Cikini ke Gondangdia, Tempat Kuliner Legendaris Stasiun Kereta di Jakarta

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Bagi warga Jakarta, menemukan kuliner enak dan legendaris bukan perihal sulit. Bahkan, di dekat stasiun kereta ada permata kuliner yang terlalu sayang untuk dilewatkan.

Di Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat, misalnya, Minggu (25/10/2026) pukul 09.00 WIB, beberapa stan makanan sudah siap menerima pelanggan. Mulai dari makanan ringan hingga berat tersedia. Pembeli hanya perlu berjalan sebentar untuk menemukannya. 

Sudah menjadi rahasia umum, Stasiun Gondangdia bukan hanya menjadi lokasi bepergian. Tempat ini juga menjadi simpul tumbuhnya kuliner-kuliner legendaris dan digemari pengguna kereta.

Salah satu yang terkenal adalah Gudeg Jogja Bu Tinah. Lokasinya di stan makanan samping Stasiun Gondangdia.

Bentuk warungnya sederhana, hanya dua kios kecil depan beberapa meja yang diletakkan di depan. Antara kios dan meja diberi jarak, agar kendaraan bisa berlalu lalang. 

Meski di akhir pekan, beberapa orang tampak sudah mengantri di depan warung tersebut. Pembeli langsung menyebutkan paketan gudeg yang diinginkan. Sementara, beberapa pekerja sibuk mengemas makanan.

Eratinah atau yang akrab disapa Tinah (69) pemilik warung gudeg, merupakan orang Jogja asli. Ia bercerita, warung gudegnya sudah ada sejak tahun 1986.

Resep gudeg ini merupakan warisan turun temurun dari ibunya. Pada tahun 1968, dirinya merantau dari Jogja ke Jakarta, membawa warisan itu, dan menjualnya di Stasiun Gondangdia. 

Tinah menjual gudegnya dengan rentang harga Rp 15.000 - Rp 35.000 per bungkus. Rasa gudegnya berbeda dengan gudeg asli Jogja.

Menurutnya, setiap orang memiliki lidah yang berbeda-beda. Maka ketika ia berjualan di Jakarta, makanan dengan rasa dominan manis itu diubahnya sesuai kesukaan masyarakat Jakarta. 

”Lidah orang sini suka pedas, manis, dan gurih. Saya sesuaikan jadi gudeg pedas manis,” ujarnya. 

Setiap hari, Tinah berjualan mulai dari pukul 06.30 WIB. Biasanya, warung ini akan diserbu pembeli saat pagi hari untuk sarapan sekitar pukul 09.00 WIB. Tepat pukul 15.00 WIB warung ini akan tutup meski beberapa lauk masih tersisa.

Tinah menjelaskan, ketentuan itu ia buat untuk menjaga kedisiplinan siklus produksi dan penjualan. Selain itu, juga menjaga kualitas makanan yang dijualnya.

”Jam 15.00 sudah harus tutup karena kita harus persiapan bahan dan masak buat besok,” ujarnya. 

Selain untuk makan di tempat, Tinah juga melayani pemesanan untuk acara-acara tertentu. Ia menyediakan tiga pilihan penyajian seperti makan di tempat, bungkus, atau sajian kotak. Namun, penyajian kotak seringkali dipesan secara mendadak untuk acara seperti arisan. 

”Kadang orang tidak mau masak, ada acara beli sayur-sayurnya aja buat arisan. Banyak yang pesan mendadak, jadi saya sering kekurangan stok,” ucapnya. 

Berjualan selama 40 tahun, Tinah mengatakan tidak ada yang berubah dari resep gudegnya. Ia memastikan semua pembeli merasakan cita rasa yang sama. Kendati bahan makanan yang cenderung naik belakangan ini, Tinah mengatakan tetap berusaha menjaga harga gudegnya. 

Baca JugaMenyelami Cita Rasa ”Gondangdia”

”Saya tidak menaikkan harga. Saya merasa bagaimana kalau orang yang nggak punya kepingin gudeg. Kalau saya naikkan takut dia tidak cukup uangnya,” tutur Tinah. 

Kenaikan harga bahan pangan ditanggungnya sendiri. Baginya, sudah menjadi resiko bagi pedagang makanan siap santap. “Saya nggak bisa apa-apa,” ucapnya.

Cita rasa lekat tanpa perubahan dan harga yang ekonomis juga menjadi daya tarik di Warung Gudeg Bu Tinah. Salah satu pembelinya, Pramuditha (36) warga Cempaka Putih, Jakpus, memboyong keluarga kecilnya untuk menikmati sarapan gudeg di warung tersebut. Ia sudah berkali-kali makan di sini, biasanya saat ada waktu luang dan hari libur dirinya akan menyempatkan mampir. 

Menurut Pramuditha, rasa gudeg di warung tersebut sangat mirip dengan gudeg asli Jogja yang pernah dinikmatinya. Bedanya, tingkat kemanisan gudeg milik Tinah lebih bisa dinikmatinya. ”Gudeg Jogja itu manis, tapi yang ini manisnya pas, enak,” ujarnya. 

Sebelum mencoba gudeg ini, Pram dan keluarga sudah sempat menjajaki warung gudeg di Jakarta. Namun, gudeg ini masih menjadi pilihannya. Selain rasa yang enak, baginya harga yang dipatok untuk satu porsi gudeg cenderung terjangkau.

Ia memesan paket gudeg dengan ati dan ampela sebanyak tiga porsi untuk dirinya, istri, dan sang anak. Sebelum jalan-jalan, agenda mereka hari ini dimulai dengan sarapan seporsi gudeg buatan Tinah. 

”Kita berdua kerja, jadi kalau hari libur emang menyempatkan jalan-jalan sama anak. Emang rencana sarapan di sini dulu baru lanjut sekitar Gondangdia,” ucapnya. 

Tidak hanya di Stasiun Gondangdia, Jakpus, kuliner legendaris juga ada di sela-sela jalanan Stasiun Cikini, Jakpus. Saat keluar dari stasiun, deretan stan kuliner akan langsung terlihat di trotoar menuju Pasar Cikini, Jakpus.

Tepat 180 meter dari stasiun, berdiri sebuah kedai bubur ayam khas Cirebon. Kedai ini dikenal luas dengan nama Bubur Cikini H. R Sulaiman. Penamaan ini diambil dari nama pemilik usaha yakni Haji Raji Sulaiman. 

Sekitar pukul 11.20 WIB, beberapa pembeli tampak sedang menikmati makanan di kedai ini. Tidak terlalu ramai, tapi juga tidak sepi.

Raka (26) salah satu karyawan di kedai tersebut mengatakan, kedai ini sudah berdiri sejak tahun 1960. Pemiliknya sendiri merupakan generasi keempat yang mewarisi resep dan usaha bubur tersebut. 

Berbeda dari bubur ayam biasanya, Raka menjelaskan bubur Cikini jualannya memiliki rasa rempah yang khas. Bubur tersebut berwarna kecoklatan dengan campuran rempah seperti jahe, kapulaga, dan sebagainya. Sementara untuk pelengkap, menggunakan daging ayam kampung, telur kampung, dan kerupuk. 

”Menu paling disukai itu bubur telur. Jadi di atas bubur kita kasih kuning telur mentah. Setelah diaduk sama bubur hangat, telurnya bakal mateng sendiri,” ujarnya. 

Satu porsi bubur Cikini dibandrol dengan harga Rp 17.000 - Rp 30.000. Kedai ini buka dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB dengan titik ramai pada pagi dan sore hari.

Raka menjelaskan, pembelinya didominasi pekerja kantoran yang baru turun dari kereta untuk sarapan. Namun, kini beberapa pembeli dari luar kota juga datang dengan tujuan khusus mencicipi bubur cikini. 

”Kebanyakan dari jauh, ada dari Tangerang dan Bekasi,” ucapnya. 

Baca JugaBerburu Kuliner Viral di Sekitar Stasiun MRT

Selain pembeli baru, Raka mengatakan kebanyakan pembeli justru didominasi pelanggan setia yang sudah mencicipi bubur ini sejak bertahun-tahun yang lalu. Salah satunya Hendra (47) warga Jakarta Selatan yang sengaja berwisata kuliner sambil bernostalgia di sekitar stasiun Cikini bersama sang istri. 

”Niatnya emang mau wisata kuliner, kalau ke sini sore udah pasti rame. Kita coba di jam yang gak begitu ramai,” ujarnya.

Hendra bercerita sudah berkali-kali ia makan di tempat ini, pertama kali sejak masih duduk di sekolah menengah atas. Namun, dalam empat tahun terakhir dirinya tidak memiliki kesempatan untuk berkunjung kembali. Maka hari ini, ia melampiaskan kerinduan pada bubur kesukaan di masa remajanya itu. 

”Saya suka karena rasanya gak pernah berubah dan gak pernah kalah, enak dan konsisten. Buburnya ada rempah sendiri dan kaldu ayamnya meresap. Perpaduan semuanya pas,” ujarnya. 

Berjarak 650 meter dari kedai bubur Cikini, masih di sekitar stasiun ada kuliner soto khas betawi. Kedai ini dinamai kedai Soto Jakarta Bawah Rel, seperti namanya letak kedai ini memang persis di bawah rel kereta layang.

Saat dikunjungi pukul 12.40 WIB, beberapa pembeli tampak sedang menikmati hidangan soto di kedai tersebut. Tempatnya cukup terpencil, berbeda dengan stan makanan lain yang cenderung bergerombol di satu titik. Kedai ini seperti menyendiri di bawah rel kereta, hanya ada banner berukuran sedang di pinggir jalan yang menandai keberadaannya.

Ruri (45) salah satu karyawan di kedai ini bercerita, dirinya sudah 10 tahun menemani perjalanan kedai soto Jakarta bawah rel ini. Kedai ini berdiri pada tahun 1973, pemiliknya bernama Edy yang merupakan generasi ketiga pewaris resep soto tersebut secara turun temurun. 

Mengenai lokasinya yang unik, Ruri menjelaskan sedari dulu kedai ini kerap berpindah-pindah tempat. Namun, lokasinya selalu tidak jauh dari rel kereta stasiun Cikini. Maka dari itu, penamaan Soto Jakarta Bawah Rel tercetus dan menjadi identitas unik dari kedai tempat ia bekerja. 

Selain nama yang unik, Ruri mengatakan cita rasa sotonya pun berbeda dari soto betawi pada umumnya. Soto di sini menggunakan bahan yang berbeda, salah satunya kuah soto yang bukan berasal dari santan melainkan susu sapi murni. 

”Jadi lebih creamy kuahnya,” ujarnya. 

Baca JugaBlok M, Surga Kuliner Kekinian di Jakarta

Kedai ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. Biasanya pembeli akan ramai saat jam makan siang. Satu porsi soto Jakarta dibandrol dengan harga Rp 45.000, isinya bervariasi pembeli dapat memilih isian seperti daging sapi, jamur, atau campuran keduanya. 

Ruri bercerita, kedai ini dulunya bisa menerima lebih dari 100 pembeli per harinya. Bukan hanya pembeli yang baru turun dari kereta atau bekerja di sekitar stasiun, pembeli dari luar kota pun kerap mampir ke warung tersebut. 

”Ada langganan dari Bogor sama Cibubur,” ucapnya. 

Selain langganan, beberapa pembeli baru pun tampak sedang menikmati Soto Jakarta Bawah Rel. Farah (27) dan Farhan (28) warga Tangerang Selatan, misalnya, baru saja menyelesaikan urusan di Jakarta Pusat lalu mampir untuk makan siang. Ini adalah pertama kalinya mereka mencoba soto di warung ini, itupun atas rekomendasi temannya yang sudah berkali-kali mampir.

Menurut Farhan, soto betawi di warung ini memiliki keunggulan pada tekstur daging yang empuk. Meski baru pertama kali mencoba, ia merasa cocok dengan rasa dari soto tersebut. Sedikit berbeda dengan pasangannya, Farah justru merasa kurang cocok dengan cita rasa soto ini.

”Kalau aku kurang cocok karena suka yang medok, tapi ini kayak lebih ringan,” ujarnya. 

Kendati demikian, mereka merasa tidak sia-sia mencoba hidangan tersebut. Terlebih ada kesan legendaris dan rasa yang tetap konsisten dari berpuluh-puluh tahunan. 

”Teman aku sering ke sini, katanya rasanya emang enggak berubah dari dulu. Konsistensinya ok sih,” ucap Farah. 

Keberadaan beragam kuliner baik yang legendaris maupun tidak di area stasiun-stasiun kereta di Jakarta menjadi penanda hidupnya perekonomian dari mobilitas warga. Kini stasiun tidak hanya menjadi tempat bepergian, melainkan tempat menemukan kuliner enak dengan harga bersahabat. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menkeu: Tunjangan Guru dan Bansos akan Ditransfer Langsung
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Rekap Hasil Super League Hari Ini: Arema Libas Dewa, Persib Menang Dramatis
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Beberkan Politik Megawati Atasi Karhutla, Hasto: Hutan Terbakar Tak Boleh Jadi Kebun Sawit
• 2 jam lalurctiplus.com
thumb
7 Fakta Kecelakaan Mobil Listrik Tabrak 4 Mobil dan Lindas Ojol di Blok M, Hasil Tes Urine Sopir Jadi Sorotan
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Was-was Risiko Nyeri Lutut, PYFA Ungkap Alternatif Olahraga untuk Kaum Obesitas! Apa Saja?
• 7 jam laluherstory.co.id
Berhasil disimpan.