Banjir bandang kembali menerjang sebagian wilayah China dan Taiwan beberapa pekan terakhir, sedangkan sebagian besar Asia Tenggara mengalami kekeringan karena El Nino yang menguat. Di Indonesia, fenomena kontras juga terjadi, di mana sebagian besar wilayah kekeringan, tetapi sebagian Sumatera mengalami hujan deras dan banjir.
Di China, hujan ekstrem memicu luapan sungai, tanah longsor, dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi. Di Taiwan, topan yang disertai hujan deras juga menyebabkan banjir dan kerusakan infrastruktur.
Pada saat hampir bersamaan, sebagian Asia Tenggara justru menghadapi ancaman yang berbeda. El Nino kembali memperpanjang musim kering, mengurangi cadangan air, memicu gagal panen, hingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Kontras itu juga terlihat jelas di Indonesia. Di sejumlah provinsi di Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, Maluku, hingga Papua selatan, masyarakat mulai menghadapi kekeringan, berkurangnya debit mata air, dan ancaman gagal panen.
Namun, di sisi lain, hujan deras terus mengguyur wilayah Sumatera bagian barat. Banjir dan longsor berulang kali melanda Sumatera Utara, Aceh, hingga Riau memperlihatkan bagaimana dua bencana yang tampaknya berlawanan dapat terjadi hampir bersamaan.
Fenomena ini sering dianggap sebagai anomali cuaca. Padahal, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa berbagai kejadian ekstrem tersebut sebenarnya saling terhubung melalui sistem iklim global yang sama.
Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience pada 22 Juni 2026 lalu mengungkap bahwa kekeringan di Asia Tenggara dan hujan ekstrem di wilayah Asia lainnya bukanlah dua peristiwa yang berdiri sendiri. Keduanya merupakan bagian dari pola hidroklimat berskala besar yang telah berlangsung selama ribuan tahun, tetapi kini semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.
Penelitian tersebut dilakukan Na Wang dan Sylvia Dee dari Rice University, Amerika Serikat. ”Memahami pola dalam ekstrem iklim ini dapat membantu komunitas yang terdampak membangun ketahanan iklim dan mempersiapkan diri menghadapi bencana terkait dengan air,” kata Sylvia Dee, profesor madya bidang studi Bumi, Lingkungan, dan Planet di Rice University sekaligus penulis senior riset itu.
Menurut Dee, selama ini banyak penelitian hanya melihat banjir atau kekeringan sebagai kejadian terpisah. ”Kami ingin mengetahui apakah peningkatan kekeringan dan curah hujan ekstrem terjadi secara independen satu sama lain atau apakah keduanya didorong oleh faktor iklim skala besar yang sama,” ujarnya.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para peneliti tidak cukup hanya menggunakan data cuaca modern yang umumnya baru tersedia sekitar satu abad terakhir. Mereka harus menelusuri sejarah iklim jauh ke masa lalu.
Caranya dengan memanfaatkan catatan paleoklimat, yakni arsip alami yang menyimpan jejak kondisi iklim masa lampau. Alam ternyata menyimpan ”dokumen” tentang cuaca selama ribuan tahun.
Lingkaran pertumbuhan pohon, misalnya, dapat menunjukkan apakah suatu tahun lebih basah atau lebih kering. Lingkaran yang sempit menandakan pohon tumbuh pada masa kekeringan, sedangkan lingkaran yang lebih lebar menunjukkan kondisi yang lebih basah.
Begitu pula sedimen di dasar danau, rawa, maupun endapan garam. Warna dan komposisinya menyimpan informasi tentang perubahan curah hujan selama ribuan tahun. Dengan menggabungkan berbagai catatan alami tersebut, para ilmuwan berhasil merekonstruksi kondisi kelembapan di Asia Tenggara daratan dan Asia Tengah selama sekitar 2.000 tahun terakhir.
”Kami menggunakan catatan paleoklimat untuk merekonstruksi pola kelembapan historis, kemudian menggabungkannya dengan simulasi model iklim guna memahami mekanisme yang menghubungkan kekeringan dan hujan ekstrem,” kata Na Wang, penulis utama riset tersebut.
Yang menonjol bukan hanya bahwa kekeringan saat ini termasuk yang paling ekstrem dalam seribu tahun terakhir, tetapi juga bahwa kejadian itu muncul jauh lebih sering.
Hasil penelitian menunjukkan, selama dua milenium terakhir, ketika Asia Tenggara mengalami periode kekeringan yang panjang, Asia Tengah cenderung mengalami periode hujan yang lebih intens. Sebaliknya, ketika pola tersebut berubah, kedua wilayah ikut berubah bersama.
Artinya, meskipun dipisahkan ribuan kilometer, kedua kawasan ternyata dihubungkan oleh sirkulasi atmosfer berskala benua. Hubungan tersebut bukanlah fenomena baru. Yang berubah adalah frekuensinya. Dalam beberapa dekade terakhir, baik kekeringan maupun hujan ekstrem sama-sama muncul lebih sering dibandingkan periode sebelumnya.
”Yang menonjol bukan hanya bahwa kekeringan saat ini termasuk yang paling ekstrem dalam seribu tahun terakhir, tetapi juga bahwa kejadian itu muncul jauh lebih sering,” kata Wang.
Peningkatan frekuensi tersebut juga diikuti dengan makin seringnya curah hujan ekstrem di kawasan lain. Model iklim bahkan memperkirakan jika suhu bumi terus meningkat akibat emisi gas rumah kaca, hubungan ini akan menguat. Artinya, warga harus bersiap menghadapi pergantian antara banjir dan kekeringan lebih sering daripada sebelumnya.
Indonesia sesungguhnya menjadi contoh nyata bagaimana perubahan iklim menghapus pola musim yang selama puluhan tahun dianggap normal. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat semakin sering menyaksikan situasi ketika satu wilayah mengalami kekeringan parah, sementara wilayah lain justru dilanda banjir besar.
Deputi Bidang Meteorologi Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Andri Ramdhani mengatakan, pada periode 15-20 Juli 2026, sejumlah wilayah di Sumatera mengalami hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem.
”Curah hujan harian tercatat mencapai 164 mm di Sumatera Barat pada 20 Juli, 137 mm di Sumatera Utara pada 18 Juli, 90,5 mm di Aceh pada 19 Juli, dan 73 mm di Riau pada 18 Juli,” katanya.
Kondisi tersebut, menurut Andri, dipicu kombinasi beberapa fenomena atmosfer. Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial melintasi Sumatera bagian utara hingga tengah sehingga meningkatkan pasokan uap air, aktivitas konvektif, dan pertumbuhan awan hujan.
Selain itu, terdapat daerah pertemuan dan belokan angin di sepanjang pesisir barat Sumatera yang menyebabkan massa udara lembab terkumpul. Kombinasi kondisi tersebut membuat pembentukan awan hujan menjadi lebih intensif sehingga memicu hujan lebat hingga ekstrem yang berdampak pada banjir di sejumlah wilayah.
”Untuk sepekan ke depan, wilayah Sumatera secara umum masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, terutama di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Kepulauan Bangka Belitung,” katanya.
Di sisi lain, menurut Andri, saat ini sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, yaitu sekitar 60,5 persen wilayah Indonesia atau 423 Zona Musim. El Nino juga telah aktif, ditandai dengan anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 sebesar +1,88 derajat celsius secara dasarian dan +1,56 derajat celsius bulanan.
”Kondisi tersebut berpotensi menekan pembentukan awan hujan sehingga curah hujan cenderung berkurang dan musim kemarau berpotensi menjadi lebih kering, terutama ketika pengaruh El Nino bertepatan dengan puncak musim kemarau,” ungkapnya.
Ketika El Nino menguat, wilayah timur Indonesia biasanya mengalami penurunan curah hujan yang signifikan. Produksi pertanian terganggu karena sawah tadah hujan mengering. Persediaan air bersih menyusut, sementara kebakaran hutan dan lahan meningkat.
Namun, pada saat sama, wilayah pantai barat Sumatera yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia tetap menerima suplai uap air yang melimpah. Ketika gangguan atmosfer tertentu muncul, hujan dapat turun dengan intensitas amat tinggi hingga memicu banjir dan longsor.
Fenomena kontras semacam ini menunjukkan perubahan iklim tidak berarti semua tempat jadi lebih kering atau semuanya menjadi lebih basah. Yang berubah justru adalah meningkatnya ketidakstabilan sistem iklim.
Atmosfer yang lebih hangat mampu menyimpan lebih banyak uap air. Ketika hujan turun, curahnya menjadi lebih ekstrem. Sebaliknya, ketika hujan tidak datang, periode kering berlangsung lebih lama.
Hal ini mengakibatkan warga di Indonesia menghadapi dua ancaman sekaligus. Di satu sisi ada yang mengalami kekurangan air dan risiko kebakaran hutan yang meningkat, di sisi lain ada yang mengalami kelebihan air, bahkan menghadapi bencana banjir.
Temuan Rice University memberikan pesan penting bahwa banjir, kekeringan, longsor, hingga gagal panen tidak lagi dapat dipandang sebagai kejadian yang berdiri sendiri. Semuanya merupakan bagian dari perubahan sistem iklim yang saling berkaitan.
Cara pandang ini penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan adaptasi. Selama ini pengelolaan bencana sering dilakukan secara sektoral. Kekeringan ditangani oleh sektor pertanian, sementara banjir menjadi urusan infrastruktur dan penanggulangan bencana.
Padahal, akar persoalannya sama, yakni ada perubahan pola hidrologi akibat pemanasan global. Karena itu, strategi adaptasi tidak cukup hanya membangun bendungan atau memperkuat tanggul sungai. Pengelolaan daerah aliran sungai, perlindungan hutan, konservasi lahan gambut, peningkatan cadangan air tanah, hingga sistem peringatan dini harus dipandang sebagai satu kesatuan.
Catatan paleoklimat menunjukkan Bumi selalu mengalami variasi iklim. Namun, perubahan yang terjadi sekarang berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan fluktuasi alami selama ribuan tahun. Hal ini membuat berbagai bencana hidrometeorologi makin sering muncul, baik dalam bentuk basah maupun kering.





