Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin, bergerak melemah 55 poin atau 0,30 persen menjadi Rp18.135 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.080 per USD, dinilai karena pengaruh kekhawatiran terhadap fiskal Indonesia.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp18.116 per USD, dari sebelumnya Rp18.069 per USD.
Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi menilai pelemahan rupiah itu dipengaruhi kekhawatiran terhadap fiskal Indonesia kembali meningkat seiring kenaikan harga minyak global.
"Kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) melalui peningkatan biaya impor minyak dan beban subsidi energi serta kompensasi kepada Pertamina," ujar Ibrahim kepada Antara, Senin, 26 Oktober 2026.
Mengutip Anadolu, harga minyak dunia melonjak pada Jumat, 23 Oktober 2026, dengan minyak mentah Brent mencapai level tertinggi sejak Juni 2022, di tengah kekhawatiran serangan baru AS terhadap Iran dan meningkatnya ketegangan regional yang mengancam pasokan energi.
Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, naik 2,7 persen atau USD3,06 menjadi USD116,20 per barel sejak Jumat, 23 Oktober 2026 pukul 13.50 GMT, melampaui level tertinggi yang tercatat pada awal perang.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi acuan AS, menguat 3,04 persen atau USD3,02 menjadi USD102,50 per barel, level tertinggi dalam lima pekan terakhir.
Ilustrasi mata uang rupiah dan dolar AS. Foto: dok MI/Usman Iskandar.
Baca Juga :
Rupiah Dibuka ke Rp18.090/USD Senin PagiSepanjang pekan lalu, harga Brent telah meningkat sekitar lima persen, sedangkan WTI naik sekitar tiga persen. Kenaikan tersebut membuat kedua acuan harga minyak itu berpeluang mencatat penguatan mingguan selama tiga pekan berturut-turut.
Lonjakan harga minyak terjadi seiring meningkatnya perkiraan Washington dapat kembali melancarkan serangan terhadap Iran dalam beberapa pekan mendatang. Presiden AS Donald Trump pada Kamis, 22 Oktober 2026 mengatakan negaranya mungkin akan melakukan serangan tambahan terhadap Iran. Para pejabat AS dan Zionis Israel disebut telah menyusun rencana untuk melancarkan kembali serangan setelah pemilihan umum paruh waktu AS.
Selain itu, ketegangan regional juga meningkat ketika kelompok Ansarullah di Yaman terus melancarkan serangan terhadap Arab Saudi, sehingga memicu kekhawatiran mengenai ancaman terhadap infrastruktur energi. Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan personel yang tidak memiliki tugas penting untuk meninggalkan Arab Saudi.
"Meskipun kenaikan harga minyak dapat meningkatkan penerimaan negara dari sektor migas, manfaat tersebut berpotensi tidak cukup untuk mengimbangi kenaikan belanja energi, terutama apabila harga BBM (bahan bakar minyak) domestik tetap dipertahankan untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi," ujar Ibrahim.
Dengan demikian, persistensi harga minyak yang tinggi dapat dinilai mempersempit ruang fiskal dan meningkatkan risiko terhadap pencapaian target defisit APBN. Apabila merujuk pada sensitivitas APBN 2026 terhadap perubahan asumsi dasar ekonomi makro, kata dia, kenaikan yield SBN (Surat Berharga Negara) dan depresiasi rupiah adalah dua dari tiga asumsi makro yang sensitif terhadap pelebaran defisit APBN.
Kenaikan setiap 0,1 persen yield SBN dapat memperlebar defisit sebesar Rp1,9 triliun, sedangkan depresiasi rupiah setiap Rp100 per USD bisa menambah defisit Rp800 miliar. Apa yang menjadi masalah, menurut dia, yaitu gejolak pada yield SBN dan rupiah dibarengi dengan kenaikan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) yang memiliki sensitivitas terbesar kepada defisit APBN. Setiap kenaikan USD1 per barel dinyatakan dapat memperlebar defisit hingga Rp6,8 triliun.
"Asumsi ICP sampai dengan akhir September 2026 sudah meleset jauh dari target APBN USD70 per barel ke USD91,9 per barel," kata dia.
"Biaya impor energi bisa membuat kantong negara semakin kering, hal ini terbukti dari belanja subsidi dan kompensasi sampai 30 September 2026 yang telah mencapai Rp376,8 triliun atau naik 54,1 persen (year on year/YoY)," ujar dia.




