Grid.ID – Keputusan Sarwendah untuk meninggalkan rumah mewahnya dan memboyong dua putrinya, Thalia dan Thania pindah ke hunian baru akhirnya terjawab. Ternyata, ada alasan krusial dan cukup mengejutkan di balik perpindahan tersebut, mulai dari faktor keamanan hingga masalah legalitas harta gono-gini.
Melalui tim kuasa hukumnya, Chris Sam Siwu dan Abraham Simon, Sarwendah membeberkan fakta-fakta yang selama ini tidak diketahui publik. Berikut adalah alasan utama mengapa Sarwendah memilih untuk pindah rumah.
1. Adanya Teror dari Oknum Diduga Debt Collector
Faktor keamanan menjadi alasan paling utama. Abraham Simon menunjukkan bukti foto CCTV yang memperlihatkan kedatangan sekelompok orang yabg diduga debt collector ke rumah lama Sarwendah pada 11 Juli 2026 silam.
Mengejutkannya, aksi tersebut dilakukan pada pukul 10 malam saat anak-anak sedang beristirahat.
"Situasi sudah tidak aman lagi bagi anak-anak. Ada oknum diduga debt collector datang malam-malam mencari orang yang tidak ada di situ. Itulah kenapa klien kami memutuskan pindah ke tempat yang lebih aman dan nyaman bagi anak-anak," ungkap Abraham Simon.
2. Kisruh Harta Gono-Gini
Alasan kedua berkaitan dengan sengketa harta bersama atau gono-gini. Chris Sam Siwu mengungkapkan adanya ketidakadilan dalam pembagian aset. Sementara aset yang didapatkan Ruben Onsu berstatus bersih (clean and clear), rumah yang ditempati Sarwendah ternyata terlilit hutang bank dalam jumlah besar dan terancam disita.
"Klien kami diberikan gono-gini yang ternyata bermasalah di bank, nilainya cukup fantastis. Bahkan, sudah ada surat dari bank mengenai rencana lelang. Klien kami tidak mau terseret dalam pusaran itu, sehingga lebih baik pindah demi mencari ketenangan," tegas Chris.
3. Menghindari Narasi Negatif dan Framing
Sarwendah mengaku lelah dengan berbagai pemberitaan dan framing negatif yang menyudutkan dirinya dan keluarga besarnya, terutama terkait pembangunan rumah tersebut. Rumah lama itu menyimpan memori tentang almarhum ayahnya yang ikut membangun, namun narasinya terus dipelintir di media sosial.
"Klien kami ingin hidup tenang, tidak mau lagi ditarik-tarik kesannya bergantung pada pihak lain. Ia ingin memulai hidup baru yang lebih damai agar anak-anak tidak tumbuh besar dengan melihat kekisruhan ini," tambah tim kuasa hukum.
Butuh Perjuangan Memberi Pengertian
Sarwendah tak menampik bahwa mengajak anak-anak pindah rumah di tengah proses perceraian bukanlah perkara mudah. Ia mengaku harus sangat berhati-hati dalam memberikan penjelasan agar tidak melukai perasaan anak-anak maupun pihak lain.
"Pasti butuh perjuangan saya ya, untuk menjelaskan kenapa harus pindah gitu. Saya menjelaskan seminim mungkin, sebaik mungkin, tanpa menyinggung satu sama lain," ungkap Sarwendah.
Ia berupaya memberikan pemahaman kepada Thalia, Thania, dan Betrand Peto dengan bahasa yang paling lembut. Beruntung, setelah melalui proses tersebut, kini mereka sudah mulai beradaptasi di hunian yang baru.
Kondisi Anak-anak: Jauh Lebih Tenang dan Damai
Tujuan utama Sarwendah memboyong anak-anaknya pindah adalah demi faktor psikologis. Ia ingin menjauhkan buah hatinya dari suasana rumah lama yang dianggap sudah tidak kondusif akibat adanya masalah hukum terkait aset gono-gini dan gangguan keamanan.
"Mau hidupnya lebih tenang, lebih damai. Anak-anak juga lebih tenang, lebih damai di sana. Semoga bisa menjadi berkat yang baru lagi," tambahnya.
Sarwendah menegaskan bahwa di rumah baru ini, prioritasnya adalah menciptakan lingkungan yang positif bagi pertumbuhan anak-anaknya tanpa harus dibayangi ketakutan atau berita-berita negatif.
Pindah Setelah Liburan
Proses perpindahan tersebut dilakukan secara bertahap. Sarwendah memanfaatkan momen liburan sekolah kemarin untuk mulai mencicil barang-barang dan membiasakan anak-anak dengan suasana baru.
"Kemarin ini kan anak-anak liburan sebenarnya, jadi kita sempat pergi liburan dulu sambil pindahan. Pindahan rumah kan nggak cepat ya, apalagi banyak barang-barang anak-anak juga," jelasnya. (*)
Artikel Asli




