Mediaapakabar.com- Perang dingin antarkelompok organisasi masyarakat (ormas) di Sumatra Utara akhirnya pecah dan memakan korban jiwa! Wakil Komandan Komando Inti (Wadan Koti) Pemuda Pancasila Deli Serdang, Donny Pacek, tewas mengenaskan setelah diterjang timah panas di tengah jalan.
Polda Sumut langsung pasang badan dan menegaskan tidak akan memberikan ampun kepada siapa pun yang berbuat resek.
"Kami akan proses secara tegas terhadap semua pelanggaran pidana. Kami menyampaikan bahwa Polda Sumut bertindak tegas memberantas setiap aksi premanisme dan tindakan ormas yang melanggar hukum," tegas Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumut, Kombes Pol Cornelis Mangarahon Simanjuntak, Kamis (23/10/2026).
Polisi memastikan pembunuhan sadis ini dipicu gesekan panas dan persaingan kekuasaan antarkelompok ormas.
"Motivasi dari peristiwa pembunuhan berencana ini adalah persaingan antardua kelompok ormas," ungkap Cornelis blak-blakan.
Bencana berdarah ini bermula dari keributan sengit pada Minggu (18/10/2026) sore antara kubu Doni Kiboy (FKPPI) dan kubu Donny Pacek (Pemuda Pancasila). Malam harinya, markas pribadi atau rumah Fery anggota Pemuda Pancasila.diserbu secara brutal oleh kelompok lawan. Ketakutan, Fery langsung menelepon Donny Pacek untuk minta bantuan pertolongan darurat.
Mendapat kabar rekannya diserang, Donny Pacek panas dingin. Ia langsung menggalang pasukan dan membawa empat anak buahnya, Juanda, Muhammad Hatta, Muhammad Dio, dan Indra Wijaya. Mereka meluncur menggunakan mobil Toyota Yaris dengan memboyong senjata tajam hingga senapan angin.
"Ada lima orang di dalam mobil Yaris tersebut, Donny Pacek sebagai pengemudi, Indra Wijaya di samping kiri, Juanda di belakang sopir, Muhammad Dio di tengah, dan Muhammad Hatta di sisi paling kiri," jelas Cornelis merincikan isi mobil maut tersebut.
Tak cuma mobil, konvoi Donny Pacek juga dikawal delapan sepeda motor rekannya dari belakang. Namun naas, di tengah jalan menuju rumah Fery, maut sudah mengintai. Dua eksekutor berdarah dingin, Dwika Anggara Cipta (DAC) dan Afriandi Anas Limbong (AAL), sudah membuntutinya menggunakan sepeda motor Honda Beat.
Tanpa basa-basi, Dwika menyerahkan pistol yang sudah siap meledak di pinggangnya kepada AAL untuk mengeksekusi target.
"Ini ada senjata api, nanti tolong tembak," bentak Dwika kepada AAL saat itu.
Seketika motor pelaku memotong dan memepet ketat mobil Yaris yang dikemudikan Donny Pacek. Dwika langsung memberi komando maut.
"Ini dia orangnya, silakan tembak!" teriak Dwika.
Tanpa piker panjang, AAL yang dibonceng mencabut senpi dari pinggang Dwika, menoleh cepat ke kiri, dan menembak Donny Pacek hingga tewas seketika di balik kemudi!
Atas peristiwa berdarah ini, Polda Sumut mengancam keras seluruh ormas agar tak macam-macam dan segera menahan diri.
"Tidak ada tempat, tidak ada ruang bagi aksi premanisme. Kami menyampaikan kepada ormas untuk menenangkan diri, menahan diri. Percayakan kepada Polda Sumut, kami akan memproses penegakan hukum secara profesional dan transparan," pungkas Kombes Pol Cornelis. (MC/***)





