Bengkulu Masuki Kemarau, BMKG: Hujan Ringan Masih Berpotensi Terjadi

metrotvnews.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bengkulu: Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Fatmawati Bengkulu, Fajar Handoyo, mengatakan Provinsi Bengkulu telah memasuki musim kemarau. Kendati demikian, hujan ringan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.

Musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Hujan masih berpotensi terjadi, namun intensitasnya lebih rendah dibandingkan biasanya, kata Fajar di Bengkulu, Rabu, 22 Juli 2026.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh angin monsun Australia yang membawa massa udara lebih kering, sehingga curah hujan menurun dibandingkan kondisi normal.

Fajar meminta masyarakat agar tidak salah persepsi ketika hujan masih turun satu atau dua hari. Hal itu bukan berarti musim kemarau telah berakhir. BMKG memprakirakan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih terjadi secara tidak merata di sejumlah wilayah Bengkulu.

Ilustrasi kemarau. Foto: Freepik

Berdasarkan pemantauan BMKG, hujan ringan hingga sedang masih melanda Kabupaten Mukomuko, Rejang Lebong, dan Bengkulu Utara. Sementara itu, Kota Bengkulu yang berada di kawasan pesisir memiliki kondisi cuaca yang lebih dinamis. Hujan masih dapat terjadi, tetapi umumnya hanya berupa hujan ringan dengan durasi yang relatif singkat.

Wilayah Kota Bengkulu berada di pesisir sehingga kondisi cuacanya cukup dinamis. Masih ada kemungkinan hujan, tetapi umumnya hanya hujan ringan, ujar dia.

Fajar menjelaskan, BMKG menetapkan musim kemarau berdasarkan kriteria meteorologi, bukan hanya melihat ada atau tidaknya hujan dalam satu atau dua hari. Penetapan musim kemarau dilakukan berdasarkan jumlah curah hujan dalam periode tertentu, termasuk akumulasi curah hujan selama satu dasarian atau 10 hari.

Baca Juga :

 
BMKG Prakirakan Puncak Kemarau di Sulut Terjadi Agustus-September 2026
 
Lebih lanjut, ia menyebut musim kemarau juga berpotensi mengurangi ketersediaan air. Sebab, dominasi angin monsun Australia menyebabkan kelembapan udara menurun sehingga pasokan uap air pembentuk awan hujan berkurang.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, hingga aktivitas masyarakat sehari-hari. Oleh karena itu, seluruh sektor diminta mulai melakukan langkah mitigasi untuk menghadapi potensi berkurangnya pasokan air selama puncak musim kemarau.

Semua sektor perlu bersiap. Pertanian harus mengantisipasi jika kebutuhan air berkurang, pengelola sumber daya air juga perlu mengatur distribusi air dengan baik. Kita harus memitigasi sejak dini karena jumlah air yang tersedia diperkirakan akan lebih sedikit dibandingkan kondisi normal, paparnya.

BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi prakiraan cuaca resmi dan menggunakan air secara bijak selama musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga Agustus 2026.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menko Yusril Tegaskan Deportasi WN Palestina Abdul Karim Murni Kasus Kriminal
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Kebakaran Toko Kue di Pasar Ciputat Tangsel, Api Diduga Berasal dari Korsleting Listrik
• 1 jam lalukompas.com
thumb
Perkuat Mitigasi Bencana, Pemprov Sulsel Kolaborasi Intensif dengan BMKG
• 3 jam laluharianfajar
thumb
Yusril: WN Palestina Abdul Karim Ditangkap di Tangerang usai 5 Kali Pindah
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Keterangan Tertulis Peran Babinsa (TNI AD) dan Bhabinkamtibmas (Polri) dalam Mendukung Pelaksanaan Tugas DJP
• 3 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.