Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengungkap sejumlah persoalan dalam pendataan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satunya, temuan sekitar 6 juta data penerima yang tercatat ganda.
“Kita menemukan ada praktek lama ada data-data yang dobel, yaitu sekitar ada 6 juta,” kata Sudaryono di Kantor Kemendagri, Jakarta Pusat, Kamis (13/8).
Menurut Sudaryono, kasus data ganda tersebut dikarenakan satu nama terdaftar di dua atau lebih sekolah. Umumnya masalah ini ditemukan pada data murid pesantren.
“Biasanya misalnya orang sekolah, orang itu di pesantren, dia dicatat di pondok itu, tapi dia sekolah di SMP mana, jadi itu dicatat dobel,” ujarnya.
Namun, Sudaryono menegaskan angka 6 juta tersebut tidak berarti seluruhnya merupakan penerima yang mendapat makanan dua kali.
Sebagian data tersebut juga berasal dari dapur SPPG yang belum beroperasi tetapi sudah terinput dalam sistem.
“Tapi bukan berarti 6 juta terus kali-kali (jadi) sekian miliar, bukan,” katanya.
“Jadi 6 juta ini juga sebagian adalah dapur yang belum jadi, kemudian namanya sudah di input, sebetulnya belum diberi makan,” sambungnya.
Tarik Rp 311 Miliar dari 414 SPPG GaibSelain persoalan data ganda, BGN sebelumnya menemukan 414 dapur SPPG yang terindikasi belum ada secara fisik, tetapi sudah tercatat dalam sistem dan menerima alokasi dana.
“Yang kemarin ada 414 dapur yang kemudian kami indikasikan itu dapurnya belum ada, tapi VA-nya sudah diisi sama duit,” ujarnya.
BGN kemudian menarik kembali dana yang sebelumnya telah masuk ke rekening virtual account (VA) 414 SPPG tersebut.
“Nah itu yang kami kembalikan 311 miliar yang kami umumkan,” pungkasnya.





