jpnn.com, JAKARTA - Founder Baswara Institute Affandi Affan mengapresiasi langkah tegas dan respons cepat Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto terkait polemik penggeledahan Pondok Pesantren Hamalatul Quran di Sukoharjo, Jawa Tengah.
Respons cepat dan ketegasan Kapolri tersebut berujung pada pencopotan Kapolres Sukoharjo.
BACA JUGA: Singgih Januratmoko DPR Dukung Pembentukan Ditjen dan Alokasi Khusus untuk Perkuat Pondok Pesantren
Menurut Affandi, langkah yang diambil Kapolri menunjukkan kepemimpinan yang responsif terhadap dinamika dan aspirasi masyarakat.
Hal tersebut sekaligus menjadi bukti komitmen Polri dalam menjaga profesionalitas institusi, kepercayaan publik, serta memastikan setiap persoalan mendapatkan perhatian serius.
BACA JUGA: PMII UNJ Menuntaskan Mapaba di Pondok Pesantren
"Saya mengapresiasi ketegasan dan respons cepat Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto. Ini merupakan bentuk kepemimpinan yang patut diapresiasi. Ketika muncul persoalan yang menjadi perhatian publik, Kapolri mampu mengambil langkah cepat dan tegas sebagai bentuk tanggung jawab institusi kepada masyarakat,” ujar Affandi dalam keterangannya pada Selasa (3/11/2026).
Dia menilai kepercayaan masyarakat merupakan modal utama bagi institusi kepolisian dalam menjalankan tugas menjaga keamanan, ketertiban, serta penegakan hukum.
BACA JUGA: Pondok Pesantren LP3IA Al-Quran Narukan Himbau Masyarakat Jaga Kondusivitas
Oleh karena itu, respons cepat pimpinan Polri terhadap persoalan yang berkembang di tengah masyarakat merupakan langkah penting dalam menjaga legitimasi dan kepercayaan publik.
Sebagai advokat dan praktisi hukum, Affandi menegaskan bahwa penegakan hukum harus senantiasa berpedoman pada prinsip profesionalitas, proporsionalitas, transparansi, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia.
"Penegakan hukum tidak boleh kehilangan dimensi kemanusiaan. Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan dan pembinaan moral yang memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, setiap tindakan aparat penegak hukum harus tetap memperhatikan prosedur, etika, serta perlindungan terhadap hak-hak masyarakat,” tegasnya.
Sebagai Aktivis Angkatan Muda Muhammadiyah, Affandi juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang, bijak, dan tidak terburu-buru membangun persepsi negatif terhadap institusi Polri maupun mudah terprovokasi oleh berbagai pemberitaan dan narasi yang cenderung menyudutkan kepolisian terkait insiden penggeledahan pondok pesantren di Sukoharjo.
Menurutnya, masyarakat perlu melihat persoalan ini secara utuh, jernih, dan objektif. Langkah cepat dan tegas Kapolri dalam merespons persoalan tersebut justru menunjukkan kepemimpinan yang terbuka terhadap aspirasi publik dan memiliki komitmen kuat dalam menjaga profesionalitas institusi.
Dia mengingatkan jangan sampai satu peristiwa membuat kita terburu-buru membangun persepsi negatif terhadap institusi Polri secara keseluruhan.
"Saya melihat langkah cepat dan ketegasan Kapolri dalam merespons persoalan ini sebagai wujud kepemimpinan yang responsif, bijaksana, dan memiliki komitmen kuat dalam menjaga kepercayaan masyarakat," ujarnya.
Lebih lanjut, dia mengatakan langkah tersebut menunjukkan bahwa Polri senantiasa berupaya hadir, mendengarkan aspirasi publik, serta memastikan profesionalitas dalam menjalankan tugas sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.
Dia mengatakan kita membutuhkan Polri yang kuat, profesional, dan dipercaya masyarakat.
Oleh karena itu, dia mengajak untuk menjaga kepercayaan publik, tidak memperkeruh suasana, dan mendukung langkah-langkah positif yang dilakukan Kapolri.
"Kritik tetap diperlukan, tetapi harus disampaikan secara konstruktif dan berdasarkan fakta,” ujar Affandi.(fri/jpnn)
Redaktur & Reporter : Friederich Batari




