Selama bertahun-tahun, pembangunan hampir selalu diukur melalui angka. Pertumbuhan ekonomi menjadi kabar baik. Nilai investasi menjadi indikator optimisme. Kawasan industri yang terus bertambah dianggap sebagai tanda kemajuan. Jalan tol yang membentang, pelabuhan yang diperluas, hilirisasi yang digencarkan, hingga transformasi digital yang melahirkan berbagai model bisnis baru, semuanya menjadi simbol bahwa Indonesia sedang bergerak menuju masa depan.
Indonesia memang membutuhkan pertumbuhan. Kita membutuhkan industri yang kuat, teknologi yang maju, serta ekonomi yang mampu bersaing di tengah dunia yang berubah semakin cepat. Namun, di balik semua optimisme itu, ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar berapa persen ekonomi kita tumbuh setiap tahun. Siapa yang sesungguhnya ikut bertumbuh?
Karena pada saat gedung-gedung baru berdiri di berbagai kota, masih ada petani yang menggantungkan harapannya pada musim yang semakin sulit diprediksi. Ketika ekonomi digital berkembang pesat, masih banyak nelayan yang pulang dengan hasil tangkapan yang bahkan tidak mampu menutup biaya melaut. Di tengah geliat investasi dan industrialisasi, jutaan pelaku usaha mikro dan kecil tetap berjibaku menghadapi persoalan yang nyaris tidak pernah berubah yaitu akses pembiayaan, teknologi, pasar, dan kepastian usaha. Tetapi tidak semuanya benar-benar merasakan cerita yang sama.
Di situlah paradoks pembangunan Indonesia bermula. Kemajuan ternyata tidak selalu identik dengan kebersamaan. Pertumbuhan tidak selalu berjalan seiring dengan pemerataan. Modernisasi bahkan, tanpa disadari, dapat melahirkan jarak yang semakin lebar antara mereka yang mampu mengikuti perubahan dan mereka yang terus tertinggal oleh perubahan itu sendiri. Bangsa ini tidak sedang kekurangan cerita tentang keberhasilan. Yang mulai kita kekurangan adalah cerita tentang bagaimana keberhasilan itu mampu mengajak semua orang ikut berjalan bersama.
Baca juga: ADB Optimistis Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2 Persen Meski Kawasan Melambat
Kita sering kali begitu sibuk membicarakan bagaimana mempercepat laju ekonomi sehingga lupa bertanya apakah seluruh rakyat memiliki kesempatan yang sama untuk ikut bergerak. Banyak negara gagal bukan karena tidak mampu bertumbuh. Mereka gagal karena pertumbuhan hanya menjadi milik sebagian kecil masyarakat, sementara sebagian yang lain perlahan kehilangan kepercayaan bahwa pembangunan juga sedang bekerja untuk mereka. Ketika kepercayaan mulai hilang, yang retak bukan hanya ekonomi. Yang retak adalah rasa memiliki terhadap masa depan bersama.
Setiap peradaban besar selalu dibangun oleh sesuatu yang menghubungkan. Bukan yang memisahkan. Karena itu, jika harus memilih satu metafora untuk menggambarkan tantangan terbesar Indonesia hari ini, metafora itu bukanlah gedung pencakar langit. Bukan pula jalan raya. Melainkan jembatan. Jalan mempercepat perjalanan. Jembatan memungkinkan pertemuan. Dan sebuah bangsa hanya dapat tumbuh ketika keduanya dibangun secara bersamaan.
Tanpa jembatan, dua daratan akan tetap saling memandang dari kejauhan, meskipun keduanya hanya dipisahkan oleh sungai yang sempit. Begitu pula ekonomi Indonesia. Di satu sisi berdiri sektor modern yang terus berkembang melalui investasi, industri, digitalisasi, teknologi, dan produktivitas yang semakin tinggi. Di sisi lain hidup jutaan petani, nelayan, koperasi, pelaku UMKM, pedagang pasar, serta pekerja sektor informal yang selama puluhan tahun justru menjadi fondasi ketahanan ekonomi bangsa. Masalahnya muncul ketika keduanya berkembang tanpa pernah benar-benar dipertemukan. Yang satu bergerak semakin cepat. Yang lain berusaha bertahan agar tidak semakin jauh tertinggal.
Padahal kekuatan Indonesia tidak pernah terletak pada kemampuannya membangun satu sektor yang hebat. Kekuatan Indonesia justru lahir ketika setiap lapisan ekonomi saling menopang, saling menguatkan, dan tumbuh sebagai satu ekosistem yang utuh. Sebab, ukuran kemajuan sebuah bangsa bukanlah seberapa tinggi gedung yang berhasil dibangun. Melainkan seberapa banyak jembatan yang berhasil diciptakan agar tidak ada seorang pun yang tertinggal di seberang.
Dari kegelisahan inilah lahir gagasan tentang Ekonomi Konstitusi, sebuah cara pandang yang menempatkan pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial bukan sebagai dua tujuan yang saling bertentangan, melainkan dua unsur yang saling melengkapi. Pertumbuhan tetap menjadi mesin pembangunan, tetapi arahnya harus berpijak pada amanat konstitusi untuk menghadirkan kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dalam pemikiran Burhanuddin Abdullah, ukuran keberhasilan pembangunan tidak berhenti pada besarnya investasi atau tingginya pertumbuhan. Yang sama pentingnya adalah kemampuan pembangunan menciptakan hubungan yang saling menguatkan antara sektor modern dan sektor tradisional.
Baca juga: Di Tengah Ketidakpastian Global, Ekonomi Indonesia Masih Punya Modal Kuat
Berangkat dari kerangka berpikir itu, negara tidak cukup berperan sebagai regulator. Negara harus memastikan petani, nelayan, koperasi, UMKM, dan pelaku sektor informal memperoleh akses terhadap teknologi, pembiayaan, pasar, dan rantai nilai agar transformasi ekonomi menjadi milik bersama.
Dengan cara itulah transformasi ekonomi tidak melahirkan dua arus pembangunan yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan satu ekosistem yang saling menguatkan. Pembangunan yang berkelanjutan menuntut kemampuan mempertemukan keduanya. Gagasan inilah yang tercermin dalam pemikiran Burhanuddin Abdullah mengenai pentingnya membangun jembatan antara sektor modern dan sektor tradisional.
Sektor tradisional bukanlah penghambat modernisasi. Ia merupakan fondasi sosial dan ekonomi yang selama ini menjaga daya tahan bangsa, terutama ketika menghadapi berbagai krisis. Karena itu, transformasi ekonomi tidak seharusnya menggantikan ekonomi rakyat, tetapi memperkuatnya melalui ilmu pengetahuan, teknologi, akses pasar, dan peningkatan produktivitas.
Bukan sekadar menghadirkan industri baru, melainkan memastikan bahwa setiap kemajuan membuka kesempatan baru bagi mereka yang selama ini berada di lapisan terbawah struktur ekonomi. Barangkali di situlah esensi gagasan tersebut, bahwa pembangunan bukan tentang memilih siapa yang harus didahulukan, melainkan tentang memastikan tidak ada yang tertinggal ketika bangsa ini melangkah ke depan.
Sejarah jarang mengingat angka. Namun lebih sering mengingat cara sebuah bangsa bertumbuh. Apakah kemajuan itu mempertemukan seluruh rakyatnya, atau justru memperlebar jarak di antara mereka? Pertanyaan itulah yang sesungguhnya sedang dihadapi Indonesia hari ini.
Di tengah derasnya arus investasi, percepatan industrialisasi, dan transformasi digital, bangsa ini memiliki kesempatan besar untuk melompat menjadi negara maju. Semakin tinggi sebuah bangsa melompat, semakin besar pula kemungkinan sebagian warganya tertinggal apabila pembangunan tidak dirancang sebagai perjalanan bersama. Karena itu, tantangan Indonesia bukan semata bagaimana menciptakan pertumbuhan yang lebih tinggi. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana memastikan setiap lompatan pembangunan memperluas kesempatan, memperkuat kepercayaan, dan menghadirkan rasa memiliki terhadap masa depan bersama.
Di sinilah gagasan Ekonomi Konstitusi memperoleh maknanya yang paling mendalam. Ia adalah cara memandang pembangunan. Sebuah cara pandang yang menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai sarana untuk mewujudkan amanat konstitusi yaitu menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dalam kerangka pemikiran Burhanuddin Abdullah, sektor modern dan sektor tradisional tidak boleh berjalan sebagai dua dunia yang terpisah. Keduanya harus dipertemukan agar pertumbuhan tidak hanya menciptakan kemakmuran, tetapi juga memperkokoh kohesi sosial bangsa.
Mungkin karena itulah, keberhasilan pembangunan tidak pernah cukup diukur dari tingginya gedung yang berdiri, panjangnya jalan tol yang dibangun, atau besarnya investasi yang berhasil masuk. Semua itu hanyalah alat untuk membangun bangsa yang memastikan petani, nelayan, UMKM, dan seluruh pelaku ekonomi rakyat tumbuh bersama dalam setiap lompatan pembangunan.
Sebab pembangunan yang meninggalkan sebagian rakyatnya pada akhirnya tidak sedang memperkuat negara. Ia sedang melemahkan fondasi yang menopang negara itu sendiri. Kemajuan tidak pernah lahir dari kemenangan satu kelompok atas kelompok lainnya. Kemajuan lahir ketika seluruh kekuatan bangsa bergerak ke arah yang sama.
Barangkali di situlah makna sesungguhnya dari membangun jembatan antara sektor modern dan sektor tradisional. Mempertemukan harapan dengan kesempatan. Mempertemukan kemajuan dengan keadilan. Mempertemukan pembangunan dengan kemanusiaan. Karena di sanalah sebuah bangsa menemukan alasan untuk tumbuh bersama.
Sejarah tidak pernah mengingat siapa yang tumbuh paling cepat. Karena masa depan tidak pernah ditentukan oleh seberapa cepat kita berlari, tetapi oleh seberapa banyak orang yang berhasil kita ajak berjalan bersama. Sejarah, pada waktunya nanti, mungkin hanya akan mengajukan satu pertanyaan sederhana kepada Indonesia.
Ketika kesempatan menjadi negara maju akhirnya datang, apakah kita hanya membangun jalan menuju masa depan atau kita membangun jembatan agar seluruh rakyat tiba di masa depan yang sama?
(Analis Media dan Komunikasi Publik, N.D. Santoso)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ANN)





