HARIAN.FAJAR.CO.ID, TANA TORAJA – Masyarakat Lembang Gasing, Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, mengusir penggarap yang diduga melakukan aktivitas ilegal di kawasan hutan yang selama ini dijaga warga secara turun-temurun.
Tindakan itu dilakukan warga dengan memasang spanduk penolakan di lokasi sekaligus memotong tanaman yang sebelumnya ditanam para penggarap, Sabtu (8/8/2026).
Aktivitas penggarapan tersebut diduga telah mengganggu kondisi lingkungan di kawasan itu. Selain menanam ratusan pohon, penggarap disebut membendung sejumlah aliran mata air dan memanfaatkannya sebagai lahan kubangan kerbau.
Warga juga menemukan jejak kendaraan motor trail yang diduga digunakan untuk keluar-masuk kawasan tersebut.
Kepala Lembang Gasing, YL Mangguali, mengatakan kawasan yang berada di puncak gunung itu bukan sekadar lahan yang dijaga masyarakat secara turun-temurun.
Kawasan tersebut juga menjadi salah satu sumber mata air bagi sebagian wilayah Kecamatan Mengkendek serta memiliki sejarah penting dalam adat masyarakat setempat.
“Jadi ini ada sejarahnya. Kami sudah melakukan hal persuasif. Makanya saat ini setelah kami memasang spanduk penolakan,” kata YL Mangguali.
Ia menegaskan, masyarakat telah berupaya menyelesaikan persoalan tersebut secara persuasif sebelum mengambil tindakan di lokasi.
Salah seorang warga, Anto, berharap aparat keamanan ikut memantau kawasan tersebut untuk mencegah aktivitas penggarapan kembali terjadi.
“Walaupun sudah tak ada aktivitas di lokasi, kami harap aparat keamanan juga memantau agar tidak ada aktivitas kembali,” ujarnya.
Anto juga meminta aparat menindak tegas jika nantinya ditemukan pihak yang membekingi aktivitas penggarapan tersebut.
“Jadi tak peduli jika ada orang besar di baliknya. Ini tanah masyarakat dari nenek moyang dulu dan digunakan semua masyarakat, bukan hanya salah satu pihak,” tuturnya.
Di lokasi, sejumlah aliran mata air terpantau mulai mengalami perubahan kondisi. Beberapa aliran terlihat keruh, sementara sebagian lainnya disebut perlahan mulai mengering setelah adanya aktivitas penggarapan.
Masyarakat Lembang Gasing berharap kawasan tersebut tetap menjadi wilayah yang dijaga bersama, terutama karena keberadaan mata airnya dibutuhkan masyarakat di sejumlah wilayah Kecamatan Mengkendek. (edy)





