EtIndonesia.com Pada 20 Oktober, seorang orang tua di Hubei mengunggah video yang mengungkap bahwa putranya yang masih duduk di sekolah dasar meminta izin kepada guru untuk pergi ke toilet saat pelajaran berlangsung, tetapi permintaannya ditolak. Anak itu akhirnya terpaksa buang air kecil di celananya. Peristiwa ini memicu banyak orang tua untuk berbagi pengalaman serupa. Mereka mengatakan bahwa anak-anak mereka juga pernah mengalami kejadian yang sama.
Video yang beredar di internet memperlihatkan seorang anak laki-laki berdiri di depan pintu toilet di lorong sekolah sambil mengganti celananya. Anak itu bertelanjang kaki dan menginjak sepatunya sendiri, sambil dengan susah payah menarik celananya ke atas. Dari video tersebut terdengar suara guru yang sedang mengajar di ruang kelas di sebelahnya.
10月20日,湖北一家长发视频称,讀小學的兒子上课時向老师申请去上厕所,被拒绝,最後尿裤子裡了。 https://t.co/ZU184L1v67
— ying tang (@yingtan04410735) October 22, 2026Ayah yang merekam video itu bertanya kepada putranya, “Apa yang kamu katakan kepada guru? Katakan yang sebenarnya.”
Anak itu menjawab, “Saya bilang kepada guru, ‘Saya ingin pipis.’”
Ayahnya bertanya, “Lalu, apa kata guru?”
Anak itu menjawab bahwa gurunya “tidak mengizinkan saya pipis.”
Ayahnya melanjutkan, “Oh, jadi kamu sudah meminta izin kepada guru, tetapi dia bilang tidak boleh? Kamu yakin? Guru yang mana? Siapa namanya?”
Anak itu menjawab bahwa guru tersebut bermarga Zhang. Setelah mengetahui situasinya, sang ayah menyuruh anaknya mengambil tas sekolah dan pulang ke rumah.
Video tersebut memicu perdebatan hangat di kalangan warganet Tiongkok daratan. Di kolom komentar, sang ayah menjelaskan bahwa sekolah putranya memiliki aturan sebagai berikut: “Dalam sehari ada tujuh jam pelajaran. Hanya pada waktu istirahat setelah tiga jam pelajaran, siswa diizinkan meninggalkan kelas. Pada tiga waktu istirahat lainnya, mereka harus tetap berada di kelas untuk menulis, sedangkan satu jam pelajaran terakhir adalah waktu pulang sekolah.”
Dengan kata lain, selama sebagian besar waktu di sekolah, anak-anak tidak diizinkan meninggalkan ruang kelas dan bahkan tidak dapat pergi ke toilet.
Banyak warganet mengkritik kebijakan sekolah tersebut sebagai tindakan yang “sangat tidak manusiawi”.
Banyak pula yang mengatakan bahwa pengalaman serupa terjadi di sekolah anak-anak mereka.
“Sepertinya ini memang fenomena yang umum. Anak laki-laki saya tahun ini masuk kelas satu dan juga mengatakan hal yang sama. Guru bahasa Mandarin tidak mengizinkannya pipis. Kalau pergi ke toilet, tangannya akan dipukul.”
“Guru putri saya juga tidak mengizinkan murid-muridnya buang air kecil.”
“Anak laki-laki saya juga pernah mengalami hal seperti ini. Belakangan, saya mengatakan kepadanya bahwa hal pertama yang harus dilakukan begitu bel istirahat berbunyi adalah pergi pipis.”
Di daratan Tiongkok, siswa sekolah dasar dan menengah yang tidak bebas menggunakan toilet di sekolah sudah lama menjadi fenomena umum. Masalah ini pernah menarik perhatian publik, tetapi kondisi di lapangan tampaknya belum membaik.
Pada November 2023, topik “Siswa sekolah dasar dan menengah hampir tidak punya waktu lagi untuk pergi ke toilet” menjadi tren pencarian di berbagai platform. Seorang guru di Jinzhong, Provinsi Shanxi, mengunggah video yang mengungkap bahwa praktik “mengurung siswa di dalam kelas selama waktu istirahat” semakin parah. Sekitar 70% siswa tidak keluar dari kelas saat jam istirahat. Bahkan pada waktu istirahat panjang selama 20 menit, halaman sekolah tetap terlihat kosong.
Peristiwa tersebut memicu banyak tanggapan dari warganet Tiongkok daratan. Mereka menilai bahwa pembatasan di sekolah yang diberlakukan atas nama “keselamatan” dan “belajar” merupakan salah satu penyebab utama siswa kehilangan kebebasan untuk pergi ke toilet.
Seorang perempuan bermarga Chen dari Hangzhou mengeluhkan bahwa di sekolah dasar tempat putranya belajar, guru menetapkan aturan bahwa siswa “tidak boleh turun ke lantai bawah saat istirahat, tidak boleh berlari atau bermain, bahkan tidak boleh berbicara dengan suara keras”. Di sekolah itu juga ada guru yang berpatroli untuk memeriksa apakah ada siswa yang berlari di lorong saat jam istirahat.
Banyak orang tua melaporkan bahwa anak-anak mereka tidak diizinkan bermain di luar kelas selama waktu istirahat.
“Kami melarang anak-anak bermain di lorong. Saat istirahat, siswa bahkan tidak boleh keluar kelas. Setelah mengambil air minum dan menggunakan toilet, mereka harus segera kembali ke kelas.”
“Benar, di tempat kami anak-anak tidak boleh bermain di luar kelas saat istirahat. Mereka benar-benar dikekang. Setiap hari anak-anak dikurung di dalam kelas.”
“Tadi malam saya baru saja bertanya kepada putri saya yang duduk di kelas satu. Dia mengatakan bahwa selama istirahat 10 menit, mereka tetap berada di kelas. Bahkan untuk pergi ke toilet pun, mereka diatur untuk pergi bersama-sama. Saya benar-benar sulit membayangkannya! Ketika kita masih sekolah dulu, selama istirahat 10 menit, kami biasanya bermain bersama tiga atau lima teman. Kami bebas bermain dan berlari di kelas maupun di halaman sekolah. Sekarang anak-anak bahkan tidak memiliki kebebasan sekecil itu. Benar-benar membosankan!”
Pihak sekolah mengatakan bahwa mereka juga “serba salah” dan memiliki alasan tersendiri untuk menerapkan kebijakan “mengurung siswa”. Para guru tidak berani membiarkan anak-anak berlari atau bermain dengan bebas karena khawatir terjadi kecelakaan.
Menurut pihak sekolah, “Begitu terjadi sesuatu, sebagian orang tua akan terus-menerus menyalahkan dan menuntut pihak sekolah tanpa henti.” Situasi semacam itu dapat mengganggu kegiatan belajar-mengajar yang normal.
Laporan gabungan reporter Luo Tingting / Editor Wen Hui – NTDTV.com





