Kopi Bemo Melintasi Zaman

kompas.id
13 jam lalu
Cover Berita

Kisah itu bermula dari Rahman Lahirin yang pada tahun 1965 berjualan menawarkan kopi keliling di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, menggunakan sepeda. Saat itu Pasar Rawamangun belum dibangun dan hanya tempat orang berjualan yang disebut sebagai pasar becek.

Rahman yang melihat kawasan Rawamangun pada waktu itu dikenal sebagai pangkalan bemo lalu memberi nama dagangannya Kopi Bemo. Rahman menjajakan kopi langsung kepada orang-orang yang melintas serta membagikan sampel gratis agar siapa pun dapat merasakan kualitas racikan kopinya.

Rahman mendapatkan biji kopi pilihan dari teman pemilik pabrik kopi. Pengemasan dilakukan sederhana dengan bungkus kertas payung coklat oleh istrinya, Bertha. Bungkus dengan cap merah tertulis ”Kopi Bubuk Asli Cap Bemo”. Dari sepeda sederhana, usaha Rahman berkembang hingga pada tahun 1980-an dia memiliki toko sendiri.

Sejak 2011, toko Kopi Bemo diteruskan oleh Edward Nurjadi, generasi kedua yang melanjutkan usaha pamannya. Hingga kini, Edward terus aktif dalam kegiatan produksi, seperti yang terlihat Senin (8/6/2026), Edward mengawasi karyawannya bekerja. Pada jam tersebut, kedai dipenuhi para karyawan dan warga yang ngopi setelah makan siang di sekitar pasar. Salah satu menu andalan di kedai ini adalah Kopi O, racikan khas Kopi Bemo yakni campuran kopi robusta Lampung dan kopi robusta Vietnam.

Di antara riuhnya obrolan pengunjung, suara mesin penggiling kopi terdengar samar di lantai dua. Di tempat tersebut, Mamad tengah melayani penjualan bubuk kopi. Tangannya cekatan mengambil biji kopi dari stoples kaca. Menggiling biji kopi dan memasukkan ke dalam bungkus.

”Sudah 14 tahun saya bekerja di sini. Paling laku kopi untuk konsumsi warkop, yakni kopi robusta Lampung. Kopi robusta ukuran 250 gram dijual Rp 40.000, dijual lagi di warkop per gelas Rp 4.000. Pemilik warkop juga turun-temurun yang membeli kopi di sini,” kata Mamad.

Menurut Edward, usaha Kopi Bemo dapat bertahan lama karena memiliki penggemar setia. Pangsa pasarnya dulu adalah jualan kopi murni atau kopi bubuk. Kopi Bemo menyuplai langsung ke warung-warung kopi di sekitar Rawamangun. Kini, dalam sehari sebanyak 40 kilogram kopi dipesan untuk keperluan kedai, pesanan warung kopi dan hotel.

Kopi Bemo juga mempertahankan ciri khasnya, yaitu bungkus kopi kertas payung coklat dengan cap merah. Kini ada 50 varian kopi dari berbagai tempat di Nusantara, baik arabika maupun robusta. Di tengah gempuran cita rasa kopi yang beragam, kopi hitam pahit tidak pernah kehilangan penggemar. Seruputannya seolah menyegarkan mata dan memberi semangat untuk menjalani hari.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tangani Karhutla di Kalbar, Satgas Udara Siagakan 8 Armada
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Respons OTT KPK di Unsoed, Pengamat Usul Bentuk Posko Pengaduan saat Penerimaan Mahasiswa Baru
• 17 menit lalukompas.tv
thumb
Akses Jalan Terputus akibat Gempa di Flores NTT, Dompet Dhuafa Evakuasi Ibu Hamil
• 23 jam laludisway.id
thumb
Kemenag Siapkan Ruang Belajar Sementara Bagi Siswa Madrasah Terdampak Gempa NTT
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pengembangan Jangka Panjang Jadi Kunci Kematangan Perusahaan Keuangan
• 4 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.