Jakarta, VIVA – Bank Indonesia (BI) melalui Deputi Gubernur Senior, Destry Damayanti memastikan, pihaknya tak melulu hanya mengandalkan cadangan devisa (cadev), dalam berbagai upaya menghadapi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Dalam acara 'Investment Forum 2026' di Gedung BEI, Jakarta, Destry mengatakan bahwa BI juga secara aktif memanfaatkan instrumen kebijakan baru, yakni Local Currency Transaction (LCT) dalam berbagai transaksi antarnegara seperti misalnya dengan China dan Jepang.
"BI memfasilitasi dengan spot CNY atau Yen (JPY) terhadap rupiah. Mereka (investor hingga pedagang China dan Jepang) butuh kurs Yuan dan Yen bisa (menggunakan mata uang) domestik," kata Destry, Rabu, 15 Juli 2026.
- VIVA.co.id/Anisa Aulia
LCT sendiri diketahui merupakan skema penyelesaian transaksi bilateral lintas negara dengan menggunakan mata uang lokal masing-masing negara. Tujuannya yakni untuk menghilangkan kebutuhan untuk mengonversi mata uang ke dolar Amerika Serikat (USD) terlebih dahulu.
Destry menjelaskan, saat ini pemanfaatan LCT oleh Indonesia telah dijalankan bersama 9 negara, antara lain yakni Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, Vietnam, Laos, Brunei Darussalam, Jepang, dan Korea Selatan.
Bahkan, Dia menegaskan bahwa pertumbuhan LCT antara Indonesia (Rupiah) dengan China (Yuan) dan Jepang (Yen), telah berkembang dengan cukup pesat hingga saat ini.
"Bahkan perdagangan (antara Indonesia) dengan China dengan menggunakan LCT itu sudah mencapai US$9 miliar per Mei (2026)," ujar Destry.
Karena itu, Destry memastikan bahwa ke depannya BI akan terus mengoptimalkan pemanfaatan mekanisme transaksi menggunakan LCT, demi terus memangkas permintaan terhadap dolar AS.
Terlebih, lanjut Destry, langkah-langkah strategis semacam ini diakuinya juga akan terus disosialisasikan bersama-sama bank sentral China, untuk melakukan pendalaman valas di luar dolar.
"Dan kalau kita bisa terus me-manage ini, maka dampaknya bisa sangat positif ke ekonomi nasional," ujarnya.





