Hasil tes laboratorium pada hewan menunjukkan bahwa paparan radiasi rendah terbukti bisa merusak tingkat kecerdasan. Kondisi berbahaya tersebut juga dapat memicu penyakit saraf sejenis Alzheimer serta mempercepat penuaan sel-sel otak. Perbedaan Laki-laki dan Perempuan Astronaut harus menghadapi banyak tekanan sekaligus seperti radiasi, kadar CO2 tinggi, kurang tidur, hingga rasa kesepian akibat terisolasi. Namun, hasil uji menunjukkan bahwa gabungan tekanan berat tersebut kadang justru saling membatalkan dampak negatifnya.
Di sisi lain, perbedaan dampak neurologis antara astronaut laki-laki dan perempuan masih belum bisa dipastikan akibat keterbatasan data. Para peneliti menegaskan riset lanjutan sangat penting untuk menyukseskan misi jangka panjang masa depan seperti perjalanan menuju luar angkasa. (Talitha Islamey)
Baca Juga :
Misi Artemis II Siap Meluncur, Pariwisata Luar Angkasa Kian MenggeliatJadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)





