Pesantren Thohir Yasin di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang berdiri sejak tahun 1991 kini menuju kemandirian ekonomi. Melalui program ekonomi pesantren yang dibina oleh Bank Indonesia (BI) sejak tahun 2021, pesantren ini sukses menggerakkan berbagai unit usaha terintegrasi hingga mampu menutup 70 persen seluruh biaya operasional pesantren secara mandiri dari pendapatan lini bisnisnya.
Langkah ini sekaligus mewujudkan cita-cita pesantren agar pembiayaan mulai dari pembangunan fisik, gaji guru, hingga kebutuhan makan santri tidak lagi selalu mengharapkan bantuan dari pihak luar ataupun membebani para santri.
Melalui program integrasi pertanian-peternakan serta strategi hilirisasi dari hulu ke hilir, akumulasi omzet dari berbagai unit bisnis pesantren ini secara keseluruhan telah menembus angka Rp 3 miliar per tahun.
"Keseluruhan omzet kami terakhir, alhamdulillah, berada di angka Rp 3 miliar per tahun. Trennya terus mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp 2 miliar. Pasar kami kini semakin kuat dan tinggi, apalagi dengan adanya dukungan dari Bank Indonesia serta kolaborasi jaringan Hebitren," ujar Syahrul ME, Direktur Badan Usaha Pesantren Thohir Yasin saat ditemui di Lombok, NTB (10/7).
Pimpinan Pesantren Thohir Yasin, TGH Ismail Thohir, menjelaskan bahwa inisiatif untuk menggerakkan sektor ekonomi ini memang ditujukan agar pesantren tidak terus-menerus memiliki ketergantungan finansial pada pihak luar maupun menarik biaya dari santri.
"Alhamdulillah, jadinya kita bercita-cita, berinisiatif, ingin untuk menjadikan pesantren Thohir Yasin menjadi pesantren yang mandiri. Artinya, pesantren mandiri, siap, tanpa kita itu tidak selalu mengharapkan dari luar. Kita ingin supaya dari hasil kita sendiri, untuk gaji gurunya, untuk pembangunannya, dan untuk semua itu harapan kita," ujarnya.
Keberhasilan menutup 70 persen biaya operasional ini membawa dampak sosial yang nyata bagi anak-anak kurang mampu. Berkat profit dari unit ekonomi mandiri ini, pesantren kini mampu membiayai dan menanggung kebutuhan pendidikan bagi sekitar 100 anak dari kalangan yang tidak mampu bersekolah.
Usaha Produktif PesantrenKemandirian finansial pesantren yang mengelola sekitar 13 lembaga pendidikan ini digenjot melalui dukungan sarana produktif dari Bank Indonesia sejak tahun 2021.
Bantuan berupa penyediaan fasilitas Greenhouse (GH), kandang ayam, Rumah Potong Unggas (RPU), serta penggilingan padi (Rice Milling Unit/RMU) menjadi motor penggerak bisnis hulu-hilir pesantren.
Setiap unit bisnis kini menjadi penyumbang profit yang signifikan. Unit usaha RMU mencatatkan omzet sekitar Rp 100 juta per bulan, sementara unit usaha RPU menjadi penyumbang terbesar dengan omzet mencapai Rp 500 juta per bulan.
"Proses bantuan dari Bank Indonesia ini berjalan karena mereka melihat kebutuhan nyata di pesantren kami. Kami memiliki peternakan ayam, tetapi operasionalnya tidak bisa hanya melalui kerja sama dengan pihak luar. Kita harus mempunyai hilirisasi sendiri melalui RPU ini," jelas Syahrul.
Pandai Mengaji, Pandai MenggajiKini, dengan pondasi usaha yang matang, produk usaha Pesantren Thohir Yasin telah menguasai sekitar 30 persen pangsa pasar regional di NTB. Unit usaha mereka bertindak sebagai pemasok logistik satu pintu untuk memenuhi kebutuhan beras, ayam, ikan, hingga sayur bagi 20 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna mensukseskan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Selong hingga Jerowaru.
Berkat ketangguhan tata kelola bisnis ini, unit usaha mereka berhasil meraih penghargaan sebagai Juara 1 Pesantren dengan Ekonomi Terbaik Tingkat Nasional dari Kementerian Agama RI.
Kemandirian ekonomi yang melibatkan sekitar 150 pekerja dari masyarakat lokal dan mahasanti pengabdian ini juga dijadikan sarana edukasi langsung bagi para santri.
Melalui kurikulum khusus ‘Ekonomi Pesantren’, para santri dijadwalkan secara berkala seminggu sekali untuk mempraktikkan ilmu wirausaha langsung di laboratorium hidup, mulai dari sektor pertanian, peternakan, hingga RPU.
Ke depan, melalui kolaborasi organisasi Hebitren NTB bersama BI, proyeksi bisnis jangka panjang terus dikejar, termasuk rencana pendirian pabrik roti (bakery) berskala modern serta target ekspor produk halal untuk kebutuhan katering jemaah umrah Indonesia di Arab Saudi.
Upaya ini menegaskan visi mulia pesantren agar para lulusannya tidak sekadar mahir di bidang keagamaan, melainkan mandiri secara finansial dan mampu membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat luas.
"Harapan kami nanti, selain mereka memiliki kekuatan ilmu agama, mereka juga memiliki kekuatan wirausaha. Sehingga keluar dari pesantren, mereka mampu membuka lapangan usaha baru. Selain mereka pandai mengaji, mereka juga pandai menggaji," tutup Syahrul.





