Gilang Rizki (29) tengah duduk di lantai sebuah lapak di Pasar Ngasem Yogyakarta, Rabu (22/7). Di depannya ada satu plastik besar kerupuk rambak yang jadi dagangannya. Sementara itu barcode QRIS ia kalungkan di lehernya.
"Soalnya kan kemarin ada yang nanyain berapa itu, nanyain QRIS kan. Oh ya wis lah, tak bikin, gitu kan. Daripada enggak jadi dibeli, eman-eman (sayang)," kata Gilang.
Gilang adalah difabel tunanetra asal Brebes, Jawa Tengah. Dia telah berdagang camilan sejak berkuliah di UIN Sunan Kalijaga. Usai lulus pada 2022 silam, dia melanjutkan usahanya. Kali ini dengan berdagang kerupuk rambak.
Berdagang adalah pilihan yang harus dijalaninya lantaran pekerjaan formal bagi difabel seperti dirinya masih susah didapatkan. Dalam benak Gilang, dia juga ingin bekerja kantoran.
"Rung entuk gawean (belum dapat kerjaan). Susah difabel itu," katanya.
Lulusan jurusan Bimbingan Konseling ini mengatakan jarang perusahaan membuka formasi untuk difabel tunanetra seperti dirinya. Termasuk pula di beberapa job fair.
"Job Fair enggak harap aku. (Dagang) ya karena belum dapat kerjaan. Sebenarnya pengin kerja di kantor gitu kan," katanya.
"Mesti alasannya alasan fisik, alasan apa lah gitu," ujarnya.
Gilang masih berharap ada lowongan pekerjaan untuk dirinya. Dia mengaku tak pantang menyerah. Setiap kesempatan akan dia coba.
"Mudah-mudahan. Yang penting coba dulu," tuturnya.
Berjualan Sejak KuliahGilang sedikit menceritakan perjalanan hidupnya. Ketika masih menempuh kuliah dia sudah berdagang aneka camilan.
"Dulu camilan. Dulu kan aku keliling toh. Mulai sepi itu tahun 2023 ya," katanya.
Gilang sebelumnya keliling di seputaran UIN Sunan Kalijaga. Lantaran mulai sepi pembeli dia keliling ke SPBU-SPBU yang ada di Kota Yogyakarta.
"(SPBU) Tamansiswa tuh pernah. Dekat Pasar Sentul itu," katanya.
Namun, ternyata jumlah pembeli tak sesuai harapan. Hingga akhirnya secara tidak sengaja, Gilang menemukan kerupuk rambak ini. Selain makanan kesukaannya, rambak ini juga digemari wisatawan.
Gilang menjual kerupuk rambak ke tempat-tempat yang ramai dikunjungi orang seperti Embung Langensari. Namun di sana lama kelamaan sepi, terlebih jika cuaca panas.
"Sama warga di sana untuk mencoba ke Pasar Ngasem," katanya.
Dia kemudian berjualan di Pasar Ngasem. Jika kondisi ramai pembeli dia bisa mengantongi omzet Rp 200 ribu. Namun, penghasilan itu pun tidak pasti.
"Cuma ini belum rebranding. Aku pengin rebranding sendiri. (Ini rambak beli) dari Solo," katanya.
Alami Kesulitan Saat BerdagangJualan di Pasar Ngasem bukan tanpa rintangan. Menurut Gilang di pasar ini tidak boleh ada pedagang asongan. Hari ini pun dia berjualan di lapak yang pedagangnya sedang libur.
"Bukan tindakan represif sih sebenarnya (diingatkan petugas keamanan). Ya aku sadar yang namanya peraturan ya peraturan. Yang namanya yang liar-liar tuh juga perlu dibersihin," katanya.
"Terus kemarin dikasih tahu. Sebenarnya nuwun sewu, emang yang liar-liar dari dulu tuh enggak boleh. Aku juga memahami sih sebenarnya dari kemarin, cuma ya gimana ya. Ya nekat ya, maksudnya aku juga butuh solusi, gitu kan," katanya.
Gilang mengatakan saat ini kondisi ekonomi masyarakat sedang tidak baik-baik saja. Sementara di Pasar Ngasem ini salah satu tempat yang ramai wisatawan.
"Siapa tahu nanti ada solusi. Sementara sih bisa (jualan di lapak yang ini). Sementara, ini kan libur (pedagang yang menempati lapak)," katanya.





