JAKARTA, KOMPAS.com - Perwakilan raja dan sultan Bali, yakni sejumlah penglingsir puri-puri hingga tokoh masyarakat Buleleng, datang ke kantor Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman, di Jakarta, Jumat (17/7/2026).
Kedatangan mereka untuk bertemu menagih janji Presiden Prabowo Subianto untuk membangun Bandar Udara (Bandara) di bagian utara Bali, atau tepatnya di lepas Pantai Kubutambahan, Buleleng.
"Nyatanya, maaf, sudah 1,5 tahun beliau menjabat sebagai presiden, niscaya belum-belum turun keputusan beliau. Kami nagih janji ke sini. Untuk menepati janji itu," kata Ketua Paiketan Puri-Puri Se-Jebag Bali, Ida Cokorda Gde Putra Nindia usai bertemu Dudung di kantornya.
Baca juga: Deadline 1 Bulan dari Prabowo untuk Benahi Tata Kelola MBG, Penerima hingga Anggaran Dikaji Ulang
Janji PrabowoCokorda Gde Putra kemudian menjelaskan bahwa mereka pernah bertemu Prabowo pada Februari 2024 lalu.
Kala itu Prabowo belum menjadi Presiden RI.
Dalam pertemuan itu, para penglingsir serta tokoh-tokoh masyarakat di Bali memberi aspirasi ke Prabowo agar ada keseimbangan pembangunan antara Bali utara dan selatan.
"Pada waktu itu, calon presiden, satu hari sebelum itu dah, pemilihan beliau di mana kami sampaikan aspirasi Bali. Bali tidak ada keseimbangan pembangunan antara selatan dan utara," ungkapnya.
Dia menjelaskan, pembangunan di selatan sangatlah masif.
Sementara pembangunan yang masif tidak terjadi di bagian utara sehingga membuat masyarakat dan anak generasi muda tidak punya lapangan pekerjaan.
Baca juga: Penantian 3 Dekade Proyek Blok Masela, Akhirnya Dimulai di Era Prabowo
Menurutnya, anak muda harus merantau ke selatan atau luar kota serta meninggalkan keluarganya jika mau mencari pekerjaan.
"Karena tidak ada pembangunan, tidak ada proyek, tidak ada, ya gimana orang tamat sarjana, tamat diploma kepariwisataan, akhirnya meninggalkan rumah. Datanglah ke Bali Selatan," ucapnya.
Dari pertemuan itu, menurutnya, ada inisiatif untuk membangun bandara di lepas pantai Kubutambahan, Buleleng.
"Akhirnya ada suatu inisiatif, bagaimana caranya menyeimbangkan Bali Utara dan Bali Selatan. Ya dengan jalan membuka pintu, jendela masuk ke Bali, yaitu bandara," ungkapnya.
Meski awalnya khawatir pembangunan bandara akan merusak situs-situs puri yang ada di Bali, namun dalam diskusi muncul usulan pemilihan lokasi di lepas pantai.
Baca juga: Penantian 3 Dekade Proyek Blok Masela, Akhirnya Dimulai di Era Prabowo
"Dan selanjutnya tentu apa yang telah kami sampaikan, Bapak Prabowo dengan lugasnya beliau mendukung program ini. Dan akan segera mewujudnyatakan program pembangunan ini dengan penlok yang ada di Kubutambahan, yang ada di lepas pantai," lanjut dia.





