Ketika Bank Masuk Ke Lapangan Padel

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Olahraga padel bak bunga bermekaran di musim semi. Lapangan-lapangan baru bermunculan dan komunitas bertumbuh. Bukan hanya pebisnis yang menangkap peluang dari olahraga ini, perbankan pun mulai masuk ke arena padel untuk menghadirkan layanan di keseharian nasabah.

Geliat padel, antara lain, tampak di Vamos Arena by OCTO CIMB Niaga di Meruya, Jakarta Barat, Rabu (19/8/2026). Lebih dari 20 pengunjung bermain padel di area tersebut. Dentuman bola, raket, dan dinding bersahut-sahutan. Ada juga yang bersantai di pinggir arena, tribune, hingga restoran. 

Lapangan padel seluas 7.500 meter persegi ini baru beroperasi sebulan terakhir. ”Setiap hari, jumlah pengunjung tumbuh. Waktu awal-awal buka, pagi sampai siang itu sepi. Ramainya sore dan malam. Tapi, sekarang, pagi juga sudah ramai,” kata Cosmas Chandra, Co-Founder PT Vamos Arena Indonesia. 

Pagi itu, misalnya, dari 10 lapangan padel, tujuh di antaranya digunakan pengunjung. Tidak hanya bermain padel, pengunjung juga dapat menikmati santapan di restoran, layanan fisioterapi, hingga sauna dengan suhu 78 derajat celsius. Ada pula arena bermain khusus untuk anak-anak. 

”Jadi, anak-anak bisa bermain saat orangtua mereka bertanding padel. Bahkan, pernah ada yang main layangan di sini,” ujarnya. Itu sebabnya, ia menyebut konsep area padel ini sebagai one stop lifestyle atau konsep tempat yang menggabungkan kebutuhan gaya hidup, seperti olahraga, kuliner, termasuk untuk keluarga. 

Menurut Cosmas, padel sudah menjadi bagian dari gaya hidup warga kota. Biasanya, katanya, vibes atau tren olahraga tidak bertahan lama. Namun, padel masih bergeliat dalam empat tahun terakhir. Olahraga yang menggabungkan badminton, tenis, dan tenis meja ini sudah ada puluhan tahun silam. 

Pada 2021, seiring masih terjadinya pandemi Covid-19, olahraga ini mulai marak di Bali. Kala itu, katanya, sejumlah turis yang tidak bisa kembali ke negaranya membuka lapangan padel. ”Awalnya, hanya 15 lapangan padel di sana. Sekarang, sudah berkembang pesat ke berbagai kota di Indonesia,” ungkapnya. 

Baca JugaDan, Semua Terpadel-padel...

Hingga akhir tahun lalu, menurut Indonesia Padel Growth Report 2025, jumlah lapangan padel di berbagai kota mencapai 947 unit. ”Di Jakarta saja, diperkirakan ada 400-an lapangan. Saya percaya, tahun ini, jumlah lapangan padel di seluruh Indonesia sudah tembus 1.000 unit. Di Jabodetabek saja lebih 500 lapangan,” ujarnya. 

Padahal, investasi untuk membangun lapangan padel seluas 10 meter x 20 meter itu tidaklah murah. Semua komponen lapangan padel ada yang diproduksi lokal seharga Rp 400 juta. Ada juga yang beberapa komponen dibuat di China seharga Rp 700 juta. Sementara untuk komponen yang dibuat di Spanyol harganya bisa sampai Rp 1 miliar (Kompas.id, 22/6/2025).

Meskipun biayanya besar, menurut Cosmas, investasi lapangan padel cukup menjanjikan. ”Kalau dua tahun lalu, kami bangun Vamos, ROI (return of investment/periode pengembalian investasi) sekitar satu tahun. Kalau sekarang membangun, ROI-nya paling tidak dua tahun,” ujarnya.

Seiring dengan pertumbuhan lapangan padel, komunitas juga menjamur. Mengutip Indonesia Padel Growth Report 2025, jumlah klub padel meningkat hingga 295 persen. Sebagian besar adalah kelompok ekonomi menengah ke atas. Hal ini, antara lain, tergambar dari profil pengunjung di Vamos.

Pada pagi hingga siang hari, pemain padel di tempatnya umumnya merupakan pemilik bisnis (owner), sedangkan saat sore dan malam hari adalah pekerja kantoran. Tidak hanya itu, produk air minum dalam kemasan hingga platform jual beli mobil juga menampilkan brand-nya di lapangan.

Strategi perbankan

Bahkan, lima lapangan di antaranya merupakan kolaborasi dengan PT Bank CIMB Niaga Tbk. Itu sebabnya, brand OCTO, aplikasi perbankan CIMB Niaga, terpampang di sejumlah titik arena. OCTO juga hadir di arena serta fasilitas khusus bagi nasabah CIMB Niaga.

”Kolaborasi ini mempertemukan ekosistem olahraga padel dengan ekosistem digital perbankan melalui OCTO,” ucap Cosmas. Ia optimistis, arena padel dapat mendatangkan berbagai komunitas, termasuk memberikan layanan khusus untuk nasabah prioritas CIMB Niaga. 

Direktur Network dan Digital Banking CIMB Niaga Budiman Tanjung mengatakan, kolaborasi ini tidak terlepas dari tingginya minat masyarakat terhadap padel. Apalagi, olahraga ini dapat dinikmati oleh pemain, baik pehobi maupun profesional. Orang berusia di atas 50 tahun pun kerap memainkan olahraga ini.

Selain di Meruya, OCTO Arena by CIMB Niaga juga bakal hadir di Kuningan, Jakarta Selatan; serta Surabaya melalui kolaborasi dengan Padel Pro Satrio. ”Kami akan lihat perkembangan ke depannya. Lapangan padel di kawasan, seperti Makassar dan Balikpapan, kami juga mem-branding OCTO,” katanya.

Menurut Budiman, berbagai upaya itu untuk mendekatkan OCTO ke level komunitas. Sebelum ke komunitas olahraga, pihaknya sudah lebih dulu mengembangkan komunitas di bidang pendidikan, melalui tabungan sekolah anak.

”Kami ingin agar OCTO tidak hanya sebagai platform perbankan digital, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat, nasabah kami. Jadi, yang ingin berolahraga, traveling, hingga pendidikan bisa menggunakan platform ini,” ujarnya. Hingga kini, pengguna OCTO sudah berkisar 3,8 juta orang.

Direktur Consumer dan Emerging Business Banking CIMB Niaga Noviady Wahyudi menambahkan, kolaborasi dengan pengelola padel merupakan salah satu strategi untuk tetap relevan dengan nasabah dan masyarakat. Ini sesuai dengan tujuan CIMB Niaga untuk berdampak pada masyarakat.

Perbankan tidak lagi sebatas layanan keuangan, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa hadir dalam hidup, terutama keseharian nasabah.

Upaya CIMB Niaga untuk masuk ke arena padel juga tidak terlepas dari survei terhadap pelanggan. Hasil survei itu, katanya, adalah nasabah memiliki ketertarikan pada gaya hidup sehat, pariwisata, dan kesejahteraan. ”Perbankan tidak lagi sebatas layanan keuangan, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa hadir dalam hidup, terutama keseharian nasabah,” tuturnya.

Yuswohady, Managing Partner Inventure, konsultan dan jasa bisnis, menilai, strategi perbankan yang hadir di bidang olahraga, termasuk padel, tidak terlepas dari dua faktor utama. Pertama, keinginan untuk membangun branding atau persepsi yang baik tentang bisnisnya. Pembentukan citra terhadap produk perbankan ini terutama menyasar generasi Z.

”Bank ingin merangkul generasi muda, generasi Z, dengan pendekatan lebih bersifat personal. Ini karena kebanyakan nasabah bank-bank itu sudah tua,” kata Siwo, sapaan Yuswohady. Menurut dia, pendekatan berbasis komunitas itu melanjutkan transformasi digital perbankan yang mulai menguat sejak sekitar 2010. 

Faktor kedua adalah bank ingin memperluas pemasaran dan penjualannya, terutama kepada komunitas. Dengan hadir di arena olahraga, bank berupaya untuk meningkatkan transaksi nasabah di platform digital mereka. Bahkan, bank bisa menggaet nasabah baru melalui olahraga.

Baca JugaPundi-pundi Padel Pun Tebal...

Meski demikian, Siwo menilai, upaya bank untuk membangun citra dan meningkatkan transaksi tidak cukup hanya dengan hadir di arena olahraga. ”Kuncinya adalah seberapa efektif bank melakukan aktivasi komunitas agar nasabah tidak hanya masuk ke aplikasi perbankan, tetapi juga aktif bertransaksi,” ujarnya. 

Pada akhirnya, lapangan padel bukan sekadar ruang untuk memasang logo, melainkan juga arena untuk mendekatkan diri dengan komunitas nasabah. Di sana, bank berharap membangun hubungan yang lebih awet dengan nasabah.



Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kekeringan Kabupaten Malang Meluas, 7.606 Jiwa Terima Air Bersih
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Purbaya Pastikan Anggaran Penanganan Gempa di NTT Cukup: Masih Ada Ratusan Miliar
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Polri Sebut Pencekalan Febrie Adriansyah demi Kepentingan Penyidikan
• 22 jam laluokezone.com
thumb
Polda Metro Jaya dan Ditjen Pajak ungkap sindikat materai palsu
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Purbaya Tanggapi Laporan Sejumlah Daerah di NTT Belum Dapat Bantuan: Kaya Nggak Ada Koordinasi
• 17 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.