Yield SBN Tembus 7,7 Persen, Suahasil Pastikan Pembiayaan APBN Tetap Kredibel

idxchannel.com
3 jam lalu
Cover Berita

Kenaikan imbal hasil obligasi negara ke level 7,7 persen dinilai mencerminkan transmisi tekanan pasar keuangan global terhadap instrumen surat utang pemerintah.

Yield SBN Tembus 7,7 Persen, Suahasil Pastikan Pembiayaan APBN Tetap Kredibel. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menegaskan lonjakan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) yang menyentuh level 7,7 persen pada akhir Oktober 2026 tetap dikelola dalam koridor pembiayaan anggaran yang terukur. 

Kementerian Keuangan memastikan penarikan pembiayaan utang tetap dijalankan sesuai target APBN guna menjaga kesinambungan belanja negara yang adaptif di tengah pengetatan likuiditas global.

Baca Juga:
Pramono Bakal Temui Suahasil Hari Ini, Bahas Rencana Obligasi Daerah

Kenaikan imbal hasil obligasi negara ke level 7,7 persen dinilai mencerminkan transmisi tekanan pasar keuangan global terhadap instrumen surat utang pemerintah. Kendati biaya dana atau cost of fund mengalami penyesuaian, otoritas fiskal menegaskan penarikan pembiayaan tetap berpatokan pada target yang telah dipatok dalam undang-undang anggaran.

"Pembiayaan kita sudah disampaikan di APBN dan kita jalankan sehingga bisa menciptakan APBN yang kredibel, termasuk menuntaskan pembiayaan yang memang harus dijalankan," ujar Suahasil selepas acara Rapimnas Kadin Indonesia, di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Baca Juga:
Bunga Surat Utang Pusat Naik, Suahasil Wanti-Wanti Rencana Obligasi DKI

Penarikan pembiayaan melalui penerbitan surat utang tersebut diarahkan langsung untuk menjamin kesinambungan pos-pos belanja prioritas nasional. Pemerintah merancang alokasi pengeluaran kas negara dengan ruang gerak yang adaptif agar mampu meredam rambatan gejolak eksternal.

"Pembiayaan yang kita tuntaskan itu adalah untuk belanja negara yang selalu kita rancang supaya fleksibel merespons situasi yang berkembang," ujar Suahasil.

Baca Juga:
Suahasil Temui Pramono di Balai Kota, Bahas Transportasi Hingga Program LPDP 

Dinamika pasar obligasi saat ini tidak terlepas dari kombinasi fluktuasi harga komoditas energi serta era suku bunga acuan global yang masih bertahan di level tinggi. Di tengah eskalasi risiko tersebut, pemerintah mengandalkan fleksibilitas fiskal sebagai peredam kejut guna menjaga momentum pemulihan ekonomi domestik.

"APBN memang harus fleksibel menghadapi kondisi global, harga komoditas yang volatile, dan suku bunga yang meningkat di berbagai negara, karena APBN adalah alat menyejahterakan, menumbuhkan, dan melindungi masyarakat yang harus tetap dipercaya bisa bekerja dengan baik," ujar Suahasil

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pertamina Sebut Hasil Uji Pertalite di Sumbar Sesuai Spesifikasi
• 16 jam lalukompas.id
thumb
Video: MSCI Ancam Bursa Saham, MI Perkuat Manajemen Risiko Likuiditas
• 14 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Batu Bara Sitaan Samin Tan Laku Rp264 Miliar, ke Mana Uang Hasil Lelangnya?
• 14 jam laludisway.id
thumb
Gelagapan Ditanya Kampus, Pria Berjas Almamater Undira Ngaku Dibayar di Acara Deklarasi Sumpah Pemuda
• 22 jam lalugrid.id
thumb
TelkomGroup Dorong Kolaborasi Pengembangan National AI Data Center Hub
• 22 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.