Pantau - Tim produksi serial sinematik “Rimba Raya” menghadapi sejumlah kesulitan saat menyusun adegan menggunakan kecerdasan buatan (AI), mulai dari ketidaksesuaian latar dan satwa hingga perbedaan pemahaman teknik pengambilan gambar.
Penggagas “Rimba Raya” sekaligus Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengungkapkan persoalan tersebut dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
“AI ini ternyata berbahaya kalau tidak dikuasai. Misalnya pada waktu dibuat hutan Indonesia, tapi ternyata dalam (pandangan AI) tidak ada hutan Indonesia. Adanya hutan Afrika, Amazon,” kata Rano.
Rano menjelaskan AI kerap menghasilkan gambar atau elemen yang tidak sesuai dengan keinginan tim ketika digunakan untuk menyusun latar setiap adegan.
Saat tim meminta latar hutan Indonesia, AI justru menampilkan hutan dari wilayah lain hingga memunculkan King Kong yang bukan satwa asal Indonesia.
“Jadi menurut saya memang AI itu teknologi yang belum sempurna. Harus kita sempurnakan,” kata Rano.
Storyboard Tetap Dibutuhkan dalam ProduksiVisual Director Rimba Raya Ario Rubbik mengatakan penggunaan storyboard masih diperlukan agar hasil yang dibuat menggunakan AI dapat disesuaikan dengan konsep pencipta karya.
Ario juga menghadapi tantangan karena AI memiliki pemahaman berbeda mengenai teknik pengambilan gambar dibandingkan teori perfilman yang dipelajari manusia.
“Mungkin di sini ada yang mengerti dunia film, ada medium close up-nya, dia berbeda sekali dengan medium close-up yang ada di teori film yang saya belajar di sekolah, di kampus. Beda sekali aspek rasionya juga berbeda dengan kamera-kamera film,” ucap Ario.
Sebagai pembuat film konvensional, Ario juga mengaku sempat merasa marah dan kesal selama proses produksi karena harus menghadapi perbedaan antara keinginan kreator dan hasil yang diberikan mesin.
AI Belum Sepenuhnya Memahami Bahasa IndonesiaChief Prompter Rimba Raya Farel Abid mengungkapkan kendala lain muncul dari kemampuan sejumlah platform AI dalam memahami Bahasa Indonesia.
Menurut Farel, beberapa AI asal China belum dapat memahami dan menerjemahkan Bahasa Indonesia secara optimal sehingga penggunaan Bahasa Inggris atau bahasa asal teknologi tersebut memberikan hasil yang lebih mudah dipahami mesin.
“Kalau yang dari China ini AI-nya belum bisa mengerti (Bahasa Indonesia), lebih mengerti kalau Bahasa Inggris atau bahasa native mereka sendiri,” tambahnya.
Berbagai kendala tersebut membuat tim produksi tetap membutuhkan kendali manusia dalam menyusun adegan dan mengarahkan AI agar hasil visual “Rimba Raya” sesuai dengan konsep yang telah dirancang.




