Dalam riset yang dipaparkan pada ajang Kaspersky Cyber Security Weekend di Guangzhou, Tiongkok, tim Global Research and Analysis Team (GReAT) menjelaskan bahwa kelompok tersebut kini menggunakan aplikasi Claude palsu sebagai umpan untuk menyusup ke organisasi di kawasan Asia Pasifik.
“SilverFox merupakan salah satu kelompok ancaman paling aktif di kawasan Asia Pasifik. Mereka menyusup ke target melalui tiga jalur sederhana, yaitu situs web palsu, email phishing, dan file berbahaya yang disebarkan melalui aplikasi pesan,” ujar Peneliti senior keamanan Kaspersky GReAT, Ye Jin.
Ye Jin menambahkan bahwa analisis terbaru Kaspersky menunjukkan kini Silverfox mendistribusikan Claude palsu untuk Windows, macOS, dan Linux dengan memanfaatkan penggunaan AI di perusahaan guna menembus pertahanan keamanan target.
Menurut Kaspersky, SilverFox pertama kali terdeteksi oleh tim GReAT pada bulan Desember 2025. Kelompok tersebut dikenal menggunakan pendekatan serangan bertahap atau multi-stage payload delivery dengan memanfaatkan infrastruktur yang terpisah untuk setiap tahap serangan.
Strategi tersebut dirancang agar aktivitas mereka lebih sulit dideteksi sekaligus mencegah seluruh rantai serangan diblokir dalam satu waktu. Dalam kampanye terbaru, SilverFox menyasar perusahaan di India, Indonesia, Afrika Selatan, dan Rusia yang bergerak di sektor manufaktur, konsultasi, perdagangan, serta transportasi.
Pelaku mengirim email phishing yang menyamar sebagai pemberitahuan resmi audit pajak atau daftar dugaan pelanggaran pajak untuk mendorong korban mengunduh arsip berbahaya. Sepanjang bulan Januari hingga Februari 2026, Kaspersky mencatat lebih dari 1.600 email berbahaya yang digunakan dalam kampanye tersebut. Asia Pasifik Menjadi Target Utama SilverFox Kaspersky menyebut kawasan Asia Pasifik menjadi wilayah yang paling terdampak oleh aktivitas SilverFox dibandingkan dengan kawasan lain di dunia. Berdasarkan data yang dikumpulkan tim GReAT, sebagian besar serangan masih terkonsentrasi di Asia, khususnya Asia Timur dan Asia Tenggara.
Greater China menjadi sasaran utama dengan lebih dari 90% seluruh serangan SilverFox mengarah ke kawasan tersebut. Dari jumlah tersebut, Tiongkok daratan menyumbang sekitar 71%. Selain itu, Myanmar, Kamboja, dan Singapura juga termasuk wilayah yang mengalami aktivitas serangan cukup tinggi.
Dari sisi industri, sektor manufaktur menjadi target terbesar dengan porsi lebih dari sepertiga seluruh serangan yang diamati. Industri teknologi informasi dan layanan berada di posisi berikutnya karena banyak pekerja teknologi menjadi sasaran email phishing. Sementara itu, sektor kesehatan dan keuangan juga menghadapi risiko tinggi karena dinilai memiliki aset dan data bernilai besar.
AI Membuat Serangan Semakin Cepat dan Sulit Dideteksi Selain mengungkap aktivitas SilverFox, Kaspersky juga menyoroti perkembangan ancaman baru berbasis AI. Salah satunya adalah JADEPUFFER yang disebut sebagai ransomware pertama di dunia yang sepenuhnya digerakkan oleh model bahasa besar atau Large Language Model (LLM).
Berbeda dengan ransomware konvensional yang masih bergantung pada operator manusia dalam mengambil keputusan, JADEPUFFER mampu menganalisis situasi, memperbaiki strategi, dan meluncurkan serangan baru secara mandiri hanya dalam waktu 31 detik setelah percobaan sebelumnya gagal.
Kaspersky menilai kemampuan tersebut menunjukkan bahwa AI kini tidak lagi hanya berperan sebagai alat bantu, tetapi telah mampu bertindak sebagai pengambil keputusan sekaligus pelaksana serangan. Kondisi ini dinilai mempercepat proses serangan sekaligus meningkatkan tingkat otonomi ancaman siber.
Tim GReAT juga menyoroti teknik ChatGPhish, yaitu metode indirect prompt injection yang memanfaatkan fitur peringkasan halaman web pada layanan AI seperti ChatGPT. Dalam teknik ini, pelaku menyisipkan instruksi berbahaya ke dalam halaman web, kemudian mendorong korban meminta AI merangkum isi halaman tersebut.
Tanpa disadari, AI dapat menyampaikan kembali tautan maupun instruksi berbahaya kepada pengguna sehingga menjadi bagian dari rantai serangan. Selain itu, Kaspersky mengungkap keberadaan VoidLink, kerangka kerja malware berbasis cloud yang sebagian besar dikembangkan menggunakan AI generatif.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa AI semakin menurunkan hambatan teknis bagi pelaku untuk menciptakan malware rumit. Menghadapi perkembangan tersebut, Kaspersky mendorong organisasi menerapkan strategi pertahanan berbasis AI.
Strategi pertahanan tersebut dari proactive threat hunting, penerapan arsitektur Zero Trust, pembangunan sistem pertahanan menyeluruh, hingga pemanfaatan AI untuk meningkatkan kemampuan deteksi dan respons terhadap ancaman.
Menurut Ye Jin, ketika pelaku memanfaatkan AI untuk mengotomatisasi setiap tahap serangan, organisasi juga harus mengandalkan tingkat kecerdasan yang sama agar mampu bertahan dari ancaman yang terus berkembang.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)





