Menteri Energi, Perdagangan, dan Industri Singapura Tan See Leng mengatakan bahwa Singapura telah melakukan survei geofisika noninvasif pada tahun lalu, untuk menilai potensi energi panas bumi untuk pembangkitan listrik. Survei yang melibatkan konsorsium konsultan global tersebut menghasilkan temuan penting.
Menurut Tan, Singapura memiliki dua sumber air panas. Meskipun jumlahnya tidak cukup untuk menyediakan pemandian air panas seperti yang ada di Jepang. Tapi, hasil kajian awal menunjukkan bahwa sumber panas ini berpotensi memproduksi 60 kali konsumsi listrik Singapura.
“Konsorsium memperkirakan potensi teknis energi panas bumi untuk pembangkitan listrik mencapai lebih dari 60 kali konsumsi listrik tahunan Singapura yang berkisar 60 terawatt-jam. Dengan demikian, potensi teknisnya diperkirakan mencapai sekitar 3.600 terawatt-jam,” ujarnya saat berpidato dalam acara tahunan Otoritas Energi Singapura (EMA), Singapore International Energy Week, di Singapura, Senin (26/10).
Bila terealisasi, energi panas bumi ini disebut berpotensi memasok kebutuhan listrik Singapura selama sekitar 60 tahun ke depan. Maka itu, EMA akan menunjuk tim ahli untuk mengkaji kelayakan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi di Singapura.
Pengembangan Menantang: Tersimpan Berkilo-kilometer di Bawah Tanah Singapura yang PadatTan mengakui bahwa pengembangan pembangkit panas bumi ini tidak mudah. Pasalnya, sumber daya panas bumi yang dimaksud berada beberapa kilometer di bawah permukaan tanah.
“Jumlah listrik yang pada akhirnya dapat dihasilkan akan bergantung pada biaya dan kelayakan teknis untuk mengambil sumber daya tersebut, serta kemajuan teknologi pengeboran dalam,” kata dia.
Selain itu, kepadatan kawasan perkotaan akan turut memengaruhi jumlah pembangkit panas bumi yang dapat dibangun. “Keselamatan harus selalu menjadi pertimbangan utama," ujarnya/
Tan mengatakan bahwa Singapura masih dalam tahap awal menjajaki kemungkinan pemanfaatan panas bumi. Pemerintah Negeri Merlion kemungkinan baru akan memutuskan untuk memanfaatkan atau tidak setelah melakukan pengkajian panjang selama bertahun-tahun.
“Namun, seperti yang telah saya sampaikan berkali-kali, tidak ada opsi yang kami tutup di Singapura,” kata dia.
Selain panas bumi, Singapura tengah mengupayakan berbagai cara untuk memperkuat ketahanan energinya. Dari mulai diversifikasi pemasok gas dan listrik hijau hingga diversifikasi pembangkit di dalam negerinya.
Selain pembangkit listrik panas bumi, Singapura tengah serius mengkaji kemungkinan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Sambil mengupayakan opsi-opsi tersebut, Singapura agresif mengoptimalkan lahan terbuka untuk pembangkit listrik tenaga surya dan pembangkit gas yang bisa beroperasi dengan campuran bahan bakar hidrogen.
Saat ini, sekitar 95 persen listrik Singapura dipasok oleh pembangkit tenaga gas. Pada 2025, sekitar 43 persen pasokan gas alamnya berasal dari gas yang dikirim melalui pipa dari Singapura dan Malaysia. Sedangkan sisanya, berasal dari gas alam cair atau LNG yang dikirim dari berbagai negara.




