Riuh rendah tepuk tangan terdengar ketika sosok selebritas Indonesia, Nagita Slavina, naik ke panggung di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Bukan hadir sebagai selebritas, Nagita muncul sebagai Direktur Utama PT RANS Entertainmen Indonesia Tbk.
Kehadirannya, Jumat (10/7/2026), membawa perusahaan yang ia rintis bersama suaminya, Raffi Ahmad, selaku pendiri perusahaan, melantai di bursa dalam aksi initial public offering (IPO). Langkah ini bukan sekadar kabar heboh dari dunia selebritas, melainkan sebuah fenomena besar di dunia bisnis modern.
RANS memulai perjalanannya pada 2016 dari sebuah garasi rumah, hanya bermodalkan rekaman video keseharian keluarga. Namun, lewat kreativitas yang konsisten, mereka berhasil mengubah penonton setia menjadi modal bisnis yang disebut intellectual property (IP) atau kekayaan intelektual.
Nagita mengatakan, sejak awal mendirikan usaha bersama Raffi, ia yakin bahwa industri hiburan, terutama di dunia digital, kini menjadi infrastruktur ekonomi baru. Industri ini pun berkembang menjadi experience economy, yaitu bisnis pengalaman yang melampaui pembelian produk fisik.
”Mereka membeli cerita. Mereka membeli kenangan yang ingin mereka bawa pulang dan ceritakan kembali. Mereka datang ke konser, menghadiri festival, membeli merchandise, dan juga karakter yang mereka sukai,” tutur Nagita dalam sambutan acara IPO.
Oleh karena itu, mereka percaya diri untuk mencari sumber pendanaan baru untuk industri yang mereka kembangkan. RANS sukses mengantongi dana segar sebesar Rp 429,25 miliar dari pelepasan 2,5 miliar saham setara 20 persen saham perusahaan dengan harga Rp 170 per lembar.
Sepertiga dana itu akan dipakai untuk membiayai bisnis hiburan dan konser, kemudian masing-masing seperlimanya untuk lini bisnis kecantikan di bawah bendera PT Rans Kosmetika Indonesia dan modal pembangunan wahana anak yang terinspirasi anak kedua pasangan tersebut, ”Cipungland”.
Lalu, sebagian kecil untuk investasi teknologi AI bersama PT Feedloop Global Teknologi dan sisanya untuk modal kerja usaha kuliner hingga membayar sebagian utang bank perseroan.
Beragam usaha kreatif tersebut Nagita yakini layak untuk berdiri sejajar dengan sektor ekonomi strategis lainnya di Indonesia.
”Hari ini adalah hari ketika Indonesia menunjukkan bahwa kreativitas dapat berdiri sejajar dengan sektor-sektor ekonomi strategis lainnya. Kreativitas adalah modal, kreativitas adalah aset, dan kreativitas dapat menjadi perusahaan publik yang dipercayai masyarakat Indonesia,” ucapnya.
Namun, di balik kesuksesan aksi korporasi itu, keberlanjutan bisnis RANS yang digendong nama Raffi dan Nagita dipertanyakan. Pasalnya, bisnis mereka mengandalkan nama baik dan penggemar setia pasangan tersebut sebagai modal bisnis.
Hal ini sangat disadari mereka sebagai risiko. Dalam prospektus saham mereka disampaikan bahwa risiko perseroan adalah ketergantungan pada talenta utama, yaitu Raffi Ahmad dan Nagita Slavina beserta keluarga. Ketergantungan itu berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kinerja usaha dan keuangan perseroan jika terjadi penurunan keterlibatan atau isu reputasi.
Tidak hanya itu, eksistensi RANS juga dipertanyakan integritasnya. Perusahaan dianggap banyak masyarakat melakukan pencucian uang karena Raffi yang kini menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni dekat dengan oligarki.
Fundamental perusahaan pun diragukan. Dalam beberapa tahun terakhir, pendapatan RANS terus menurun. Pendapatan RANS pada 2025 sebesar Rp 353,38 miliar, dibandingkan Rp 410,50 miliar pada 2024 dan Rp 437,81 miliar pada 2023. Laba bersih juga menyusut pada tahun lalu menjadi Rp 56,7 miliar dari Rp 97,1 miliar di 2024 dan Rp 90,2 miliar di 2023.
Nagita mengakui, risiko branding keluarganya dalam bisnis kreator menjadi beban bagi perusahaan telah mereka coba tekan dengan menghadirkan bisnis berbasis kekayaan intelektual dan mendiversifikasi usaha.
Perlahan, eksposur tersebut dikurangi dari 24 persen pada 2023 menjadi 14 persen pada 2025.
Jika di Indonesia ada RANS, di level global ada cerita yang jauh lebih ekstrem dari SpaceX milik Elon Musk. SpaceX bergerak di bisnis layanan internet satelit melalui Starlink, peluncuran dan transportasi antariksa, serta kecerdasan buatan setelah merger dengan xAI.
Pada pertengahan Juni 2026, SpaceX melakukan IPO terbesar dalam sejarah di bursa saham Nasdaq Amerika Serikat. Dirilis pada harga 135 dolar AS per saham, SpaceX mampu menghimpun dana mencapai 75 miliar dolar AS.
Dalam beberapa hari, antusiasme investor telah mendorong valuasi perusahaan menjadi sekitar 2,53 triliun dolar AS, yang untuk sementara waktu membuat SpaceX menyaingi saham Amazon.
Perusahaan yang digendong nama besar pria terkaya di dunia sejak 2025 itu dinilai menawarkan kekuatan brand mereka dibandingkan dengan fundamental usaha. Meski SpaceX dinilai memiliki valuasi sebesar 1,77 triliun dolar AS, dalam pembukuan akuntansi standar (GAAP), perusahaan roket ini belum pernah mencetak keuntungan bersih.
Berdasarkan laporan Brand Finance 2026, SpaceX dipandang sebagai merek pembongkar kemapanan (disruptive brand) yang berhasil mengacak-acak industri kedirgantaraan yang selama ini dikuasai pemain tua seperti Boeing dan Airbus.
Laporan Peringkat Brand Finance 2026 B2B 300 menempatkan SpaceX di peringkat ke-207 di sektor kedirgantaraan dan pertahanan, bersama dengan Airbus dan Rolls-Royce.
Airbus dan Rolls-Royce adalah merek yang dibangun di atas warisan puluhan tahun, keandalan teknik, dan kepercayaan institusional. Mereka berbeda dengan SpaceX yang bisnisnya berjalan di tren baru. Perusahaan itu mendisrupsi industri yang sudah mapan melalui inovasi dan skalabilitas yang berani.
Di mata investor global, reputasi SpaceX sebagai simbol inovasi masa depan adalah sebuah jaminan bahwa perusahaan ini akan menguasai pasar di masa depan. Brand bukan lagi sekadar logo, melainkan magnet uang.
Kepala Brand Finance Afrika Jeremy Sampson, dalam artikel bertajuk SpaceX’s record IPO and the real value of business brands, mengatakan, disrupsi itu sendiri sekarang diakui sebagai aset merek. Inovasi disruptif tidak hanya bernilai operasional, tetapi juga merupakan aset merek yang menciptakan nilai dan mendorong minat investor.
Namun, ini penuh risiko. Beberapa hari setelah IPO SpaceX, saham itu sempat terkoreksi tajam sekitar 24 persen walau masih di atas harga pencatatannya.
Analis mengaitkan volatilitas ini dengan jumlah saham yang beredar terbatas dan momentum yang didorong oleh sentimen, bukan karena perubahan apa pun dalam bisnis yang mendasarinya.
Pelajarannya, pertumbuhan nilai merek paling berkelanjutan ketika didukung oleh pendapatan dan kinerja bisnis yang kuat. Merek kuat adalah merek di mana reputasi dan fundamental bisnis saling memperkuat, menciptakan kepercayaan investor atau pelanggan setia.
Oleh karena itu, bagi banyak eksekutif, merek tetap menjadi konsep pemasaran, masalah komunikasi, bukan aset bisnis.
Investor legendaris Warren Buffett pernah menyatakan sebuah tesis fundamental yang sangat terkenal dalam dunia investasi, yaitu bisnis yang benar-benar hebat harus memiliki ”parit pertahanan” yang kokoh dan langgeng, yang melindungi tingkat pengembalian unggul atas modal yang diinvestasikan.
Pada akhirnya, brand yang kuat adalah kunci pembuka pintu kepercayaan investor. Namun, tata kelola perusahaan yang bersih, manajemen yang profesional, dan produk yang laku di pasar adalah fondasi utama yang akan membuat perusahaan tersebut tetap tegak berdiri hingga puluhan tahun ke depan.





