Makassar: Tim SAR gabungan masih menyisir perairan Pulau Sabalana, Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Penyisiran pada hari kedelapan ini guna mencari 16 korban tenggelamnya Kapal Motor (KM) Nurul Salsa yang masih hilang.
"Pencarian difokuskan di wilayah Kepulauan Sabalana yang diperkirakan menjadi area pergerakan korban berdasarkan analisis arus laut dan evaluasi operasi sebelumnya," kata Kepala Seksi dan Operasi Kantor Basarnas Makassar Andi Sultan dalam keterangannya, Rabu, 22 Juli 2026, melansir Antara.
Area operasi SAR dibagi menjadi dua sektor. Tim Search and Rescue Unit (SRU) pertama menggunakan KN SAR Pacitan beserta Rigid Inflatable Boat (RIB) menyisir bagian timur Kepulauan Sabalana, khususnya pulau-pulau tak berpenghuni. Sementara itu, SRU kedua menggunakan KLM Mattoangin menyisir bagian barat Kepulauan Sabalana.
Berdasarkan data, terdapat 78 penumpang di dalam kapal nahas tersebut. Sebanyak 59 orang dinyatakan selamat, tiga meninggal dunia, dan 16 lainnya masih dalam pencarian.
Baca Juga :
“Satu jenazah masih belum dapat dipastikan apakah ia adalah salah satu dari penumpang KM Nurul Salsa, kami masih menunggu info dari tim DVI (Disaster Victim Identification)," jelas Andi.
Sejauh ini, tim SAR gabungan terus melakukan pencarian. Namun, gelombang tinggi di sekitar Kepulauan Sabalana menjadi kendala utama. Hal ini membuat pergerakan personel dan alat utama sistem senjata (alutsista) harus dilakukan secara hati-hati tanpa mengurangi intensitas pencarian.
"Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam pelaksanaan operasi karena keselamatan personel tetap menjadi prioritas. Tetapi, pencarian tetap berjalan dengan melakukan penyesuaian pola operasi di lapangan agar tetap efektif dan aman," tambahnya.
Proses pencarian korban KM Nurul Salsa di Perairan Selayar, Sulawesi Selatan, Selasa, 21 Juli 2026. (Istimewa)
Tim SAR gabungan juga memperluas area pencarian ke arah perairan Nusa Tenggara Barat (NTB). Langkah ini diambil berdasarkan analisis pergerakan arus laut yang menunjukkan kecenderungan mengarah ke wilayah tersebut.
"Berdasarkan analisis data arus laut yang kami gunakan sebagai acuan operasi, terdapat potensi objek hanyut bergerak ke arah perairan NTB. Pencarian terus kami laksanakan dan memantau jalur perairan mengarah ke wilayah NTB dengan berkoordinasi bersama seluruh unsur SAR terkait," tuturnya.
Basarnas mengimbau masyarakat, khususnya nelayan di sekitar Kepulauan Sabalana hingga perairan yang berbatasan dengan NTB, untuk segera melapor ke Posko SAR jika menemukan tanda-tanda keberadaan korban maupun serpihan yang berkaitan dengan KM Nurul Salsa.
Basarnas Makassar menegaskan, seluruh unsur SAR gabungan terus mengoptimalkan pencarian selama masa perpanjangan operasi dengan mengerahkan personel, kapal SAR, serta potensi SAR lainnya di lokasi. Evaluasi pencarian dilakukan setiap hari berdasarkan perkembangan lapangan, kondisi cuaca, serta analisis arus laut.
Sebagai informasi, KM Nurul Salsa berlayar dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng Selayar pada Rabu, 15 Juli 2026, sekitar pukul 05.00 Wita. Kapal mengalami gangguan mesin di tengah perjalanan, tepatnya di perairan barat Pulau Polassi atau sekitar 43 *nautical mile* dari Pelabuhan Benteng Selayar, hingga akhirnya tenggelam.




