Jakarta, CNBC Indonesia - Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terbesar di India dilaporkan menjadi sasaran serangan siber berupa pembobolan data berskala besar. Kelompok peretas berhasil menyusup dan mengambil ribuan dokumen penting dari fasilitas strategis tersebut, sebelum akhirnya mengunggahnya secara bebas ke jaringan internet terlarang.
Mengutip laporan Russia Today, Jumat (17/7/2026), insiden keamanan siber di wilayah regional Asia Selatan ini mencuat setelah kelompok ransomware bernama World Leaks kedapatan mengunggah cache file berukuran besar terkait pembangkit tersebut di dark web, Rabu. Dokumen yang berhasil diambil oleh peretas mencakup dokumen cetak biru dari bagian fasilitas pembangkit serta detail data para pemasok komponen, dengan total hampir 19.000 file berukuran mencapai 14,3 gigabita yang kini telah tersebar secara daring.
Merespons serangan siber yang menargetkan instalasi vital tersebut, pihak pemilik dan operator pembangkit, Nuclear Power Corporation of India (NPCIL), langsung mengeluarkan pernyataan resmi guna meredam kepanikan publik. Otoritas menegaskan bahwa meskipun ada data penting yang berhasil diambil, sistem keamanan utama reaktor nuklir dipastikan tidak terganggu.
"Informasi yang diklaim tersedia di ranah publik... tidak berkaitan dengan sistem atau informasi keselamatan nuklir maupun keamanan nuklir," kata NPCIL seraya menjelaskan bahwa fasilitas yang datanya bocor merupakan bagian konvensional yang biasa ditemukan di pembangkit listrik termal biasa.
Informasi yang dicuri tersebut diketahui berasal dari sistem digital Reliance Group milik pengusaha India, Anil Ambani, yang memegang kontrak pengerjaan sistem pendukung di luar fasilitas nuklir utama sejak tahun 2018. Pihak korporasi membenarkan adanya penyusupan siber pada peladen (server) eksternal yang mereka gunakan dan telah melaporkan kejadian ini kepada badan keamanan siber nasional.
"Terjadi pelanggaran parsial terhadap data kami pada server yang di-hosting oleh penyedia layanan pusat data India pihak ketiga, Yotta," kata perwakilan Reliance Group dalam pernyataan resminya kepada Reuters.
Pihak penyedia pusat data Yotta sendiri mengeklaim bahwa mereka sebenarnya telah melakukan tindakan pencegahan dan mendeteksi eksekusi ransomware yang mencurigakan tersebut sejak tanggal 29 Mei lalu. Kendati demikian, sejumlah pengamat pertahanan internasional menilai hilangnya dokumen-dokumen internal dari proyek nuklir ini tetap membawa konsekuensi bahaya yang besar.
"Kebocoran data tersebut dapat menimbulkan risiko serius bagi keselamatan pembangkit," terang seorang direktur senior di Nuclear Threat Initiative, Nickolas Roth.
Meskipun keaslian dokumen di dark web tersebut belum dapat diverifikasi secara mandiri, kelompok peretas World Leaks dikenal sangat agresif membocorkan data korporasi jika korban menolak membayar tebusan. Pada bulan Juni lalu, kelompok peretas yang sama juga mengunggah file milik Tata Group yang berisi desain rahasia klien mereka, Apple dan Tesla, setelah konglomerat India tersebut mengabaikan permintaan tebusan sebesar US$ 1,5 juta (Rp 27 miliar).
PLTN Kudankulam yang berlokasi di negara bagian Tamil Nadu ini dibangun atas kerja sama strategis antara pemerintah India dan perusahaan nuklir negara Rusia, Rosatom. Saat proyek raksasa ini rampung secara total, fasilitas tersebut akan mengoperasikan enam reaktor air bertekanan, di mana dua unit reaktor berkapasitas masing-masing 1.000 MW saat ini sudah beroperasi aktif memasok listrik.
Serangan siber di pembangkit ini bukan pertama kalinya terjadi. Pada tahun 2019 silam, sebuah malware berbahaya yang dikaitkan dengan kelompok peretas asal Korea Utara juga pernah ditemukan menyusup di jaringan administratif mereka.
(sef/sef) Add as a preferred
source on Google




