JAKARTA, KOMPAS — Pesatnya pertumbuhan pemakaian akal imitasi (AI) generatif di Asia Tenggara belum diikuti dengan kebiasaan penggunaan aplikasi berbayar. Masyarakat masih mengandalkan skema gratis. Untuk memperoleh keuntungan, perusahaan teknologi mengembangkan cara lain untuk mengomersialkan AI, mulai dari menerapkannya di sektor belanja daring hingga finansial.
Berdasarkan laporan riset E-Conomy SEA 2026 yang dirilis oleh Google, Temasek, serta Bain & Company (21 Oktober 2026), adopsi AI generatif di Asia Tenggara telah mencapai 243 juta pengguna dalam waktu kurang dari tiga tahun. Angka ini setara dengan 58 persen dari populasi penduduk usia kerja di Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Filipina.
Laporan riset tahunan itu mengklaim, tingkat adopsi AI generatif di kawasan Asia Tenggara empat kali lebih cepat dibandingkan tingkat penggunaan internet seluler. Tingkat adopsi internet seluler butuh waktu lebih dari satu dekade untuk mencapai tingkat penetrasi yang sama.
“Hambatan untuk mencoba aplikasi AI generatif rendah. Dengan adanya pilihan gratis atau model freemium, serta persyaratan awal yang minimal, aplikasi AI generatif dapat digunakan untuk aktivitas sehari-hari mulai dari pekerjaan, membantu studi, hingga hiburan,” tulis laporan E-Conomy SEA 2026 dikutip Senin (26/10/2026).
Namun, pertumbuhan pengguna tersebut belum sepenuhnya diikuti peningkatan langganan berbayar. Laporan yang sama memperkirakan, baru sekitar 1–2 persen dari total populasi enam negara utama Asia Tenggara yang memiliki akun pribadi di aplikasi AI generatif berbayar. Sebagian besar pengguna masih memanfaatkan versi gratis.
Ada sejumlah alasan yang mendorong individu pengguna mau meningkatkan pemakaian aplikasi AI generatif ke mode berbayar. Pertama, model AI lebih canggih. Kedua, batas pemakaian lebih tinggi. Ketiga, keluaran AI lebih akurat, andal, dan berkualitas.
Penghematan waktu dan perlindungan privasi bukan alasan tidak mau berlangganan.
Saat diwawancarai CNBC International, Florian Hoppe, mitra di Bain & Company, menjelaskan, pengusaha teknologi telah menemukan cara lain untuk menciptakan nilai komersial dari AI. Mereka mulai menawarkan AI ke pelaku industri.
Tujuannya agar AI generatif dimanfaatkan untuk meningkatkan tingkat konversi transaksi, menangani pertanyaan rutin pelanggan, dan membuat karyawan lebih fokus ke tugas lain. Dengan demikian secara tidak langsung, konsumen individu ‘membayar’ AI generatif.
Bagi dunia bisnis, mereka untung. Sebab, pembeli dapat menggunakan AI untuk membandingkan produk yang kompleks, seperti barang elektronik, agar sesuai kebutuhan mereka. Hal seperti ini mampu mendorong tingkat konversi sebesar 10 persen dan rata-rata nilai belanja per pesanan naik hingga 75 persen.
Pemanfaatan AI tidak terbatas pada belanja daring saja. Teknologi ini sekarang membantu wisatawan merencanakan perjalanan, membuat iklan digital menjadi lebih efektif, serta mempermudah pemesanan layanan transportasi daring dan pesan-antar makanan.
Menurut laporan E-Conomy SEA 2026, pasar perjalanan daring di Asia Tenggara diproyeksikan tumbuh 10 persen menjadi 59 miliar dolar AS sampai akhir 2026. Pendapatan dari media daring yang di dalamnya termasuk iklan digital dan layanan streaming diperkirakan meningkat 22 persen menjadi 44 miliar dolar AS, sementara sektor transportasi daring dan pesan-antar makanan diprediksi tumbuh 15 persen menjadi 44 miliar dolar AS.
Di sektor finansial, teknologi AI generatif membantu konsumen mendeteksi penipuan. Akses pengajuan kredit lebih mudah. Rekomendasi produk keuangan pun semakin dipersonalisasi.
Google, dalam pernyataan resmi di blog perusahaan yang dikutip Senin (26/10/2026), mengatakan, otomatisasi telah berkembang luas di Asia Tenggara. Masyarakatnya semakin akrab dengan teknologi AI sehingga membuka jalan bagi sistem perdagangan berbasis agen AI (agentic commerce) diterapkan di berbagai layanan sehari-hari.
Hanya saja, menurut Google, pengguna mengharapkan adanya kejelasan dan batasan pengamanan agar merasa nyaman memakai kemampuan agen AI. Misalnya, perlindungan privasi yang kuat, transparansi apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan, dan kemampuan membatalkan transaksi yang dilakukan oleh agen AI.
Shopee termasuk jajaran perusahaan di Asia Tenggara yang memanfaatkan teknologi AI generatif. Aplikasi lokapasar ini sekarang menangani sekitar 80 persen pertanyaan pelanggan melalui robot percakapan (chatbot) berbasis AI generatif. Biaya per transaksi pelanggan di Shopee akhirnya bisa dipangkas 30 persen dari tahun ke tahun.
Belum lama ini, Sea Limited selaku induk Shopee mengumumkan memperluas kemitraan dengan Google melalui Google AI Futures Fund. Melalui kemitraan ini, divisi inovasi Sea Labs akan memperoleh akses ke model AI mutakhir milik Google.
“Ambisi kami untuk menjadi perusahaan yang berbasis AI (AI-native) melampaui sekadar peningkatan atas apa yang kami lakukan sekarang. Hal ini juga mencakup upaya untuk menemukan apa yang bisa kami bangun demi masa depan,” ujar Forrest Li, Chairman dan Chief Executive Officer Sea.





