Rupiah Melemah ke Rp18.074 per Dolar AS, Lonjakan Harga Minyak Dunia Picu Tekanan Pasar

pantau.com
1 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Nilai tukar rupiah melemah 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp18.074 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (23/10/2026), dipengaruhi lonjakan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan keamanan di Timur Tengah.

Rupiah sebelumnya ditutup pada level Rp18.060 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai kenaikan tajam harga minyak global menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan mata uang Indonesia.

Lonjakan harga minyak terjadi setelah serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi serta meningkatnya ancaman serangan lanjutan dari kelompok Ansarullah atau Houthi di Yaman.

Rupiah Turun 14 Poin Akibat Kenaikan Harga Minyak

Pada awal perdagangan Jumat, rupiah bergerak melemah dari posisi penutupan sebelumnya.

Mata uang Indonesia tercatat berada di level Rp18.074 per dolar AS, turun 14 poin dibandingkan posisi Rp18.060 pada perdagangan sebelumnya.

Josua mengaitkan pelemahan tersebut dengan kenaikan harga minyak internasional yang dipicu perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah.

“Harga minyak melonjak menyusul pernyataan kelompok Houthi (Ansarullah Yaman) yang mengumumkan rencana untuk menyerang infrastruktur minyak Arab Saudi di Yanbu dan Bandara Dammam,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

Pernyataan tersebut muncul ketika pasar energi internasional mencermati risiko gangguan pasokan minyak dari Arab Saudi.

Harga Minyak Brent Naik ke 111,40 Dolar AS per Barel

Mengutip laporan Anadolu, harga minyak dunia naik lebih dari dua persen pada perdagangan Kamis (22/10/2026).

Kenaikan tersebut terjadi setelah serangan pesawat nirawak terhadap ladang minyak Shaybah milik perusahaan energi Arab Saudi, Saudi Aramco.

Serangan itu meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.

Harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional naik 2,4 persen menjadi 111,40 dolar AS per barel.

Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), menguat 2,22 persen menjadi 99,30 dolar AS per barel.

Kenaikan kedua harga acuan tersebut terjadi setelah pasar sebelumnya mencatat penurunan harga minyak.

Serangan terhadap Fasilitas Energi Arab Saudi Tingkatkan Ketegangan

Serangan pesawat nirawak terhadap ladang minyak Shaybah dilaporkan menewaskan dua orang.

Peristiwa tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan fasilitas produksi dan distribusi energi di Arab Saudi.

Amerika Serikat juga memerintahkan sebagian personel beserta anggota keluarga mereka meninggalkan misi diplomatik AS di Arab Saudi.

Langkah tersebut menambah perhatian terhadap perkembangan situasi keamanan di kawasan.

Sementara itu, berdasarkan laporan Xinhua, kelompok Ansarullah Yaman telah melancarkan empat serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap Arab Saudi dalam waktu 48 jam.

Sasaran serangan meliputi Kementerian Pertahanan Arab Saudi di Riyadh dan Bandara Internasional King Fahd di Dammam.

Serangan lainnya dilaporkan menyasar fasilitas Saudi Aramco di Yanbu serta Bandara Internasional Abha di wilayah barat daya Arab Saudi.

Juru Bicara Militer Ansarullah Yahya Sarea mengklaim seluruh sasaran serangan terkena secara langsung.

Menurut klaim tersebut, serangan menyebabkan gangguan lalu lintas udara dan kebakaran pada fasilitas minyak yang menjadi sasaran.

Imbal Hasil Obligasi Pemerintah Indonesia Bergerak Beragam

Selain pergerakan rupiah, Josua melaporkan bahwa pasar obligasi pemerintah Indonesia menunjukkan pergerakan imbal hasil yang bervariasi pada Kamis (22/10/2026).

Imbal hasil obligasi pemerintah acuan tenor lima tahun berada di level 7,25 persen setelah naik 41 basis poin.

Untuk tenor 10 tahun, imbal hasil turun satu basis poin menjadi 7,42 persen.

Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 15 tahun turun empat basis poin menjadi 7,38 persen.

Adapun obligasi pemerintah tenor 20 tahun mencatat kenaikan satu basis poin menjadi 7,41 persen.

Pergerakan tersebut menunjukkan perbedaan arah perubahan imbal hasil pada masing-masing tenor obligasi pemerintah.

Volume Perdagangan Obligasi Turun, Kepemilikan Asing Berkurang

Aktivitas perdagangan obligasi pemerintah Indonesia juga mengalami penurunan pada Kamis (22/10/2026).

Volume perdagangan tercatat sebesar Rp18,28 triliun, lebih rendah dibandingkan Rp24,39 triliun pada sesi sebelumnya.

Dengan demikian, nilai perdagangan obligasi pemerintah berkurang Rp6,11 triliun dibandingkan sesi perdagangan sebelumnya.

Selain itu, kepemilikan investor asing atas obligasi pemerintah Indonesia tercatat menurun.

Hingga Rabu (21/10/2026), kepemilikan asing berkurang Rp3,66 triliun menjadi Rp914 triliun.

Jumlah tersebut setara dengan 13,02 persen dari total obligasi pemerintah Indonesia yang beredar.

Pergerakan rupiah, kenaikan harga minyak dunia, dan perkembangan pasar obligasi menjadi sejumlah indikator yang dicermati di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kekeringan Ponorogo Meluas, 1.642 Warga Bergantung pada Bantuan Air Bersih
• 45 menit laluberitajatim.com
thumb
ADB: Indonesia Tidak Pernah Telat Bayar Utang
• 23 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
David Singleton Pergi, Johannis Winar Kembali Pimpin Pelita Jaya di All Indonesian 2026
• 20 jam lalumedcom.id
thumb
Suyudi Girang Rangkap Jabatan Jadi Kapolri dan Kepala BNN saat Rilis Satu Ton Narkoba di Sumut
• 3 jam lalurctiplus.com
thumb
Danantara Gelar New Asia Forum 2026, Bidik Investasi 30 Miliar Dolar AS
• 19 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.