Ketua Pengurus Provinsi Karang Taruna Daerah Istimewa Yogyakarta Gusti Kanjeng Ratu Hayu mendorong agar para pemuda bergerak untuk mengambil peran dalam kehidupan masyarakat.
Hal tersebut dikatakan GKR Hayu dalam Awarding Night Bulan Bakti Nasional Karang Taruna (BBNKT) 2026 Pendopo Agung Kedhaton Ambarrukmo, Yogyakarta. Ia mengingatkan agar para pemuda bergerak untuk memberikan manfaat.
"Tahun ini, kita mengusung tema Bersatu, Bergerak, Berdampak. Bagi saya, tiga kata ini bukan sekadar slogan. Ketiganya merupakan pengingat tentang bagaimana seharusnya pemuda mengambil peran dalam kehidupan masyarakat," ujar GKR Hayu, dalam rilis yang diterima kumparan, Minggu (25/10).
Menurut dia, slogan Bersatu itu berarti para pemuda harus mampu merangkul perbedaan dan bekerja melampaui sekat-sekat.
"Bergerak berarti kita tidak berhenti pada gagasan, tetapi berani mengambil tindakan," jelas dia.
Sementara berdampak, pemuda harus hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Ia juga menegaskan, tema tersebut sejalan dengan nilai-nilai di Yogyakarta.
"Semangat tersebut sesungguhnya sangat dekat dengan nilai-nilai Yogyakarta. Kita mengenal tepa slira, yaitu kemampuan menempatkan diri dan menghargai sesama, guyub rukun, yang mengajarkan pentingnya kebersamaan, serta gotong royong, yang mengingatkan bahwa persoalan bersama hanya dapat diselesaikan dengan kepedulian bersama," tegas dia.
Ia pun meminta agar para pemuda tetap berpegang teguh pada nilai-nilai tersebut di tengah kemajuan zaman dan perkembangan teknologi.
"Di tengah perubahan zaman, nilai-nilai tersebut semakin penting untuk menjadi pegangan generasi muda. Kita boleh bergerak dengan teknologi baru, menghadirkan inovasi, dan menjangkau dunia yang semakin luas, tetapi jangan sampai kehilangan kepekaan terhadap lingkungan dan sesama," imbuh dia.
Ia juga berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu jalannya kegiatan ini. Ia ingin apa yang sudah dicapai dan dilihat hari ini di Yogyakarta dapat memberikan letupan semangat baru.
"Saya berharap semangat Bulan Bakti Nasional ini tidak berhenti ketika panggung dibongkar dan lampu festival dipadamkan. Mari kita bawa pulang inspirasi dari Yogyakarta, lalu mewujudkannya menjadi aksi nyata di desa, kalurahan, kelurahan, dan komunitas masing-masing," kata GKR Hayu.





