Kepala Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pemerintah tengah mengkaji model family office di delapan negara untuk merumuskan skema yang sesuai diterapkan di Indonesia.
Hal ini diutarakan Luhut saat menjawab pertanyaan bagaimana cara pemerintah memastikan agar family office tidak dijadikan sebagai tax heaven.
“Kalau itu kita, kan, sudah melihat international best practice saja. Jadi bagaimana yang terjadi di Singapura, kita belajar bagaimana yang terjadi di Abu Dhabi, di Dubai, di Gujarat. Ada delapan negara yang kita buat studi,” kata Luhut usai rapat di Kantor DEN di Jakarta Pusat, Selasa (27/10).
Menurut dia, pemerintah masih merumuskan model yang cocok untuk Indonesia sebelum skema family office dijalankan. “Dari situ kita rumuskan kira-kira mana yang paling cocok buat kita,” imbuhnya.
Luhut Proyeksi Konflik Timur Tengah Bisa Berlanjut 2-3 TahunLuhut juga memperkirakan konflik di Timur Tengah berpotensi berlanjut dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Dalam skenario terburuk tersebut, harga minyak dunia diperkirakan tetap tinggi.
“Kita tidak melihat ada harapan untuk segera berdamai dalam 2-3 tahun ke depan. Ya, kita berharap lebih cepat, tapi kita membuat worst case scenario, kalau itu terjadi, maka harga minyak itu tetap akan tinggi,” tambahnya.
Luhut mengatakan ketidakpastian geopolitik tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam upaya Indonesia menarik investor asing.
Dia menyebut sejumlah orang kaya, termasuk dari kawasan Timur Tengah, telah menemuinya dan menyampaikan minat untuk mempertimbangkan Indonesia sebagai lokasi investasi.
Menurut Luhut, Bali secara khusus turut disebut sebagai salah satu lokasi yang diminati. Namun, para calon investor tersebut juga mempertanyakan kepastian hukum di Indonesia.
Dengan demikian, kepastian hukum menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan pemerintah dalam menyiapkan ekosistem investasi dan merumuskan model family office.





