"Kalau Tak Keluar Gang, Enggak Bisa Lihat Siang", Kala Permukiman Tak Terjamah Matahari

kompas.com
11 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Menatap langit siang dari balik jendela rumah menjadi pengalaman sulit untuk didapatkan warga yang tinggal di kampung minim matahari RW 05, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.

Setiap kali membuka tirai jendela rumah, warga justru harus memandang gang sempit yang lebarnya kurang dari satu meter dan gelap apabila lampu di atasnya tak menyala.

Gang-gang di wilayah ini tak tersentuh matahari, karena di atasnya tertutupi bangunan lantai dua semipermanen milik warga yang sebagian besar difungsikan sebagai kontrakan.

Matahari semakin sulit menjangkau kawasan tersebut, karena pemukiman ini berada di tengah-tengah bangunan beton komersial, mulai dari pusat perbelanjaan hingga ruko-ruko.

Selain tak tersentuh matahari, kawasan ini juga berbatasan langsung dengan rel kereta api Stasiun Kampung Bandan.

Kendati begitu, masih banyak orang yang mengandalkan wilayah ini sebagai tempat tinggal sehari-hari.

Salah satunya adalah ibu rumah tangga bernama Hafid (43) yang sudah 10 tahun tinggal di gang minim matahari tersebut.

Selama 10 tahun itu lah, ia selalu kesulitan untuk melihat siang hari apabila hanya dari dalam rumahnya saja.

"Jika tak keluar gang atau pergi ke arah sumur di belakang rumah, kita enggak bisa lihat siang," kata dia ketika ditemui Kompas.com di lokasi, Senin (20/7/2026).

Baca juga: Cuaca Bekasi Makin Terik, Waspadai Dehidrasi dan Paparan Sinar Matahari

Mencari pekerjaan

Ibu tiga orang anak itu bercerita, dulu keluarganya tinggal di Karawang, Jawa Barat.

Namun, karena lapangan pekerjaan di kampung halamannya tersebut terbatas, maka Hafid dan suaminya memutuskan untuk merantau ke Jakarta.

Dengan berpindah tempat tinggal, Hafid berharap suaminya yang memiliki kemampuan menyetir mobil bisa mendapatkan pekerjaan.

Kemudian, Hafid disarankan oleh adik iparnya untuk mengontrak rumah di RW 05, karena harganya cukup terjangkau.

Setibanya di Jakarta, Hafid mengontrak rumah sepetak di dalam gang gelap dengan ukuran 3 x 4 meter.

Terbiasa hidup di kampung halaman yang jarak rumahnya berjauhan, membuat perempuan asal Karawang tersebut kaget ketika harus tinggal di permukiman padat.

Beruntungnya, ketika pindah ke Jakarta, suami Hafid pun mendapat pekerjaan sebagaia sopir pribadi.

Seiring berjalannya waktu, Hafid mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan kini sudah bertahan selama 10 tahun di kontrakan sepetak itu.

Kontrakan mungil tersebut disewa Hafid seharga Rp 500.000 per bulannya.

Di kontrakan itu lah, Hafid dan suami, serta tiga orang anaknya melakukan berbagai kegiatan, mulai dari tidur, menonton televisi, makan, bercengkrama, dan lain sebagainya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Sedangkan untuk memasak, Hafid menempatkan kompornya di samping pintu masuk.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pertalite Makin Diburu, ESDM Masih Kaji Penambahan Kuota 2026
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
BNPB: Kebakaran Lahan 48 Hektare di Buleleng Bali Telah Dipadamkan, Terbesar di antara Daerah Lain
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Hasto Bantah PDIP Jadi Dalang Demo, Singgung Politik Kambing Hitam
• 19 jam lalujpnn.com
thumb
Melaju Lebih Cepat di Tol Prosiwangi, Tanpa Kendala di Ketapang
• 13 jam lalukompas.id
thumb
Polres Tebing Tinggi Diserbu Warga, Tuntut Tahahan Kabur segera Ditangkap
• 9 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.