Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan pengembangan infrastruktur perkeretaapian di Indonesia masih sangat bergantung pada pendanaan pemerintah melalui APBN, serta berbagai skema pembiayaan lainnya, salah satunya suntikan dana dari negara asing.
Dirjen Perkeretaapian Kemenhub, Allan Tandiono, menyatakan Indonesia telah memperoleh dukungan pendanaan dari sejumlah negara mitra seperti Jepang, China, dan Jerman. Ia mengatakan, pihaknya masih terbuka untuk mendapatkan dukungan dari negara lain seperti Inggris.
“Ke depan kami berharap Inggris dapat ikut berperan, tidak hanya berbisnis dengan kami, tetapi juga memberikan dukungan pembiayaan yang lebih besar agar kami dapat mempercepat pembangunan perkeretaapian,” ucap Allan dalam gelaran UK-Indonesia Railway Partnership Forum di Hotel Mandarin, Jakarta, Rabu (29/7).
Menurut Allan, pengembangan kereta perkotaan di kawasan metropolitan Surabaya atau Surabaya Regional Railway Line (SRRL) menjadi salah satu prioritas pemerintah saat ini.
“Anda mungkin bertanya mengapa Surabaya? Menurut saya, Surabaya hingga saat ini masih merupakan kota terbesar kedua di Indonesia. Itu salah satu alasannya,” tutur Allan.
Selain itu, kata Allan, Surabaya telah menjadi fokus berbagai kajian pemerintah Inggris terkait pengembangan sistem transportasi perkotaan.
“Saya rasa pemerintah Inggris telah melakukan banyak kajian dan bagaimana Inggris dapat membantu kami meningkatkan mobilitas di Surabaya,” ucap Allan.
Perdagangan RI-Inggris Capai Rp 96,19 TriliunSementara itu Komisioner Perdagangan Inggris untuk Asia Pasifik, Martin Kent, mengatakan hubungan ekonomi kedua negara terus berkembang dengan nilai perdagangan bilateral mencapai sekitar 4 miliar poundsterling atau sekitar Rp 96,19 triliun (kurs Rp 24.048).
“Yang terdiri dari sekitar 2 miliar poundsterling impor dan 2 miliar poundsterling ekspor di masing-masing pihak,” kata Martin.
Menurut Martin, Inggris terus memperkuat kerja sama pembangunan infrastruktur berkelanjutan melalui kemitraan MELAJU.
Ia menyebut salah satu keunggulan yang ditawarkan Inggris adalah dukungan pembiayaan melalui UK Export Finance, lembaga kredit ekspor tertua di dunia, yang tengah menjajaki peluang kerja sama lebih lanjut di Indonesia.
“Inggris sangat bangga dapat mendampingi Indonesia dalam perjalanan [kerja sama] ini. Bahkan, kami sudah terlihat sejak awal,” ucapnya.
Martin menekankan perusahaan-perusahaan asal Inggris telah berkontribusi dalam pembangunan proyek MRT Jakarta pertama serta mendukung kesiapan operasional LRT Jabodebek.
“Kerja sama ini melanjutkan dukungan jangka panjang melalui berbagai program Inggris seperti Future Cities dan UK Pact,” tutup Martin.





