JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah tidak lagi terjadi di enam provinsi prioritas pada Jumat (30/10/2026). Saat ini, titik api tidak lagi terdeteksi di Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, pola karhutla yang terjadi sudah mengalami perubahan dalam beberapa hari terakhir. Menurut dia, saat ini sudah tidak ada lagi laporan karhutla di enam provinsi prioritas tersebut.
"Saat ini, pola-polanya sudah berubah sekali, dari Sumatra bagian utara, selatan, maupun di Jambi kemarin itu. Saat ini, serta di Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, maupun Kalimantan Selatan (sudah tidak ada lagi api)," kata dia saat konferensi pers secara daring, Jumat sore.
Meski begitu, sejumlah wilayah lain dilaporkan masih terjadi karhutla. Beberapa wilayah yang masih terdampak karhutla adalah Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua Selatan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Berton menyebutkan, total luas lahan yang masih terbakar di lima wilayah itu mencapai 1.410 hektare. Kebakaran paling luas dilaporkan terjadi di Papua Selatan, dengan luas lahan yang masih terbakar mencapai 502 hektare.
Sementara itu, karhutla di Sulawesi Tengah membakar lahan seluas sekitar 295 hektare, Sulawesi Tenggara 257 hektare, Maluku 182 hektare, dan Kalimantan Timur ada 174 hektare.
Menurut Berton, pihaknya masih terus menyiagakan armada udara untuk melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) dan water bombing. Saat ini, terdapat 58 unit pesawat dan helikopter yang masih siaga menangani karhutla.
"Beberapa pesawat juga masih tetap kami gunakan untuk melakukan penyemaian NaCl maupun dry ice," kata dia.
Berdasarkan data BNPB, pada Kamis (29/10/2026), OMC dilakukan di wilayah Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan. Di du wilayah tersebut, OMC dilakukan dengan 23.900 kilogram NaCl maupun dry ice atau es kering. OMC yang dilakukan itu disebut berhasil membuat hujan di dua wilayah tersebut.
"Kita berharap sebenarnya hujan-hujan seperti ini tetap terjadi sehingga titik-titik api, bara api yang ada di bawah permukaan dapat dipadamkan secara sempurna," ujar Berton.
Kualitas Udara di IKN tak Sehat
Khusus di wilayah Kalimantan Timur, BNPB mencatat saat ini masih ada kebakaran paling luas terjadi Kabupaten Kutai Kertanegara dengan luas 76 hektare dan Kota Samarinda seluas 40 hektare. Sementara ituz di Kutai Timur terdapat 21 lahan terbakar, Kutai Barat 10 hektare, Penajam Paser Utara 2,16 hektare, dan Paser 1,5 hektare.
Berton mengatakan, kualitas udara di wilayah itu secara umum berada pada kategori sedang. Namun, terdapat beberapa wilayah yang memiliki kualitas udara tidak sehat, termasuk di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN).
"Di Sendawar dan tiga titik pemantauan kami di IKN, tercatat ada kualitas udara yang tidak sehat," ujar Berton.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar. Dengan begitu, masyarakat dapat memproteksi diri dari ancaman kesehatan akibat dampak karhutla, terutama bagi kelompok yang rentan.
"Meskipun titik api telah berkurang, kewaspadaan tetap ditingkatkan mengingat kondisi sumber air yang masih mengering, karakteristik lahan gambut, angin bisa memengaruhi kecepatan dari pembakaran ini, serta banyak akses yang sulit untuk dijangkau oleh tim kami," kata dia.