EtIndonesia.com Mantan Perdana Menteri Tiongkok Zhu Rongji meninggal dunia pada pukul 11.06 tanggal 12 Agustus 2026 di Rumah Sakit 301 Beijing dalam usia 98 tahun. Menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut, pada masa-masa akhir hidupnya, setiap gerak-gerik Zhu Rongji diawasi oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Saat ini, PKT khawatir masyarakat akan memanfaatkan momentum untuk mengenang Zhu Rongji sebagai kesempatan menyampaikan ketidakpuasan terhadap kondisi kehidupan dan politik saat ini, bahkan hingga berkembang menjadi gelombang sentimen sosial yang lebih luas.
Sumber Internal: Orang-orang Cai Qi Mengawasi Zhu Rongji di Masa TuanyaSeorang sumber dari dalam sistem pemerintahan PKT yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan kepada The Epoch Times pada Rabu (12 Agustus): “Di sekitar Zhu Rongji terdapat pengawal, sekretaris, dokter, dan perawat yang ditempatkan oleh Cai Qi, Direktur Kantor Umum Komite Sentral PKT. Setiap gerak-geriknya diawasi, dan pada tahap akhir pengobatannya pun harus mendapat persetujuan Cai Qi.”
Sumber itu menilai bahwa berbeda dengan Li Keqiang, Zhu Rongji selama ini relatif lebih “patuh”.
“Setelah Zhu pensiun, ketajamannya sebagai tokoh politik menghilang. Karena itu ia bisa hidup sampai usia 98 tahun. Sebaliknya, Li Keqiang ‘tidak patuh’ dan meninggal pada usia 68 tahun,” katanya.
Sebelumnya, The Wall Street Journal pada 15 Maret 2022 menerbitkan artikel berjudul “China’s Economic Activity Contraction Exposes Xi Jinping’s Power Fractures.”
Sumber dari dalam PKT juga mengatakan bahwa pada saat itu sejumlah mantan pejabat senior PKT yang masih memiliki pengaruh politik secara terbuka menentang upaya Xi Jinping untuk mengubah sistem suksesi kepemimpinan yang telah berlaku. Zhu Rongji disebut termasuk di antara mereka yang menentang.
Pada 18 Oktober 2017, Kongres Nasional PKT ke-19 dibuka di Balai Agung Rakyat Beijing. Setelah Xi Jinping menyampaikan pidato sekitar tiga setengah jam, ia berbalik dan membungkuk, lalu seluruh hadirin berdiri dan bertepuk tangan.
Namun, Zhu Rongji, yang saat itu duduk di podium utama sebagai mantan perdana menteri, tidak ikut bertepuk tangan seperti yang lainnya.
Video tersebut kemudian memicu berbagai spekulasi. Sejumlah pihak menilai sikap Zhu saat itu “cukup halus” dan “memiliki makna tertentu”.
Elite PKT Khawatir Masyarakat Memanfaatkan Momentum untuk Menyuarakan KetidakpuasanSumber tersebut mengatakan bahwa yang kini dikhawatirkan oleh para petinggi PKT adalah: “Masyarakat memanfaatkan kesempatan untuk mengenang Zhu Rongji guna menyampaikan ketidakpuasan terhadap kondisi saat ini, bahkan membentuk sentimen sosial yang lebih luas.”
Ia mengatakan bahwa PKT pada dasarnya selalu menentang gerakan spontan masyarakat.
“PKT selalu menentang kegiatan spontan masyarakat. Terlepas dari apakah kegiatan tersebut sejalan dengan tujuan pemerintah atau tidak, mereka akan tetap waspada. Kekhawatiran utamanya adalah tindakan spontan masyarakat dapat lepas kendali dan bahkan berkembang menjadi gerakan yang menentang PKT.”
Menurutnya, kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan.
Ia mengingat kembali peristiwa setelah Hu Yaobang meninggal dunia, yang kemudian memicu gerakan mahasiswa pada 1989. Setelah itu, muncul perbedaan di kalangan elite PKT antara pihak yang mendukung tindakan keras untuk menekan gerakan mahasiswa dan pihak yang bersimpati kepada para mahasiswa.
“Deng Xiaoping melihat situasi semakin meluas dan khawatir gerakan mahasiswa terus berkembang. Ia juga khawatir Zhao Ziyang dapat menggunakan gerakan mahasiswa untuk memperluas pengaruh politiknya. Pada akhirnya, diputuskan untuk melakukan penindakan keras.”
Karena itu, apabila muncul opini publik dalam skala besar, pemerintah kemungkinan besar akan segera melakukan intervensi.
“Terhadap opini publik yang berpotensi membentuk mobilisasi sosial seperti ini, PKT tidak pernah mengendurkan pengawasannya.”
Sumber tersebut mengatakan bahwa setelah kematian Zhu Rongji, aparat PKT kini semakin memperketat pengawasan:
“Setelah Zhu Rongji meninggal, pemerintah juga akan sangat waspada terhadap perkembangan opini publik terkait dirinya. Begitu ditemukan tanda-tanda bahwa kegiatan penghormatan atau aksi mengenang mulai menyebar, situasinya kemungkinan akan segera dilaporkan kepada pusat kekuasaan tertinggi.”
Artikel ini terbit dalam bahasa mandarin di epochtimes.com dengan Judul asli: [Eksklusif] Setiap Gerak-gerik Zhu Rongji di Masa Tuanya Diawasi





