Pekalongan, ERANASIONAL.COM – Sekolah yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk menuntut ilmu justru berubah menjadi mimpi buruk yang menakutkan.
Seorang siswa kelas VI Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, berinisial K, diduga menjadi korban perundungan kejam hingga mengalami trauma psikologis mendalam.
Bukannya riang gembira menimba ilmu bersama teman-teman, hari-hari K kini dipenuhi rasa takut yang luar biasa. Bocah tak berdosa itu bahkan dilaporkan mengalami gangguan tidur parah, susah makan, hingga menolak keras untuk mengenakan seragam sekolahnya lagi.
Derita berkepanjangan ini dibongkar langsung oleh sang ayah, Febi Firdaus (34), saat mengisahkan kondisi pilu anaknya. Ia menceritakan bahwa mimpi buruk anaknya bermula sejak K pindah ke SDN Langkap 2 Kedungwuni saat duduk di bangku kelas III.
Semenjak saat itu, K diduga kerap mendapatkan kekerasan fisik dari teman-teman sekelasnya secara beruntun. Aksi perundungan tersebut terus berlanjut tanpa henti saat ia naik ke kelas IV dan V, hingga puncaknya meledak ketika korban menginjak kelas VI.
Perubahan drastis pada diri K mulai dirasakan keluarga setelah insiden-insiden menyayat hati tersebut menumpuk. Jika dulu bocah malang itu masih mau dibujuk agar berangkat ke sekolah, kini ia menunjukkan penolakan ekstrem dan ketakutan yang nyata.
“Jangankan berangkat sekolah, kegiatan sehari-harinya saja berubah drastis. Makannya susah, bahkan kemarin sempat dua sampai tiga hari tidak tidur sama sekali,” ungkap Febi dengan nada pilu, Rabu (28/10/2026).
Tekanan mental yang begitu hebat membuat kondisi psikologis K terguncang hingga memicu perubahan perilaku yang tidak biasa di rumah. Korban sempat beberapa kali mengamuk, memukul adiknya sendiri, hingga menunjukkan sikap agresif kepada sang ibu tercinta.
Melihat kondisi fisik yang sempat drop disertai demam, keluarga sempat membawanya berobat ke puskesmas terdekat. Namun, melihat gelagat dan kondisi mental korban yang mengkhawatirkan, pihak medis menyarankan agar K segera dilarikan ke poli kesehatan jiwa.
Setelah demamnya mereda, keluarga langsung berkonsultasi dengan dokter spesialis kejiwaan atau psikiater untuk memulihkan mental sang buah hati. Febi mengaku sama sekali tidak menyangka mental anaknya bisa terpukul sedrastis itu akibat ulah teman sekolahnya.
“Saat ini kondisinya hanya diam kalau diajak bicara sama orang tua,” tambah Febi lirih, menggambarkan betapa tertutupnya sang anak sekarang akibat trauma yang membekas.
Meski dilanda kekecewaan mendalam, secercah harapan mulai muncul setelah pihak sekolah dan keluarga terduga pelaku mendatangi kediaman mereka. Mediasi dilakukan untuk mencari jalan keluar terbaik demi memulihkan kondisi mental bocah malang yang sudah dua pekan absen sekolah ini.
Febi mengapresiasi iktikad baik pihak sekolah dan para wali murid yang bersedia bertanggung jawab serta mendampingi proses pemulihan K. Termasuk di dalamnya komitmen untuk membantu segala fasilitas kesehatan jiwa yang dibutuhkan demi kesembuhan sang anak.
“Alhamdulillah, sudah ada iktikad baik dari pihak sekolah maupun orang tua murid yang berkonflik. Mereka bersedia mendampingi untuk selanjutnya, termasuk terkait fasilitas kesehatan yang dibutuhkan,” ujarnya penuh syukur.
Kasus memilukan ini kini menjadi tamparan keras sekaligus pelajaran mahal bagi dunia pendidikan di Kabupaten Pekalongan. Febi berharap pihak sekolah tidak hanya berhenti pada tahap mediasi damai semata, melainkan benar-benar mengawal pemulihan putranya hingga pulih total.
Lebih jauh, ia berpesan agar peristiwa kelam ini menjadi yang terakhir kalinya dan tidak boleh terulang kembali pada anak-anak lainnya. Sekolah harus kembali ditegakkan sebagai zona bebas kekerasan yang benar-benar melindungi psikis dan fisik setiap siswanya.
“Harapan saya, pertama, anak saya cepat sembuh. Kedua, ke depannya, baik di sekolah ini maupun di sekolah-sekolah lain, jangan sampai terjadi lagi hal-hal seperti ini,” pungkas Febi tegas. (em-aha)





