Bank Sentral Makin Hawkish, Manulife IM Sarankan Pengelolaan Investasi Aktif

bisnis.com
8 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Manulife Investment Management (Manulife IM) menilai investor perlu menerapkan strategi investasi yang lebih selektif dan aktif di tengah sikap bank sentral global yang cenderung hawkish untuk merespons risiko inflasi. 

Meski ketidakpastian geopolitik masih membayangi, pasar Asia dinilai tetap menawarkan peluang diversifikasi bagi portofolio global.

Senior Global Macro Strategist Manulife Investment Management Yuting Shao mengatakan konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah telah mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter global. Menurutnya, tekanan harga energi yang masih tinggi membuat sejumlah bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga yang ketat guna mengantisipasi risiko inflasi lanjutan.

"Ekspektasi sebelumnya bahwa pelonggaran moneter akan berlangsung secara luas dan searah kini mulai bergeser. Tekanan biaya energi yang masih tinggi memaksa bank sentral di sejumlah kawasan untuk mempertahankan sikap hawkish guna mengantisipasi dampak lanjutan terhadap inflasi," ujar Shao dalam keterangannya, Selasa (14/7/2026).

Baca Juga : Manulife IM Jagokan Obligasi dan Saham Asia pada Semester II/2026

Dia menambahkan siklus ekonomi global saat ini bergerak semakin tidak merata. Negara-negara yang memiliki ketahanan energi domestik maupun memperoleh manfaat dari perkembangan teknologi dinilai mampu menunjukkan ketahanan ekonomi yang lebih baik dibandingkan kawasan lainnya.

Sejalan dengan itu, Global Head of Multi-Asset Solutions Manulife Investment Management Luke Browne mengatakan kondisi tersebut semakin mempertegas pentingnya diversifikasi portofolio dan pengelolaan investasi secara aktif.

"Dengan pasar tenaga kerja yang masih kuat dan menunda terjadinya pelonggaran moneter yang signifikan, kami mempertahankan pendekatan yang sangat selektif dalam alokasi aset. Risiko dan peluang kini semakin tidak merata antar kawasan maupun kelas aset," kata Browne.

Menurutnya, kepemimpinan pasar saham ke depan diperkirakan tidak lagi hanya didominasi oleh saham-saham teknologi berkapitalisasi besar dan tema kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), tetapi mulai meluas ke aset berkualitas tinggi dengan valuasi yang lebih menarik.

Selain saham, Manulife IM juga melihat peluang pada aset riil, terutama komoditas yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur AI, serta instrumen kredit yang masih menawarkan imbal hasil kompetitif. Di pasar obligasi, perusahaan lebih memilih obligasi berdurasi pendek sebagai strategi untuk mengelola risiko kenaikan suku bunga.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Asia dinilai tetap memiliki daya tarik bagi investor global. Manulife IM menilai ekspansi infrastruktur teknologi, ketahanan energi domestik di sejumlah negara, serta fundamental neraca perusahaan yang relatif kuat menjadi faktor yang menopang prospek kawasan tersebut.

Memasuki semester II/2026, Manulife IM menilai kemampuan investor untuk beradaptasi terhadap perbedaan laju pertumbuhan ekonomi antarnegara dan inflasi yang masih bertahan akan menjadi faktor penentu kinerja portofolio. 

Perusahaan meyakini kombinasi diversifikasi lintas aset, pengelolaan investasi aktif, dan eksposur terhadap tema pertumbuhan struktural di Asia dapat membantu investor memperoleh imbal hasil jangka panjang yang lebih stabil.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polda Riau Usut Perambahan 100 Hektare Hutan Mangrove di Rohil
• 2 jam laludetik.com
thumb
Indonesia Bebaskan Visa Kunjungan untuk Warga Kazakhstan Mulai 9 Juli 2026
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Bobby Nasution Minta Alokasi Transfer ke Daerah pada 2027 Tak Berkurang
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
Gara-gara AI, Outsourcing Filipina Pangkas Target Lapangan Kerja Jadi 2,14 Juta
• 17 menit lalukumparan.com
thumb
Kabar Baik untuk MBR, Menteri Ara dan Nusron Gratiskan Sertifikat Rumah, Ini 3 Kelompok Penerimanya
• 22 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.