Pameran bisnis berskala Asia Tenggara tersebut mempertemukan lebih dari 150 perusahaan dari 12 negara. Investor, pelaku industri, pemerintah daerah.
IDXChannel - Taman rekreasi bukan sekadar tempat untuk mengisi waktu luang namun sudah bertransformasi menjadi magnet baru yang ikut menentukan pilihan wisatawan. Tren wisata berbasis pengalaman tersebut membuka peluang besar bagi investasi di sektor theme park, water park, hingga destinasi hiburan keluarga di Indonesia.
Peluang itu menjadi salah satu sorotan utama dalam The 6th Fun Asia Expo Indonesia 2026 yang resmi dibuka di Jakarta International Expo (JIEXPO), Kemayoran, Jakarta, pekan lalu.
Pameran bisnis berskala Asia Tenggara tersebut mempertemukan lebih dari 150 perusahaan dari 12 negara. Investor, pelaku industri, pemerintah daerah, operator taman rekreasi, hingga penyedia teknologi ikut hadir untuk melihat peluang pengembangan industri rekreasi di Indonesia.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan, perubahan perilaku wisatawan membuat industri rekreasi keluarga memiliki posisi yang semakin strategis. Wisatawan kini tidak hanya mencari tempat untuk dikunjungi, tetapi juga pengalaman yang aman, interaktif, dan meninggalkan kesan.
"Objek wisata kini bukan lagi sekadar pelengkap sebuah destinasi, tetapi telah menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan wisatawan untuk datang, tinggal lebih lama, dan membelanjakan lebih banyak uangnya," kata Ni Luh saat membuka Fun Asia Expo 2026.
Ni Luh melanjutkan, perkembangan tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat daya tarik destinasi. Taman hiburan, museum, pusat edukasi, hingga destinasi wisata buatan dapat menjadi alasan wisatawan memperpanjang masa tinggal sekaligus meningkatkan pengeluaran selama berwisata.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, Indonesia mencatat 7,45 juta kunjungan wisatawan mancanegara. Angka tersebut meningkat 5,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 630,41 juta perjalanan atau tumbuh 2,71 persen.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap aktivitas rekreasi dan pengalaman wisata masih terbuka lebar. Pemerintah pun melihat sektor tersebut sebagai salah satu peluang untuk mendorong pariwisata yang tidak hanya mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga kualitas pengalaman wisatawan.
Ni Luh mengatakan lebih dari 60 persen wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia masih berasal dari kawasan Asia. Karena itu, pemerintah memperkuat strategi pemasaran ke pasar Asia dan Oseania di tengah situasi geopolitik global yang penuh tantangan.
Menurutnya, pariwisata berkualitas harus mampu memberikan pengalaman yang bermakna, memperpanjang lama tinggal wisatawan, meningkatkan belanja wisata, sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
"Pembangunan atraksi wisata harus mengedepankan kualitas, keselamatan, keberlanjutan, aksesibilitas, dan pengalaman wisata yang inklusif," katanya.
Di sisi industri, Fun Asia Expo 2026 menjadi ruang untuk memperluas pasar sekaligus mempertemukan kebutuhan investasi dengan inovasi terbaru.
Direktur Utama PT Fun International, Rachmat Sutiono mengatakan, Fun Asia Expo sejak awal tidak hanya dirancang sebagai ajang jual beli produk. Pameran ini juga bertujuan memperbesar ekosistem industri rekreasi nasional.
Pameran tersebut pertama kali digelar pada 1997, ketika industri rekreasi Indonesia masih tergolong kecil.
"Sejak awal tujuan kami bukan saling berebut pasar yang kecil, tetapi memperbesar industrinya sehingga seluruh pelaku usaha memiliki peluang yang lebih luas untuk berkembang," kata Rachmat.
Dia melihat pasar domestik sebagai salah satu kekuatan utama industri rekreasi Indonesia. Masyarakat semakin menjadikan rekreasi sebagai bagian dari kebutuhan dan gaya hidup, sehingga peluang pengembangan destinasi hiburan keluarga masih sangat besar.
"Pasar terbesar justru berasal dari wisatawan nusantara. Karena itu kami optimistis industri rekreasi akan terus berkembang," katanya.
(Nur Ichsan Yuniarto)





