Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Gejolak Timur Tengah dan Harga Minyak Jadi Pemicu

wartaekonomi.co.id
13 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Jumat (24/7/2026) dan kembali mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda terjadi di tengah meningkatnya sentimen global akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp17.978 per dolar AS. Posisi tersebut melemah sekitar 42 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di kisaran Rp17.936 per dolar AS.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia melemah tipis 0,06% ke level 101,392. Meski demikian, indeks tersebut sebelumnya menguat 0,32% pada perdagangan Kamis (23/7/2026).

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap rupiah dipicu kembali meningkatnya eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. 

Kondisi tersebut memicu aksi risk-off di pasar keuangan global sekaligus mendorong harga minyak mentah melonjak hingga menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam dua bulan.

"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen risk off oleh eskalasi geopolitik terbaru di Timur Tengah yang melejitkan harga minyak mentah dunia," kata Lukman kepada Warta Ekonomi, Jumat (24/7/2026).

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent melonjak US$6,62 atau 7% menjadi US$100,69 per barel. Capaian tersebut menjadi level penutupan tertinggi sejak 22 Mei 2026.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$5,36 atau 6,2% menjadi US$92,19 per barel, yang juga merupakan level penutupan tertinggi sejak 4 Juni 2026.

Lukman menilai, dalam situasi saat ini belum terdapat langkah yang benar-benar efektif untuk meredam tekanan terhadap rupiah. Menurutnya, pelemahan yang terjadi lebih dipengaruhi oleh penguatan dolar AS secara global dibandingkan faktor domestik.

Baca Juga: Alih-alih Naikkan Suku Bunga, BI Pilih Obral Insentif Investor demi Jaga Rupiah

Baca Juga: Rupiah Loyo ke Rp17.920 per USD Setelah BI Tahan Suku Bunga

"Tidak ada, intervensi bisa namun tidak bijaksana karena ini adalah penguatan dolar AS yang meluas, bukan pelemahan rupiah," ujarnya.

Untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Versi Jamwas, Polri Pernah Menyerahkan Penyidikan Kasus PT ASABRI ke Kejaksaan
• 5 jam lalujpnn.com
thumb
Rp58,9 Triliun Disiapkan untuk Pemulihan Aceh, Satgas PRR Pastikan Tepat Sasaran
• 5 jam lalumedcom.id
thumb
Klaim Alami Efek Samping dari Produk Richard Lee, Saksi Doktif Awalnya Hanya Ingin Permintaan Maaf dari DRL
• 14 jam lalugrid.id
thumb
Kala MK Kabulkan Gugatan Ojol yang Persoalkan Skema Kuota Internet Hangus
• 14 jam lalukompas.com
thumb
Kejagung Bentuk Tim 9 untuk Usut Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
• 4 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.